Jakarta – Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si., Presiden Universitas Darunnajah, mendapat kehormatan sebagai pemateri dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Center for Indonesian Reform. Acara FGD ini mengusung tema “Tantangan Pendidikan dan Pesantren di Era Digital: Meningkatkan Moralitas Anak Bangsa,” yang bertempat di Acara akan digelar di Ruang GBHN, Gedung MPR RI, Senayan, Jakarta, pada Kamis, 21 November 2024 mendatang.
FGD ini akan dibuka oleh Wakil Ketua MPR RI, Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, M.A., yang akan memberikan pandangannya mengenai peran pesantren sebagai benteng moralitas bangsa. Selain Dr. Sofwan, diskusi ini juga akan menghadirkan Prof. Dr. Sukro Muhab, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, dan Dr. Aan Rohanah, Lc., M.Ag., Pembina Aliansi Perempuan Peduli Indonesia, sebagai narasumber utama. Para pakar ini akan membahas berbagai strategi serta tantangan pendidikan dan pesantren dalam menjaga moralitas anak bangsa di era digital yang penuh tantangan.
Pertemuan ini akan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan pesantren, termasuk praktisi, pimpinan lembaga pendidikan, pakar, serta pengamat pendidikan. Kehadiran perwakilan santri dan mahasiswa juga diharapkan untuk memberikan sudut pandang generasi muda dalam menghadapi pengaruh era digital.
FGD ini berfokus pada penguatan nilai moralitas di kalangan generasi muda. Di era digital ini, pendidikan memiliki peran krusial dalam menanamkan nilai-nilai luhur yang tetap relevan meski dunia bergerak semakin cepat. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, diharapkan mampu menjawab tantangan ini dengan tetap mengedepankan pendidikan karakter yang kuat di tengah transformasi digital.
Dengan adanya kolaborasi dan pandangan dari para pemateri yang kompeten, FGD ini diharapkan menjadi wadah untuk menemukan solusi konkret yang bisa diimplementasikan dalam lembaga pendidikan, terutama pesantren. Acara ini menjadi langkah penting dalam membentuk karakter anak bangsa yang tangguh menghadapi dinamika era digital tanpa melupakan identitas moral dan budaya Indonesia.




