Zaman boleh berubah, tapi semangat Sumpah Pemuda tetap relevan. Dulu, pemuda Indonesia bersatu lewat satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Kini, generasi muda punya tantangan baru: bagaimana menjaga persatuan di tengah dunia digital yang serba cepat dan penuh perbedaan.
Rebranding Sumpah Pemuda bukan berarti mengubah isinya, tapi menghidupkan kembali semangatnya dengan cara kekinian. “Satu bahasa” bisa dimaknai sebagai kemampuan berkomunikasi positif—baik di dunia nyata maupun dunia maya. “Satu cinta” berarti rasa kasih sayang terhadap sesama anak bangsa, tanpa membeda-bedakan suku, agama, atau status sosial. Dan “satu aksi” adalah bukti nyata, bahwa cinta Indonesia harus diwujudkan dalam tindakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa cinta sejati bukan sekadar ucapan, tapi diwujudkan lewat sikap saling menghormati, menolong, dan menjaga persaudaraan. KH. Hasyim Asy’ari juga pernah menasihati, “Pemuda harus menjadi pengikat, bukan pemecah.” Sebuah pesan yang terasa sangat relevan di era perbedaan pendapat dan konflik digital saat ini.
Generasi Z adalah generasi kreatif. Lewat konten positif, kampanye sosial, dan inovasi digital, semangat Sumpah Pemuda bisa dikemas ulang agar tetap hidup di dunia modern. Jadilah pemuda yang berani bersuara, tapi tetap beradab.
Karena Indonesia tidak hanya butuh pemuda yang bangga mengaku cinta tanah air, tapi juga yang mau beraksi nyata untuk merawatnya. Mari satukan bahasa kita dalam kebaikan, cinta kita dalam persaudaraan, dan aksi kita dalam perubahan.
Penulis: Rain Surya Leksana
✨Rooted in tradition, leading in education✨
Link Pendaftaran: pendaftaran.darunnajah.ac.id
Follow Us:
Instagram: @univ.darunnajah
Facebook: Universitas Darunnajah Jakarta
Tiktok: univ_darunnajah




