Pentingnya Nasihat dan Komunikasi Positif: Pelajaran Surat Luqman 13 –19 bagi Pendidik

Pentingnya Nasihat dan Komunikasi Positif: Pelajaran Surat Luqman 13 –19 bagi Pendidik
Pentingnya Nasihat dan Komunikasi Positif: Pelajaran Surat Luqman 13 –19 bagi Pendidik

Dalam dunia pendidikan, nasihat dan komunikasi positif adalah fondasi membangun karakter peserta didik. Surat Luqman ayat 13–19 di Al-Qur’an merupakan salah satu rujukan utama yang menekankan pentingnya penyampaian pesan secara bijaksana, penuh kasih, dan berlandaskan nilai agama. Ayat-ayat ini tidak hanya menawarkan pedoman akidah, tetapi juga metode pendidikan karakter yang relevan sepanjang masa, khususnya bagi para pendidik.

Berikut kutipan Surat Luqman 13-19:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ۝١٣

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya: ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ۝١٤

“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۝١٥

“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan.”

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ۝١٦

“(Luqman berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahateliti.”

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۝١٧

“Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.”

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ ۝١٨

“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِࣖ ۝١٩

“Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Dari ayat-ayat tersebut tersirat isi nasihat yang sangat holistik tentang Pendidikan anak. Luqman mengingatkan tentang larangan menyekutukan Allah, kewajiban syukur, pentingnya berbakti kepada orang tua, menegakkan shalat, seruan berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta menanamkan sabar, rendah hati, dan berkata santun. Semua nilai ini relevan sebagai pondasi pendidikan karakter yang menyeluruh, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.

Metode komunikasi yang digunakan Luqman sangat persuasif dan penuh hikmah. Ia memberikan nasihat secara bertahap dan kontekstual, menyesuaikan pesan dengan tahapan perkembangan anak, serta mencontohkan langsung melalui perilakunya. Strategi ini menjadi teladan bagi para pendidik dalam menyampaikan pesan pendidikan, agar tidak sekadar bersifat instruktif, tetapi juga mampu menyentuh hati dan membangun kedekatan emosional.

Salah satu aspek terpenting yang ditekankan adalah penggunaan komunikasi yang penuh kasih sayang. Dalam ayat-ayat tersebut, Luqman selalu memanggil anaknya dengan sebutan lembut, “Ya Bunayya” (Wahai anakku tercinta), sebagai bentuk perhatian dan kasih yang mendorong anak untuk lebih menerima nasihat. Sikap ini mengajarkan kepada pendidik pentingnya membangun hubungan emosional yang positif dengan peserta didik agar suasana belajar menjadi lebih kondusif dan bermakna. Karakter komunikatif yang diajarkan dalam surat ini adalah penggunaan kata yang lembut (qawlan layyina), ucapan yang menyentuh (qawlan baligha), kejujuran, keteladanan, dan optimisme dalam setiap komunikasi. Sikap-sikap tersebut perlu diintegrasikan dalam praktik pendidikan agar setiap pesan yang disampaikan dapat membekas dan menjadi rujukan untuk perilaku peserta didik.

Akhirnya, bagi para pendidik, pelajaran dari surat Luqman 13–19 adalah urgensi membangun komunikasi yang konstruktif dan edukatif setiap hari. Penanaman nilai agama dan moral harus dilakukan secara berkelanjutan dengan keteladanan dan perhatian terhadap perkembangan psikologis peserta didik. Dengan demikian, tujuan pendidikan untuk membentuk generasi beradab, cerdas, dan bertanggung jawab dapat terwujud sesuai ajaran Al-Qur’an.

 

Penulis: DI

Add Universitas Darunnajah as a preferred source on Google.