Waspada Terhadap Pihak Ketiga Merusak Mahligai Rumah Tangga

Waspada Terhadap Pihak Ketiga Merusak Mahligai Rumah Tangga
Waspada Terhadap Pihak Ketiga Merusak Mahligai Rumah Tangga

“Jangan biarkan suara dari luar lebih keras daripada suara pasanganmu.”

Di era media sosial, kehidupan rumah tangga tidak lagi hanya diuji oleh persoalan ekonomi, komunikasi, atau perbedaan karakter. Ada ancaman lain yang sering kali datang secara halus, tetapi memiliki dampak yang sangat besar: intervensi pihak ketiga. Bukan hanya orang ketiga dalam makna perselingkuhan, tetapi juga orang-orang yang gemar membandingkan, menghasut, memberi nasihat tanpa ilmu, hingga membentuk persepsi negatif terhadap pasangan.

Inilah salah satu tema penting yang dibahas dalam Sakinah Talks pada Ahad, 2 Agustus 2026, yang diambil dari buku Baiti Jannati karya Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D.. Melalui kisah para salaf, beliau mengingatkan bahwa banyak rumah tangga tidak runtuh karena masalah besar, tetapi karena hati yang perlahan berubah akibat bisikan orang lain.

Rumah Tangga adalah Amanah yang Sangat Agung

Islam memandang pernikahan bukan sekadar hubungan antara dua manusia, melainkan ikatan suci (mītsāqan ghalīẓan) yang dibangun atas dasar kasih sayang dan rahmat Allah.

Allah Swt. berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

(QS. Ar-Rūm [30]: 21).

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama pernikahan adalah menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah, bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis ataupun sosial.

Namun, sebagaimana dijelaskan dalam Baiti Jannati, ketenangan itu tidak datang tanpa ujian. Justru ketika sebuah keluarga mulai harmonis, berbagai godaan sering kali hadir dari luar rumah.

Belajar dari Abu Muslim al-Khawlānī

Dalam buku tersebut diceritakan kisah seorang tabi’in besar, Abu Muslim al-Khawlānī, yang dikenal sebagai ahli ibadah dan memiliki kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis.

Beliau memiliki kebiasaan sederhana. Setiap memasuki rumah, beliau mengucapkan takbir. Ketika istrinya menjawab takbir tersebut, beliau mengetahui bahwa kondisi rumah dalam keadaan baik. Namun suatu hari, tidak ada jawaban dari sang istri. Setelah ditelusuri, ternyata istrinya baru saja dipengaruhi oleh seorang wanita yang menanamkan perasaan bahwa dirinya diperlakukan seperti pembantu di rumah sendiri.

Hanya dengan beberapa kalimat, persepsi yang sebelumnya baik berubah menjadi rasa kecewa.

Kisah ini mengajarkan bahwa musuh terbesar rumah tangga terkadang bukan pasangan sendiri, tetapi persepsi yang dibangun oleh orang lain.

Psikologi Menjelaskan Mengapa Bisikan Itu Berbahaya

Temuan ini ternyata sejalan dengan penelitian psikologi modern.

Psikolog Amerika John Gottman, melalui penelitiannya mengenai stabilitas pernikahan, menjelaskan bahwa pasangan yang mampu bertahan bukan karena mereka tidak memiliki konflik, melainkan karena mereka menjaga komunikasi positif dan tidak membiarkan pengaruh luar mengendalikan hubungan mereka.

Sementara itu, Dr. Sue Johnson, penggagas Emotionally Focused Therapy (EFT), menyatakan bahwa rasa aman dalam hubungan akan rusak ketika pasangan mulai kehilangan kepercayaan dan lebih mempercayai narasi dari luar dibandingkan komunikasi langsung dengan pasangannya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Dr. Gary Chapman, penulis The Five Love Languages. Menurutnya, kebutuhan terbesar pasangan bukanlah materi, tetapi merasa dipahami, dihargai, dan dicintai. Ketika kebutuhan emosional ini tidak dipenuhi, seseorang menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh pihak luar.

Artinya, apa yang telah dijelaskan oleh para ulama sejak berabad-abad lalu ternyata sejalan dengan temuan ilmu psikologi modern.

Iblis Sangat Menyukai Perceraian

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa salah satu misi terbesar setan adalah memisahkan suami dan istri.

Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengirim bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang datang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lain dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya hingga berhasil memisahkan antara seorang suami dan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Engkau yang terbaik.'”
(HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa merusak rumah tangga merupakan salah satu keberhasilan terbesar Iblis.

Karena itu, Al-Qur’an juga mengingatkan agar manusia berlindung dari bisikan-bisikan yang merusak hubungan antarsesama (QS. An-Nās: 4–6).

Perspektif Ulama: Menjaga Rahasia Rumah Tangga adalah Kewajiban

Dalam perspektif hukum Islam, para ulama menjelaskan bahwa menjaga kehormatan rumah tangga termasuk bagian dari ḥifẓ al-‘irdh (menjaga kehormatan), salah satu tujuan penting syariat.

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis tentang larangan membuka rahasia pasangan menegaskan bahwa menyebarkan persoalan rumah tangga kepada orang yang tidak berkepentingan merupakan perbuatan tercela karena dapat menghilangkan kepercayaan dalam keluarga.

Sementara itu, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan bahwa salah satu bentuk mu’āsyarah bil ma’rūf adalah menjaga kehormatan pasangan, termasuk tidak mempermalukannya di hadapan orang lain.

Dengan demikian, curhat kepada orang yang salah bukan sekadar persoalan etika, tetapi juga dapat bertentangan dengan nilai-nilai syariat apabila membuka aib pasangan tanpa alasan yang dibenarkan.

Apa yang Harus Dilakukan Pasangan?

Buku Baiti Jannati memberikan beberapa langkah preventif yang sangat relevan dengan kehidupan keluarga masa kini.

Pertama, membangun komunikasi harian. Pasangan perlu memiliki waktu khusus untuk saling bertanya tentang kondisi hati, bukan hanya membicarakan kebutuhan rumah tangga.

Kedua, mengenali perubahan emosional pasangan. Perubahan kecil sering kali menjadi tanda awal adanya masalah yang lebih besar.

Ketiga, menjaga privasi keluarga. Tidak semua persoalan layak dipublikasikan kepada teman, media sosial, atau bahkan keluarga besar.

Keempat, memperbanyak doa. Abu Muslim al-Khawlānī tidak membalas pengaruh buruk dengan kemarahan, melainkan dengan doa dan tawakal kepada Allah.

Jadikan Rumah Sebagai Surga Dunia

Pada akhirnya, rumah yang bahagia bukanlah rumah tanpa masalah. Rumah yang bahagia adalah rumah yang menjadikan iman sebagai fondasi, ilmu sebagai cahaya, ketakwaan sebagai pagar, komunikasi sebagai jembatan, dan doa sebagai penguat hubungan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Baiti Jannati, surga dunia tidak hadir karena pasangan yang sempurna, tetapi karena dua orang yang terus memilih untuk menjaga amanah pernikahan setiap hari. Ketika iman, ilmu, dan ketakwaan menjadi pondasi keluarga, maka rumah akan menjadi tempat pulang yang menenangkan sekaligus menjadi madrasah pertama bagi lahirnya generasi terbaik.

Penutup

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, setiap pasangan perlu lebih selektif terhadap suara-suara yang masuk ke dalam rumah tangga. Jangan sampai komentar orang lain lebih dipercaya daripada pasangan sendiri.

Mari menjadikan keluarga sebagai Baiti Jannati—rumah yang dipenuhi zikir, dihiasi komunikasi yang sehat, dikuatkan oleh ilmu, dijaga dengan ketakwaan, dan selalu bergantung kepada pertolongan Allah. Karena rumah yang baik bukan hanya melahirkan keluarga yang bahagia, tetapi juga melahirkan peradaban yang mulia.

Oleh. Delpa Firdaus, M. H