K.H. Hadiyanto Arief: Pesantren Bukan Masa Lalu, tetapi Masa Depan Pendidikan

K.H. Hadiyanto Arief: Pesantren Bukan Masa Lalu, tetapi Masa Depan Pendidikan
K.H. Hadiyanto Arief: Pesantren Bukan Masa Lalu, tetapi Masa Depan Pendidikan

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.BS., menjadi keynote speaker pada Pembukaan Rapat Kerja 2026 Pondok Pesantren Walisongo Ngabar. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur, sebagai forum strategis perumusan arah kebijakan pesantren ke depan.

Rapat kerja tahunan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan, guru, dan pengelola Pesantren Walisongo Ngabar. Acara bertujuan menyusun langkah pengembangan kelembagaan pesantren agar adaptif terhadap tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.

K.H. Hadiyanto Arief: Pesantren Bukan Masa Lalu, tetapi Masa Depan Pendidikan

Dalam paparannya, K.H. Hadiyanto Arief menyampaikan refleksi pengalamannya mengelola pesantren di tengah dinamika metropolitan Jakarta. Ia menegaskan bahwa tantangan berupa regulasi, teknologi, dan ekspektasi wali santri justru menjadi ruang penguatan nilai pesantren.

Menurutnya, sistem pendidikan Mu’allimin yang diterapkan pesantren bukanlah sistem kuno yang tertinggal zaman. Sistem tersebut merupakan hasil ijtihad visioner para ulama pendiri yang berorientasi pada pembentukan insan berkarakter dan berjiwa kepemimpinan.

Ia menjelaskan bahwa jika dianalisis dengan perspektif global, sistem Mu’allimin memiliki kesamaan DNA dengan sekolah elite dunia. Lembaga seperti Eton College di Inggris dan Phillips Exeter Academy di Amerika Serikat juga menekankan pendidikan berasrama dan pembinaan kepemimpinan.

Beberapa prinsip utama yang ditekankan meliputi pendidikan karakter, diskursus intelektual, penguasaan bahasa, dan kaderisasi pemimpin. Tegasnya, pesantren tidak sekadar mencetak lulusan berprofesi, tetapi mempersiapkan pemimpin umat dan bangsa.

K.H. Hadiyanto Arief menekankan bahwa pesantren telah mempraktikkan konsep liberal arts dan character education jauh sebelum menjadi tren global. Pesantren Mu’allimin seperti Gontor menjadi bukti nyata keunggulan sistem tersebut sejak lama.

Ia berpesan kepada para guru muda agar tidak kehilangan kepercayaan diri terhadap sistem pesantren. Tugas generasi hari ini adalah menyegarkan cara membaca tradisi, bukan mengganti ruh pendidikan pesantren.

Menutup paparannya, ia mengapresiasi Pesantren Walisongo Ngabar atas kepercayaan dan ruang diskusi yang diberikan. Ia berharap rapat kerja ini melahirkan kebijakan strategis yang berakar kuat pada nilai pesantren namun mampu menjulang tinggi menjawab masa depan.