UDN – Rondha Byrne dalam bukunya The Secret yang di rilis pada tahun 2006, terjual lebih 21 juta salinan dan telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa.
Kami mulai membaca buku tersebut di tahun 2009-2010 saat menjalankan misi pengabdian, membangun peradaban pesantren di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Misi itu juga yang mempertemukan kami dengan pendamping sehidup semati, ibu dari anak-anak kami.
Salah satu isi buku yang terpatri sampai saat ini ada pada quots “setiap kita adalah aladin, yang memiliki lampu Ajaib, hanya saja banyak diantara kita yang tidak mau menyentuh lampu tersebut”.
Lampu Ajaib merupakan benda pusaka. Salah satu cerita dalam malam seribu malam yang sudah diangkat menjadi beragam film, dalam beragam versi.
Cerita yang mengisahkan seorang pemuda bernama Aladin, dianggap mendapatkan keberkahan karena lampu yang dia usap membebaskan seorang jin yang mampu mengabulkan segala permintaan. Cerita Aladin dan lampu Ajaib, kami anggap semua pembaca sudah tahu, jadi tidak kami teruskan.
Hanya saja, perlu menjadi catatan utama bahwa keajaiban lampu dan jin yang ada di dalamnya, sangat tergantung kepada kepekaan Aladin untuk mengusap dan memberikan permintaan.
Maka, ketika Rondha Byrne mengatakan, bahwa semua kita adalah Aladin. Ini bisa kita pahami, bahwa kita memiliki lampu Ajaib. Hanya saja kita belum mengusap dan meminta dengan benar, sehingga apa yang kita harapkan belum juga terjadi.
Salah satu lampu Ajaib di era industri 5.0 adalah artificial intelligence (AI). Prangkat Lunak yang bisa mewujudkan keinginan kita. Beraga informasi, tulisan, deskripsi, vidio, sampai penerjemah bisa dia lakukan.
Namun, kembali ke rumus awal ketika Aladin menemukan Lampu Ajaib, Kemauan mengelus dan menyampaikan pertanyaan kepada AI itu menjadi syarat utama perangkat ini memberikan dampak kepada kita.
Kualitas kemauan kita untuk mengelus, mengusap dan menyampaikan pertanyaan menjadi Katalisator yang dapat memberikan dapat yang luar biasa.
Muhammad Irfanudin Kurniawan
Wakil Rektor III Universitas Darunnajah




