Seringkali kami ditanya apa sebenarnya yang membedakan seseorang yang terus melangkah dengan mereka yang diam di tempat? Apakah karena kecerdasan, keberuntungan, atau kesempatan? Atau mungkin, jawabannya jauh lebih mendasar—kesadaran.
Kesadaran adalah pijakan pertama dalam setiap perjalanan perubahan. Ia adalah saat ketika kita berhenti berlari tanpa arah, menatap cermin diri, dan bertanya: Apakah ini yang Allah inginkan dariku? Dalam diam, pertanyaan ini bisa membuat kita meneteskan air mata. Tapi justru di situlah letak kekuatannya—ia memaksa kita untuk berhenti mengabaikan hidup dan mulai meresapi tujuan dari penciptaan kita.
Kalau kita pernah menemukan sebatang pohon di tengah gurun. Pohon itu tidak bisa memilih tempat ia tumbuh, tetapi ia bisa memilih untuk bertahan hidup. Akarnya menyelam lebih dalam mencari air, cabangnya merentang lebih luas demi menangkap sinar matahari. Kesadaran pohon itu terhadap kebutuhannya menjadi kunci untuk bertahan. Sama seperti pohon itu, kita tidak selalu bisa mengendalikan keadaan. Tapi kesadaran akan siapa diri kita dan apa yang kita inginkan menjadi pijakan untuk berubah.
Kesadaran membawa kita dari kehidupan yang otomatis menjadi kehidupan yang penuh arti. Tanpa kesadaran, kita seperti kapal yang terombang-ambing di lautan, digiring oleh angin tanpa arah yang jelas. Tapi saat kita sadar, kita menjadi nahkoda. Kita memegang kemudi, menentukan tujuan, dan memilih jalur perjalanan.
Kita sering berharap dunia berubah. Kita ingin pekerjaan yang lebih baik, hubungan yang lebih harmonis, atau masyarakat yang lebih adil. Tapi, seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi, “Be the change you wish to see in the world.” Perubahan dunia tidak pernah dimulai dari luar; ia selalu dimulai dari dalam.
Ketika kita sadar, kita tidak lagi menyalahkan keadaan. Sebaliknya, kita mulai bertanya: Apa yang bisa aku lakukan? Di sini, perubahan menjadi mungkin. Kesadaran membawa kita pada keputusan untuk bertindak, meskipun langkah pertama mungkin terasa berat.
Tentu, perubahan sering kali menakutkan. Ada kenyamanan dalam kebiasaan lama, meskipun kebiasaan itu menyakitkan. Tapi, seperti yang tertulis dalam salah quots “Take the risk. If it scares you, pursue it more.” Ketakutan adalah tanda bahwa kita sedang mendekati sesuatu yang berharga.
Kesadaran memampukan kita untuk melihat ketakutan, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai undangan untuk tumbuh. Ketika kita menyadari bahwa rasa takut adalah bagian dari proses, kita bisa melangkah dengan keberanian. Dan di ujung ketakutan itu, kita sering menemukan versi diri kita yang lebih kuat dan lebih bijaksana.
Kesadaran tidak datang dengan sendirinya. Ia adalah pilihan yang harus kita buat setiap hari. Saat bangun di pagi hari, kita bisa memilih untuk menjalani hidup seperti kemarin—tanpa arah, tanpa tujuan. Atau, kita bisa memilih untuk sadar: sadar akan waktu yang kita miliki, potensi yang belum tergali, dan peluang yang ada di depan mata.
Kesadaran adalah pangkal dari semua perubahan. Ia adalah momen ketika kita berkata, “Aku tidak mau lagi hanya bertahan. Aku ingin berkembang.” Dari kesadaran itu, kita belajar untuk bertanggung jawab atas hidup kita, menerima tantangan, dan bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.
Hari ini, tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya hidup dengan sadar? Jika belum, ambillah waktu sejenak untuk berhenti dan merenung. Karena perubahan dimulai bukan dari orang lain, bukan dari dunia luar, tetapi dari diri kita sendiri—dan itu semua dimulai dengan kesadaran.
Mari kita sadari hidup ini, karena di sanalah letak pangkal dari semua perubahan besar.
Ulujami, 10 Januari 2025
Muhammad Irfanudin Kurniawan
Dosen Universitas Darunnajah

