1.Universitas Darunnajah Gelar Seminar Nasional, Soroti Krisis Karakter dan Sistem Pendidikan
JAKARTA — Universitas Darunnajah menggelar Seminar Nasional bertajuk “Krisis Karakter dan Krisis Sistem: Membangun Ekosistem Pendidikan yang Melahirkan Pemimpin Berakhlak” di Aula Al-Ghazali, Jakarta, Sabtu (23/5/2026). Agenda ini menyoroti pentingnya reformasi sistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada kecerdasan akademis, tetapi juga integritas moral.
Dalam sambutan pembukanya, Rektor Universitas Darunnajah menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan antara institusi pendidikan dan sistem pembinaan. Hal ini dinilai krusial untuk mencetak generasi pemimpin masa depan yang berkualitas dan berakhlakul karimah.
Seminar yang dimulai pukul 13.00 WIB ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Wakil Rektor 1 Universitas Darunnajah, Fajar Suryono, S.Kom., M.A., serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D.
a.Kampus Sebagai Laboratorium Karakter
Dalam pemaparannya, Wakil Rektor 1 Universitas Darunnajah, Fajar Suryono, menyatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter mahasiswa sebelum mereka terjun ke masyarakat.
“Tantangan di era modern bukan lagi soal keterbatasan akses informasi, melainkan bagaimana mahasiswa menyaring informasi tersebut dengan moral yang kokoh. Kampus harus menjadi laboratorium karakter, bukan sekadar tempat berburu gelar,” ujar Fajar.
Senada dengan hal tersebut, Suparto menekankan bahwa membangun ekosistem pendidikan yang sehat membutuhkan sinergi multisektor. Menurutnya, teknologi dan dinamika sosial yang berkembang pesat saat ini menjadi tantangan besar bagi karakter peserta didik.
“Kita tidak bisa menyerahkan beban pendidikan karakter ini hanya kepada sekolah atau kampus. Harus ada kolaborasi konkret antara lingkungan keluarga, masyarakat, dan kebijakan pemerintah yang mendukung,” tegas Suparto.
b.Transformasi Pendidikan di Era Digital dan Kolaborasi Multisektor
Dalam sesi pendalaman materi, kedua narasumber membedah lima pilar strategis yang mendesak untuk diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Pilar pertama berfokus pada urgensi pembentukan integritas. Menurut para pemateri, moralitas harus diletakkan di atas pencapaian nilai akademis demi mencegah krisis moral pada calon pemimpin masa depan.
Kedua, mengenai adaptasi terhadap tantangan teknologi. Di era digitalisasi yang masif, tantangan terbesar pendidik bukan lagi sekadar mentransfer ilmu, melainkan membimbing siswa agar tidak kehilangan kompas etika di dunia maya.
Selanjutnya, pilar ketiga dan keempat menggarisbawahi pentingnya pembangunan ekosistem belajar yang kolaboratif serta peran aktif perguruan tinggi. Kampus dituntut tidak lagi menjadi menara gading yang berjarak dari realitas sosial, melainkan harus hadir memberikan solusi nyata terhadap isu-isu di masyarakat.
Sebagai pemungkas, narasumber menegaskan bahwa formula terbaik dari seluruh strategi ini adalah sinergi multisektor.
“Pendidikan karakter tidak akan pernah berhasil jika hanya menjadi kurikulum di dalam kelas. Ini adalah gerakan semesta yang melibatkan keteladanan orang tua di rumah, kontrol sosial dari masyarakat, serta regulasi yang berpihak dari pemerintah,” jelas Suparto saat merangkum materi seminar.
c.Diikuti 200 Peserta
Agenda ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, santri, serta tamu undangan dari berbagai kalangan akademik dan masyarakat umum.
Memasuki sesi diskusi dan tanya jawab, para peserta memanfaatkan momentum tersebut untuk berdialog langsung dengan kedua pemateri mengenai implementasi pendidikan karakter di lapangan. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama serta sesi dokumentasi. melalui seminar ini, penanaman nilai-nilai moral diharapkan dapat diaplikasikan secara nyata dalam ekosistem pendidikan nasional.










