Pernahkah kita bertanya, apa yang sebenarnya membuat kita tetap kokoh di Era Vuca saat ini? Apakah itu pengetahuan yang kita miliki, visi besar yang kita cita-citakan, atau mungkin sesuatu yang lebih mendalam—akar yang menghunjam dalam dan tak tergoyahkan?
Pertanyaan sebagai refleksi yang seharusnya menggugah kita, terutama dalam konteks pesantren di Indonesia, sebagai pusat pendidikan dan dakwah yang telah berabad-abad menjadi penjaga moral bangsa.
Salah satu lembaga pendidikan di Indonesia memiliki moto, “Rooted in Tradition, Leading in Education,” memberikan kita jawaban yang begitu relevan. Ia mengajarkan bahwa untuk melangkah maju, kita harus berpijak pada akar tradisi. Filosofi ini bukan sekadar slogan. Ia adalah pengingat bahwa segala yang besar dimulai dari dasar yang kuat, dari nilai-nilai yang tak tergoyahkan oleh waktu.
Dalam bukunya, The Practice of Groundedness, Brad Stulberg menjelaskan bahwa groundedness atau “kehidupan yang berakar” adalah tentang keseimbangan, keberanian untuk tetap hadir dalam setiap momen dan kemampuan untuk terhubung dengan apa yang benar-benar penting.
Filosofi ini menginspirasi kita untuk melihat ulang bagaimana kepemimpinan dan dakwah di pesantren dapat menghadapi tantangan zaman dengan cara yang lebih manusiawi.
Pesantren adalah rumah dari nilai-nilai tradisional yang menghidupi masyarakat Indonesia. Tetapi di balik kekokohannya, pesantren bukanlah entitas yang kebal dari perubahan. Ia seperti pohon besar yang harus menghadapi badai globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial yang tak terhindarkan. Akar tradisinya mungkin kokoh, tetapi ia membutuhkan pemimpin dan strategi dakwah yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi.
Seorang kiai—pemimpin di pesantren—bukan hanya guru, tetapi juga seorang pembimbing spiritual. Di era modern ini, kiai menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Bukan hanya tentang mengajarkan hukum-hukum agama, tetapi juga tentang bagaimana membantu santri menemukan kedamaian di tengah dunia yang penuh hiruk-pikuk.
Dalam bahasa Stulberg, ini adalah tentang “menghadirkan diri sepenuhnya di setiap momen,” tentang mengingatkan santri bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian besar, tetapi juga tentang kebahagiaan kecil yang sering kali kita abaikan.
Di pesantren, kepemimpinan adalah soal hati. Seorang pemimpin tidak hanya memimpin dengan visi, tetapi juga dengan empati. Ia memahami bahwa santri, guru, dan masyarakat memiliki tantangan yang berbeda-beda. Kepemimpinan seperti ini adalah bentuk groundedness yang sejati.
Kepemimpinan yang grounded berarti memimpin dengan mendengarkan, bukan hanya berbicara. Ia berarti hadir sepenuhnya untuk memahami kebutuhan orang-orang yang dipimpin. Pola kepemimpinan seperti ini berarti tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang kuat.
Ada sebuah cerita dari seorang kiai di Jawa yang selalu berjalan kaki ke masjid setiap subuh, bahkan ketika ia sudah tua dan lemah. Ketika ditanya mengapa ia tidak beristirahat saja, ia menjawab dengan tenang, “Karena santri-santri saya tidak hanya mendengar kata-kata saya, mereka juga melihat langkah-langkah saya.” Inilah esensi groundedness: kepemimpinan yang menginspirasi bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan keteladanan.
Begitupn juga dengan dakwah. Dakwah adalah seni menyentuh hati manusia. Tetapi bagaimana dakwah dapat relevan di era digital ini, ketika orang-orang lebih sering menghabiskan waktu di depan layar daripada di majelis ilmu?
Dalam The Practice of Groundedness, Stulberg berbicara tentang pentingnya “membangun hubungan yang autentik.” Dakwah yang grounded berarti menyampaikan pesan-pesan Islam dengan cara yang membangun hubungan nyata, bahkan di dunia maya.
Pesantren memiliki potensi besar untuk memanfaatkan teknologi dalam dakwah. Media sosial, video pendek, bahkan podcast dapat menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. Tetapi ini harus dilakukan dengan bijaksana. Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Ia harus digunakan untuk menyampaikan pesan yang mendalam, bukan hanya sekadar mengikuti tren.
Dakwah yang grounded juga berarti tidak melupakan akar spiritualitas. Sebuah pesan yang kuat adalah pesan yang lahir dari hati yang tulus. Ketika kiai atau ustaz menyampaikan dakwah, ia harus berbicara bukan hanya dengan ilmunya, tetapi juga dengan kemanusiaannya. Dakwah bukan tentang menyampaikan kebenaran dengan keras, tetapi tentang menyentuh hati manusia dengan lembut.
Kita hidup di dunia yang penuh dengan tekanan dan distraksi. Di tengah kebisingan ini, groundedness memberikan jawaban yang sederhana namun mendalam: hadir sepenuhnya di setiap momen, kembali kepada apa yang benar-benar penting. Bagi pesantren, groundedness adalah tentang menjaga nilai-nilai inti sambil tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Pesantren adalah tempat di mana generasi muda dibentuk untuk menjadi pemimpin masa depan. Tetapi lebih dari itu, pesantren juga harus menjadi tempat di mana mereka diajarkan untuk menjadi manusia yang utuh—yang kuat dalam intelektual, emosional, dan spiritual.
Moto “Rooted in Tradition, Leading in Education” memberikan pesan yang begitu kuat: inovasi tanpa tradisi adalah kehampaan, tetapi tradisi tanpa inovasi adalah stagnasi. Pesantren harus menjadi lembaga yang mampu menjembatani keduanya, tempat di mana akar tradisi bertemu dengan cahaya perubahan.
Pada akhirnya, kepemimpinan dan dakwah bukanlah tentang teori besar atau strategi yang rumit. Ia adalah tentang menjadi manusia. Ia adalah tentang memahami bahwa di balik setiap tantangan ada peluang untuk menjadi lebih baik, lebih bijak, lebih manusiawi.
Pesantren adalah akar moral bangsa ini. Tetapi akar ini harus terus dirawat agar tidak lapuk oleh waktu. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tulus. Kita membutuhkan strategi dakwah yang tidak hanya efektif, tetapi juga menyentuh hati.
Sebagaimana pohon yang kokoh berdiri di tengah badai, pesantren harus menjadi tempat di mana generasi baru menemukan pijakan yang kuat untuk melangkah maju. Di era yang penuh ketidakpastian ini, groundedness adalah jawaban. Ia adalah panggilan untuk kembali kepada nilai-nilai yang memberikan makna, kepada tradisi yang menghidupkan, dan kepada Tuhan yang memberikan arah.
Sudahkah kita siap untuk melangkah? Jika ya, maka mari kita bersama-sama menjaga pesantren sebagai tempat di mana akar tradisi bertemu dengan langit harapan. Mari kita menjadi manusia yang grounded—yang kuat dalam iman, penuh kasih dalam tindakan, dan selalu rendah hati dalam kepemimpinan. Sebab, kepemimpinan sejati dimulai dari hati.
Oleh: Muhammad Irfanudin Kuniawan
Dosen Universitas Darunnajah

