Tanggal 28 Oktober selalu jadi momen istimewa bagi generasi muda Indonesia. Di hari itu, kita memperingati Sumpah Pemuda—ikrar suci yang menyatukan pemuda dari berbagai daerah untuk mengaku satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Tapi, pertanyaannya sekarang, apakah semangat itu masih hidup di era digital ini?
Sebagai remaja, kita sering melihat Sumpah Pemuda hanya sebagai teks yang dihafalkan di sekolah. Padahal, maknanya jauh lebih dalam. Sumpah Pemuda adalah panggilan untuk bergerak, bersatu, dan berkontribusi bagi negeri. Di era sekarang, bentuk perjuangannya mungkin bukan lagi mengangkat senjata, tapi menjaga persatuan lewat hal-hal kecil—seperti melawan hoaks, menebar kebaikan di media sosial, dan menghargai perbedaan.
Islam pun mengajarkan nilai yang sama tentang persatuan. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan umat, termasuk bangsa, lahir dari persatuan dan saling menghormati.
Ulama besar, KH. Hasyim Asy’ari, juga pernah berpesan bahwa cinta tanah air (hubbul wathan minal iman) adalah bagian dari iman. Artinya, mencintai Indonesia bukan sekadar rasa bangga, tapi juga bentuk ibadah—asal diwujudkan dalam tindakan yang positif.
Jadi, kalau dulu para pemuda 1928 bersumpah dengan kata, maka pemuda hari ini harus bersumpah dengan aksi. Mulailah dari diri sendiri: rajin belajar, aktif berkarya, dan menjaga moral di dunia nyata maupun maya. Karena di tangan generasi muda-lah, semangat Sumpah Pemuda terus hidup dan berkembang.
Ingat: jadi pemuda hebat bukan hanya yang viral, tapi yang berdampak nyata!
Penulis: Rain Surya Leksana
✨Rooted in tradition, leading in education✨
Link Pendaftaran: pendaftaran.darunnajah.ac.id
Follow Us:
Instagram: @univ.darunnajah
Facebook: Universitas Darunnajah Jakarta
Tiktok: univ_darunnajah




