Oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan
Dosen Universitas Darunnajah
Ada seorang lelaki di salah satu desa. Ia dikenal sebagai seorang da’i yang penuh semangat, memiliki motivasi dan keyakinan bahwa Islam harus disampaikan. Tapi ada satu masalah besar—setiap kali ia berbicara, orang-orang pergi. Tidak ada yang mendengar, tidak ada yang peduli.
Sampai suatu hari, ia berhenti berbicara. Ia mulai mendengar. Ia duduk di warung kopi, ikut memikul hasil panen, membantu seorang ibu-ibu membawa belanjaannya. Ia hadir, ia terlibat, ia menjadi bagian dari kehidupan orang-orang yang ingin ia dakwahi. Dan ajaibnya, tanpa perlu banyak kata, orang-orang mulai bertanya, mulai mendekat, mulai ingin tahu apa yang ia yakini.
Cerita singkat ini mengajari kita bahwa Dakwah bukan tentang seberapa keras suara kita, tetapi tentang seberapa dalam kita bisa menyentuh hati manusia. Dakwah bukan hanya tentang menyampaikan kebenaran, tetapi memastikan bahwa kebenaran itu diterima dengan suka cinta.
Dari sini, sepertinya perlu ada ilmu tambahan untuk para da’i yaitu ilmu marekting. Marketing dan dakwah. Dua hal yang sering dianggap berseberangan, padahal mereka adalah saudara kembar yang tak terpisahkan.
Coba renungkan, bagaimana caranya seseorang bisa menjual sebuah produk? Ia harus tahu siapa pelanggannya, apa kebutuhannya, bagaimana cara terbaik untuk mendekatinya. Jika ia datang dengan cara yang salah, produk sehebat apa pun akan diabaikan.
Begitu juga dengan dakwah. Kebenaran tidak cukup untuk diterima, ia harus disampaikan dengan cara yang tepat. Rasulullah ﷺ tahu ini lebih dari siapa pun. Beliau tidak pernah hanya berbicara, beliau mendekati orang-orang dengan kasih sayang, dengan empati, dengan pemahaman mendalam tentang siapa yang beliau hadapi.
Dan yaa inilah inti dari marketing? Memahami kebutuhan, membangun kepercayaan, dan menawarkan sesuatu yang benar-benar bermakna?
Oleh sebab itu, sepertinya kita perlu melihat kembali bagaimana sejarah menjelaskan Strategi Dakwah Rasulullah, sebagai sebuah pelajaran yang abadi.
Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama, beliau tidak langsung berdiri di tengah kota dan berteriak tentang Islam. Tidak.
Beliau mulai dari lingkaran kecil. Dari Khadijah, Abu Bakar, Ali, Zaid. Orang-orang yang paling dekat dengan beliau. Mereka bukan hanya pengikut pertama, tetapi juga tiang yang menopang perjalanan dakwah.
Setelah itu, baru beliau keluar, berdiri di Bukit Shafa, menyeru bangsa Quraisy. Dan bahkan di titik itu, strategi beliau tetap terarah—beliau tidak langsung mengajak semua orang masuk Islam, tetapi bertanya sesuatu yang sederhana:
“Jika aku berkata bahwa ada pasukan yang siap menyerang dari balik bukit ini, apakah kalian akan percaya?”
Orang-orang menjawab, “Tentu saja, karena engkau Al-Amin (Seoang terpercaya)!”
Saat itulah, dengan dasar kepercayaan yang telah beliau bangun selama bertahun-tahun, beliau menyampaikan kebenaran Islam.
Disinilah poin penting yang Rasulullah lakukan. Dakwah bukan hanya tentang berkata, tetapi tentang bagaimana kata-kata itu bisa dipercaya dan diterima.
Maka bagi para ahli Rasulullah, bukan hanya seorang da’i dengan kata-katanya yang bisa nengujam hati, tapi dia adalah seorang Marketer Ulung yang bisa mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat.
Jadi, jika kita melihat Rasulullah ﷺ dari kacamata seorang marketer, kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa.
Beliau tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi membangun sebuah gerakan atau dalam istilah sekarang membangun sebuah ekosistem. Beliau tidak hanya mengajarkan Islam, tetapi menciptakan perubahan, membangun lingkungan, peradaban yang bertahan selama berabad-abad.
Bagaimana caranya?
Pertama, Beliau memahami betul manusia yang dihadapinya. Rasulullah ﷺ tahu bahwa setiap orang memiliki pintu masuk yang berbeda. Umar bin Khattab didekati dengan keberanian. Abu Bakar dengan kelembutan. Khalid bin Walid dengan pengakuan atas kecerdasannya. Oleh sebab itu, sekali lagi Dakwah bukan satu pendekatan untuk semua, tetapi tentang menemukan kunci yang tepat untuk setiap individu.
Kedua, Beliau membangun hubungan sebelum menawarkan pesan
Sebelum berbicara tentang Islam, beliau telah membangun kepercayaan. Beliau adalah Al-Amin. Kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam dakwah dan marketing.
Ketiga, Beliau tidak hanya memberi tahu, tetapi menunjukkan
Rasulullah ﷺ tidak hanya berkata bahwa Islam itu indah, beliau menunjukkannya dalam tindakan.
Inilah yang membuat dakwah beliau begitu efektif.
Pertanyaanya, bagaimana dengan dakwah hari ini, apakah dakwah telah berubah. Benarkah Media sosial membuka pintu bagi siapa saja untuk berbicara, bagaimana strategi dakwah saat ini?.
Saat ini, kita melihat ustaz-ustaz viral, tetapi apakah pesan mereka benar-benar sampai? Kita melihat jutaan video ceramah, tetapi apakah itu mengubah hati?
Tantangan dakwah hari ini bukan hanya bagaimana menyampaikan, tetapi bagaimana memastikan bahwa pesan itu diterima dan diamalkan.
Setidaknya ada tiga poin utama yang harus diperhatikan kaitannya dengan dakwah saat ini:
Satu, Dakwah di era digital butuh lebih dari sekadar konten. Kita tidak bisa hanya memproduksi ceramah dan berharap orang akan menonton. Kita harus membangun komunitas, menciptakan dialog, menghadirkan dakwah yang hidup dalam kehidupan nyata.
Dua, Dakwah butuh empati, bukan sekadar dalil. Rasulullah ﷺ tidak pernah memaksa orang masuk Islam dengan argumen kosong. Beliau hadir, mendengarkan, memahami. Ini yang harus kita pelajari kembali.
Tiga, Dakwah harus kembali ke akar, menyentuh hati. Jika dakwah hanya menjadi konten tanpa jiwa, ia akan lewat begitu saja. Kita butuh strategi, bukan sekadar suara.
Akhirnya, Saatnya kita menjadi Dai yang Menyentuh, Bukan Hanya Berbicara
Dakwah adalah seni menyentuh hati.
Ia bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, tetapi siapa yang paling dalam menyentuh jiwa. Ia bukan tentang berapa banyak ayat yang dikutip, tetapi tentang bagaimana ayat itu hidup dalam tindakan.
Rasulullah ﷺ telah mengajarkan bahwa dakwah yang benar bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentang hadir.
Maka hari ini, jika kita ingin dakwah yang lebih berarti, kita harus kembali ke strategi Rasulullah. Hadirlah dalam kehidupan manusia. Pahami mereka. Bangun kepercayaan. Sentuh hati sebelum berbicara.
Karena dakwah sejati bukan tentang kita yang ingin didengar, tetapi tentang mereka yang ingin menemukan kebenaran.
Saatnya kita berdakwah dengan suka cinta, dengan pemahaman, dan dengan hati nurani.




