Setelah 12 Hari Perang: Menunggu Keajaiban Wilayah Faqih

Muhammad Irfanudin Kurniawan
Dosen Universitas Darunnajah

Geopolitik Timur Tengah terus menjadi arena ketegangan yang melibatkan banyak aktor internasional, dengan hubungan antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat menjadi inti dari konflik-konflik besar. Konflik yang dimulai pada 13 Juni 2025, antara Iran dan Israel, dengan keterlibatan Amerika Serikat, menandai eskalasi signifikan dari rivalitas panjang antara negara-negara ini. Dalam 12 hari yang penuh dengan serangan udara, rudal balistik, dan kehancuran besar, bukan hanya fisik yang rusak, tetapi juga struktur geopolitik dan keagamaan yang sudah lama ada.

Sejak tahun 1979, hubungan Iran dan Israel telah terperangkap dalam siklus perseteruan yang dipicu oleh perbedaan ideologi, terutama terkait dengan posisi Israel terhadap Palestina dan Iran yang menganggap Israel sebagai ancaman bagi umat Islam. Namun, selama era Dinasti Pahlavi, hubungan ini sempat terjalin erat, dengan kerjasama di bidang energi dan militer, yang kini terasa seperti sebuah kenangan jauh.

Perang pada Juni 2025 ini bermula dari ketegangan mengenai ambisi nuklir Iran yang semakin meningkat. Israel, yang khawatir dengan potensi Iran memperoleh senjata nuklir, melancarkan serangan besar-besaran yang dikenal sebagai “Operasi Rising Lion”, menargetkan fasilitas nuklir dan instalasi militer Iran. Iran membalas dengan serangan rudal balistik yang lebih intens, yang menyebabkan kerugian besar di kedua belah pihak. Data terbaru mencatat bahwa Iran kehilangan lebih dari 600 jiwa dan ribuan lainnya terluka, sementara Israel mengalami 25 kematian dan lebih dari 100 orang terluka.

Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik ini semakin memperburuk situasi, dengan serangan “Operasi Midnight Hammer” pada 22 Juni 2025 yang menghancurkan beberapa fasilitas nuklir Iran. Serangan ini menggarisbawahi kecemasan besar tentang potensi Iran menjadi kekuatan nuklir yang dapat merubah keseimbangan kekuatan di kawasan.

Wilayah Faqih dalam Krisis

Di balik semua ketegangan ini, sistem Wilayah Faqih—konsep pemerintahan yang mendasarkan kekuasaan tertinggi pada seorang ulama yang dianggap memiliki otoritas spiritual dan politik—terus menghadapi ujian berat. Sistem ini, yang pertama kali diperkenalkan oleh Ayatollah Khomeini setelah Revolusi Islam 1979, kini berada di ujung tanduk. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin negara selama lebih dari tiga dekade, kini menghadapi tantangan terbesar dalam sejarahnya.

Kehilangan sejumlah penasihat militer penting, termasuk komandan senior Garda Revolusi Islam (IRGC), serta kerusakan besar pada infrastruktur nuklir Iran, menambah beratnya beban yang ditanggung oleh Khamenei. Usia Khamenei yang sudah lanjut (86 tahun) dan kondisi kesehatan yang semakin menurun, memperburuk ketidakpastian mengenai masa depan kepemimpinan Iran. Seiring dengan semakin menguatnya ancaman terhadap sistem Wilayah Faqih, Khamenei terpaksa mempercepat proses suksesi. Beberapa kandidat utama muncul, termasuk putranya, Mojtaba Khamenei, yang konservatif, dan Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran yang lebih moderat.

Di tengah semua ketegangan ini, stabilitas politik dan agama Iran menghadapi ujian besar. Iran kini berada pada titik kritis: di satu sisi, menanggapi serangan brutal yang menargetkan fasilitas nuklir dan sistem pertahanan utama mereka, dan di sisi lain, berjuang untuk mempertahankan legitimasi Wilayah Faqih di mata rakyat Iran.

Sistem Wilayah Faqih, yang telah mengakar sejak Khomeini, kini berjuang untuk bertahan di tengah badai. Dalam tradisi Syiah, konsep kepemimpinan spiritual-politik ini tidak hanya dilihat sebagai kewajiban politik tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga. Meskipun serangan-serangan Israel dan AS telah mengguncang fondasi negara ini, banyak pihak yang masih berharap Iran dapat “berkembang kembali” dari kehancuran. Dalam hal ini, “keajaiban Wilayah Faqih” merujuk pada kemampuan sistem ini untuk bertahan dari segala rintangan dan terus memimpin negara dengan mempertahankan otoritas yang sah.

Namun, ketegangan antara tradisi teologi Syiah dan kebutuhan untuk beradaptasi dengan tantangan modern menjadi tantangan besar. Dalam struktur politik yang sangat bergantung pada figur pemimpin seperti Khamenei, kehilangan tokoh kunci dalam lingkaran dalam bisa memiliki dampak yang sangat besar. Keputusan tentang siapa yang akan menggantikan Khamenei akan sangat menentukan apakah sistem ini bisa bertahan dalam waktu yang lebih lama atau tidak.

Implikasi Geopolitik dan Ekonomi

Konflik 2025 memiliki dampak yang tidak hanya terbatas pada Iran dan Israel. Keterlibatan Amerika Serikat, Rusia, dan bahkan negara-negara Uni Eropa, yang khawatir akan eskalasi lebih lanjut, telah menunjukkan bahwa perang ini adalah bagian dari teka-teki geopolitik yang lebih besar. Dalam jangka panjang, ketegangan ini berpotensi memicu perubahan dalam kebijakan energi global, serta mempengaruhi stabilitas politik di negara-negara Arab, yang kini harus memilih antara mendukung Iran atau lebih memilih normalisasi hubungan dengan Israel.

Kerugian ekonomi bagi Iran dan Israel sangat besar. Sementara Israel mengalami kerugian sekitar USD 1,3 miliar akibat kerusakan infrastruktur dan ekonomi, Iran menghadapi kerugian yang jauh lebih besar, dengan beberapa fasilitas strategis dan industri nuklir yang hancur. Pembalasan yang dilakukan Iran juga menambah kerugian lebih lanjut, termasuk pembatasan akses terhadap teknologi nuklir yang semakin ketat akibat sanksi internasional.

Masa depan sistem Wilayah Faqih dan kepemimpinan Iran sangat tergantung pada kemampuan negara ini untuk membangun kembali kekuatannya yang telah hancur. Proses suksesi yang sedang dipercepat oleh Khamenei mungkin tidak cukup untuk mengatasi tekanan internal dan eksternal yang semakin meningkat. Kegagalan untuk menemukan pengganti yang dapat mempertahankan stabilitas negara ini dapat berarti akhir dari sistem Wilayah Faqih yang selama ini menjadi landasan kekuasaan Iran.

Dengan adanya gencatan senjata sementara pada akhir Juni 2025, Iran kini berada di persimpangan jalan. Meskipun dunia internasional menantikan solusi diplomatik, masa depan Iran akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk bertahan hidup dalam situasi yang penuh tantangan. Wilayah Faqih, dengan segala kelemahan dan tantangannya, masih menjadi satu-satunya sistem yang mengikat negara ini dalam menghadapi ancaman yang datang dari luar dan dalam.

Kesimpulannya, meskipun gencatan senjata yang berlaku memberikan sedikit harapan bagi perdamaian, masa depan sistem Wilayah Faqih tetap dipenuhi ketidakpastian. Dengan ancaman terhadap kepemimpinan Iran, serta tantangan besar dalam membangun kembali infrastruktur vitalnya, Iran kini menunggu “keajaiban” yang dapat membawa mereka keluar dari krisis ini dan menjaga keberlanjutan pemerintahan Islam yang telah mereka perjuangkan selama lebih dari empat dekade.