Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Darunnajah menyelenggarakan Special Lecture bertajuk “Konsep Kemandirian Ekonomi Pesantren melalui Strategi Pengembangan Instrumen Pendanaan” bersama KH. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D., Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus Universitas Darunnajah ini dihadiri oleh mahasiswa Magister MPI secara luring dan daring, para wakil pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah, keluarga besar Darunnajah, Direktur LAZNAS Darunnajah, serta civitas akademika Universitas Darunnajah.
Acara dibuka secara resmi oleh Presiden Universitas Darunnajah, KH. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya inovasi pengelolaan keuangan pesantren di era modern serta perlunya membangun kemandirian ekonomi melalui optimalisasi wakaf dan zakat. “Pesantren tidak boleh hanya bergantung pada iuran santri. Harus ada terobosan berbasis wakaf produktif dan unit usaha yang dikelola profesional,” ujarnya.
Moderator acara, Ust. Ahmad Gabriel, memandu jalannya diskusi yang berlangsung interaktif. Dalam pemaparannya, KH. Anang Rikza Masyhadi memaparkan struktur pembiayaan pesantren yang selama ini bertumpu pada sumber primer (santri) dan sumber sekunder seperti ZISWAF serta unit usaha. Beliau juga memperkenalkan ragam wakaf kontemporer yang dapat diadaptasi pesantren, di antaranya wakaf uang produktif, wakaf profesi, wakaf manfaat, hingga wakaf saham dan wakaf korporasi.
“Wakaf tidak lagi hanya berupa tanah atau bangunan. Sekarang ada wakaf melalui uang, wakaf profesi, bahkan wakaf dividen dan saham. Pesantren harus masuk ke skema corporate waqf dan enterprise structured waqf,” jelas dewan pengawas syariah Lazis ASFA tersebut.
KH. Anang juga memamerkan praktik nyata yang telah diterapkan di Pondok Modern Tazakka melalui PT. Tazko Indonesia Berkah sebagai holding company berbasis wakaf, yang mengelola jaringan minimarket, produksi kosmetik, percetakan, hingga software digital pesantren. Hal ini menjadi model konkret piramida ekonomi pesantren yang membangun kemandirian mulai dari santri, ZISWAF, hingga unit usaha strategis.
Para peserta sangat antusian mengikuti sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan muncul terkait implementasi wakaf ritel, strategi fundraising dari kalangan korporasi, serta legalitas wakaf saham di Indonesia. Direktur LAZNAS Darunnajah menyampaikan ketertarikannya untuk menjajaki kerja sama pengembangan wakaf produktif berbasis pesantren.
Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa kemandirian ekonomi pesantren mutlak memerlukan transformasi pola pikir (mindset), penguatan SDM, kepemimpinan yang visioner, serta diversifikasi skema wakaf dan unit usaha. “Jangan biarkan pesantren terus miskin. Wakaf adalah solusi abadi untuk kemakmuran umat,” pungkas KH. Anang.
Dengan terselenggaranya special lecture ini, Universitas Darunnajah berharap lahir generasi pengelola pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga tangguh dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis wakaf dan wirausaha sosial.




-muzakiribn-




