Selama bertahun-tahun, banyak organisasi meyakini bahwa manusia akan bekerja lebih baik jika diberi penghargaan ketika berhasil dan dikenai sanksi ketika melakukan kesalahan. Keyakinan tersebut melahirkan berbagai sistem reward and punishment yang hingga kini masih menjadi fondasi dalam pengelolaan sumber daya manusia. ADVERTISEMENT Logika ini tampak masuk akal. Penghargaan mendorong orang untuk mencapai target, sedangkan hukuman membantu menjaga disiplin dan kepatuhan. Karena itu, pendekatan ini banyak diterapkan di perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi sosial, hingga instansi pemerintahan. Namun, realitas dunia kerja saat ini berkembang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu.
Organisasi tidak hanya membutuhkan individu yang patuh terhadap aturan, tetapi juga mereka yang mampu berinisiatif, berkolaborasi, beradaptasi, dan menghasilkan solusi atas berbagai perubahan yang terjadi. Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan. Apakah manusia benar-benar hanya digerakkan oleh hadiah dan hukuman? Ataukah terdapat kebutuhan yang lebih mendasar yang membuat seseorang tetap bersemangat meskipun tidak sedang diawasi atau dijanjikan imbalan tertentu? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa motivasi yang hanya bersumber dari faktor eksternal sering kali menghasilkan kepatuhan yang bersifat sementara.
Ketika penghargaan berhenti diberikan atau ancaman hukuman tidak lagi dirasakan, dorongan untuk mempertahankan perilaku positif cenderung ikut melemah (McAnally & Hagger, 2024). Sebaliknya, motivasi yang tumbuh dari dalam diri biasanya lebih stabil dan bertahan lebih lama. Perasaan dihargai, dipercaya, didengarkan, serta diperlakukan secara manusiawi terbukti berkontribusi terhadap keterlibatan kerja, kepuasan, dan komitmen seseorang terhadap organisasinya (McAnally & Hagger, 2024).
Perubahan cara pandang inilah yang kemudian mendorong munculnya perhatian terhadap konsep kindness strategy. Jika sebelumnya kebaikan lebih sering dipahami sebagai nilai moral pribadi, kini banyak kalangan manajemen mulai melihatnya sebagai pendekatan yang memiliki nilai strategis bagi organisasi. Meskipun istilah kindness strategy belum berkembang sebagai teori manajemen yang mapan dengan satu tokoh pencetus tertentu, gagasan mengenai kebaikan sebagai pendekatan strategis mulai mendapat perhatian sejak tulisan Rayport (2012) di Harvard Business Review. Perkembangannya kemudian diperkuat oleh berbagai kajian kepemimpinan yang menempatkan kebaikan sebagai faktor penting dalam membangun kepercayaan, keterlibatan, dan keberlanjutan organisasi (Caldwell, 2017; Haskins et al., 2018).
Dengan kata lain, kebaikan tidak lagi dipandang sekadar sebagai sikap personal yang bersifat individual, tetapi mulai dilihat sebagai sumber daya sosial yang dapat memperkuat efektivitas organisasi dalam jangka panjang. Secara sederhana, kindness strategy merupakan upaya membangun lingkungan yang dipenuhi penghargaan, empati, perhatian, dan kepedulian. Pendekatan ini tidak menghilangkan standar kinerja ataupun akuntabilitas, tetapi mengubah cara organisasi membangun hubungan dengan orang-orang yang bekerja di dalamnya.
ADVERTISEMENT Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan karakter tenaga kerja. Banyak pekerja masa kini tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga menginginkan pekerjaan yang bermakna, hubungan kerja yang sehat, keseimbangan hidup, serta lingkungan yang mendukung kesehatan mental mereka. Tidak mengherankan jika sejumlah organisasi mulai mengevaluasi pendekatan manajemen yang terlalu berorientasi pada kontrol.
Fokus pengelolaan manusia perlahan bergeser dari sekadar mengawasi perilaku menuju upaya menciptakan lingkungan yang memungkinkan individu berkembang secara optimal. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemimpin yang memperlihatkan kebaikan memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis karyawan. Mereka yang merasa dihormati dan diperhatikan cenderung mengalami tingkat stres yang lebih rendah serta kepuasan kerja yang lebih tinggi (Bozaci & Gürer, 2024). Dampak tersebut tidak berhenti pada aspek emosional. Lingkungan kerja yang dipenuhi interaksi positif juga mendorong munculnya perilaku konstruktif seperti saling membantu, berbagi pengetahuan, dan memberikan kontribusi melampaui tuntutan formal pekerjaan yang dimiliki seseorang. Pada titik ini, kebaikan tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai sikap personal.
Ia mulai menunjukkan peran sebagai aset organisasi yang mampu membangun kepercayaan, memperkuat hubungan sosial, dan menciptakan fondasi yang lebih kokoh bagi keberlanjutan organisasi. Dalam kehidupan sehari-hari, praktik ini sebenarnya tidak asing. Ketika seorang atasan memilih memahami penyebab kesalahan bawahannya sebelum memberikan penilaian, ia sedang membangun budaya kerja yang lebih sehat tanpa harus mengorbankan standar yang telah ditetapkan.
Hal serupa dapat ditemukan di perguruan tinggi. Ketika dosen membuka ruang dialog untuk memahami kesulitan yang dialami mahasiswa, proses pembinaan sering kali menghasilkan perubahan yang lebih bermakna dibandingkan pendekatan yang hanya berfokus pada konsekuensi akademik. Di lingkungan pesantren, prinsip yang sama sesungguhnya telah lama dikenal. Disiplin tetap ditegakkan, tetapi dibarengi dengan keteladanan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat santri. Pendekatan seperti ini kerap melahirkan kepatuhan yang lebih sadar dan berkelanjutan.
Dalam kehidupan keluarga pun pola yang sama sering terlihat. Anak yang merasa didengarkan dan dihargai biasanya lebih mudah memahami nilai tanggung jawab dibandingkan anak yang hanya dibesarkan melalui ancaman atau hukuman yang terus-menerus. Berbagai temuan terbaru menunjukkan bahwa perilaku penuh empati dan kepedulian mampu meningkatkan motivasi intrinsik serta kualitas hubungan kerja. Bahkan tindakan sederhana seperti mendengarkan dengan sungguh-sungguh dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja seseorang (Choi & Ko, 2024). Fenomena ini turut menjelaskan mengapa banyak organisasi mulai memberi perhatian pada konsep psychological safety.
Ketika individu merasa aman untuk menyampaikan pendapat, mengakui kesalahan, dan mengusulkan gagasan baru, kreativitas serta inovasi cenderung berkembang lebih baik. Sebaliknya, lingkungan yang terlalu menekankan hukuman sering membuat orang memilih diam. Mereka enggan mengambil risiko, takut melakukan kesalahan, dan akhirnya hanya menjalankan tugas sebatas yang diperintahkan tanpa keberanian untuk berinovasi. Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, perkembangan ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma.
Fokus pengelolaan manusia bergerak dari pendekatan berbasis kontrol menuju pendekatan berbasis pemberdayaan yang lebih memperhatikan kebutuhan manusia secara utuh. Pergeseran tersebut sejalan dengan berkembangnya konsep human-centered management. Pendekatan ini menempatkan manusia bukan sekadar sebagai faktor produksi, tetapi sebagai aset strategis yang memiliki kebutuhan psikologis, sosial, emosional, dan bahkan spiritual yang perlu diperhatikan. Meski demikian, bukan berarti reward and punishment kehilangan relevansinya. Penghargaan dan sanksi tetap diperlukan untuk menjaga keteraturan, keadilan, dan akuntabilitas organisasi.
Persoalannya bukan pada keberadaannya, melainkan ketika seluruh sistem motivasi hanya bertumpu pada dua instrumen tersebut. Organisasi masa depan tampaknya membutuhkan keseimbangan yang lebih bijaksana. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap martabat manusia. Kinerja dan kemanusiaan tidak lagi dipandang sebagai dua hal yang saling bertentangan. Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan apakah kebaikan dapat menggantikan reward and punishment.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana organisasi mampu mengintegrasikan kebaikan ke dalam budaya dan sistem kerjanya sehingga produktivitas dan kesejahteraan dapat tumbuh bersama. Mungkin masa depan organisasi tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak memberi hadiah atau paling keras menjatuhkan hukuman. Masa depan justru dapat ditentukan oleh siapa yang paling mampu memanusiakan manusia. Ketika kebaikan menjadi strategi, organisasi tidak hanya menghasilkan kinerja yang lebih baik, tetapi juga melahirkan individu yang bertumbuh dan menemukan makna dalam pekerjaannya.
Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Darunnajah, Mastur

