Setiap 28 Oktober, semangat Sumpah Pemuda kembali menggema di hati anak muda Indonesia. Tapi, peringatan ini seharusnya bukan hanya seremonial atau sekadar unggahan di media sosial. Lebih dari itu, ini saatnya kita bangkit, berkarya, dan berdaya untuk negeri.
Pemuda hari ini hidup di era serba cepat—di mana kreativitas, inovasi, dan aksi nyata jadi kunci perubahan. Dari startup, konten edukatif, hingga aksi sosial, semuanya bisa jadi bentuk cinta tanah air. Seperti kata pepatah, “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.” Tapi, pemimpin sejati bukan hanya pandai berbicara, melainkan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Dalam Islam, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)
Hadis ini menegaskan bahwa menjadi pemuda hebat bukan diukur dari popularitas, tetapi dari sejauh mana kita bisa memberi manfaat. Artinya, berkarya dengan niat tulus untuk umat dan bangsa adalah bentuk ibadah.
KH. Hasyim Asy’ari juga pernah berpesan bahwa pemuda harus memiliki tiga kekuatan: iman, ilmu, dan amal. Iman menjadi dasar moral, ilmu membentuk cara berpikir, dan amal—yakni tindakan nyata—menjadi bukti cinta pada tanah air.
Jadi, kalau dulu para pemuda 1928 bersatu demi kemerdekaan, maka tugas kita sekarang adalah menjaga dan mengisi kemerdekaan itu dengan karya dan kontribusi. Entah lewat teknologi, lingkungan, pendidikan, atau sosial—setiap aksi kecil punya makna besar.
Karena sejatinya, Indonesia akan kuat kalau pemudanya berdaya. Maka, bangkitlah, berkaryalah, dan jadilah generasi yang membawa cahaya untuk bangsa. Karena dari tanganmu, masa depan Indonesia sedang dibentuk.
Penulis: Rain Surya Leksana
✨Rooted in tradition, leading in education✨
Link Pendaftaran: pendaftaran.darunnajah.ac.id
Follow Us:
Instagram: @univ.darunnajah
Facebook: Universitas Darunnajah Jakarta
Tiktok: univ_darunnajah




