Kisah ini sering diulang disampaikan oleh Kiai-Kiai Pondok Pesantren Darussalam Gontor, termasuk saat kami sowan ke Gontor kemarin bersama kiai-kiai alumni Gontor lainnya.
Pada dekade 1970-an, datanglah seorang peneliti asal Jerman bernama Wolfgang ke Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia hanya tinggal sehari — sekadar menatap permukaan dari samudera yang dalam.
Di sana ia melihat para santri menyapu halaman, mengepel kelas dan asrama, membuang sampah, menjaga keamanan malam hari layaknya petugas keamanan. Semua itu ia catat dengan teliti — namun hanya dengan mata lahiriah, bukan dengan mata hati.
Sekembalinya ke Jakarta, Wolfgang menyeminarkan hasil penelitiannya.
Dengan logika Barat yang kaku, ia menuduh:
“Pesantren ini mengeksploitasi anak-anak di bawah umur.”
Padahal, sebagaimana sering dinasihatkan oleh para kiai kepada santri, dalam menilai pondok jangan sampai seperti orang buta yang meraba gajah. Atau monyet memakan manggis. Terburu-buru menyimpulkan pahitnya dan membuangnya sebelum merasakan inti buahnya yg manis.
Memahami pondok pesantren tak cukup dengan pandangan mata. Ia butuh perenungan, pengalaman, dan penghayatan. Seperti memahami shalat, kita takkan mengerti maknanya hanya dari gerakan rukuk dan sujud, hingga hati ini benar-benar tunduk bersama dahi yang menempel di bumi.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, sejarah seakan berulang. Ada sebagian masyarakat — bahkan sebuah stasiun televisi – yang dengan mudah menilai, memfitnah, dan merendahkan tradisi pesantren, karena hanya melihatnya dari luar pagar. Padahal, mereka pun seperti orang buta yang memegang gajah, melihat sebagian kecil dari kebenaran, lalu merasa tahu seluruhnya.
Padahal pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu, ia adalah madrasah kehidupan,
tempat anak-anak belajar tentang arti kerja keras, kemandirian, dan pengabdian. Tempat setiap sapu yang diayunkan, setiap lantai yang dipel, setiap tugas yang dijalankan, adalah bagian dari pendidikan jiwa dan pembentukan adab.
Sebagaimana dikatakan Jalaluddin Rumi dalam Mathnawi-i Ma‘nawi:
“Orang-orang buta dibawa ke rumah tempat seekor gajah disimpan,
mereka merabanya dalam gelap.
Karena sentuhan mereka berbeda, maka penilaian mereka pun beragam.
Yang memegang belalai berkata: ini seperti pipa.
Yang memegang telinga berkata: ini seperti kipas.
Masing-masing berbicara dari bagiannya, bukan dari keseluruhan.”
Maka, sebelum menilai pesantren, marilah kita belajar melihat dengan mata yang tercerahkan, bukan sekadar dengan mata yang memandang — agar kita tak menjadi orang buta yang merasa telah melihat seluruh gajah.
Mantingan, 14 Oktober 2025
K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs.
Presiden Universitas Darunnajah

