Kartini dalam Cahaya Islam: Emansipasi yang Berlandaskan Iman

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan. Namun, lebih dari sekadar simbol emansipasi wanita, Kartini adalah sosok muslimah cerdas yang meletakkan dasar perjuangannya dalam kerangka nilai-nilai keislaman.

Dalam surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini kerap mencurahkan kegelisahannya terhadap keterbatasan akses perempuan pada pendidikan. Namun ia tidak menentang ajaran Islam, melainkan mengkritisi budaya feodal yang mengekang perempuan dengan dalih agama. Dalam suratnya kepada sahabatnya, Abendanon, Kartini menuliskan ketertarikannya pada Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Bahkan ia pernah berkata:

“Agama Islam sangat indah dan suci, tetapi praktiknya di masyarakat kadang disalahartikan.”

Ini menunjukkan bahwa Kartini memahami bahwa Islam justru memuliakan perempuan, sebagaimana dalam QS. An-Nahl: 97:

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…”

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk belajar bukan agar bebas sebebas-bebasnya, tetapi agar mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik, ibu yang cerdas, istri yang bijak, dan anggota masyarakat yang aktif serta bermanfaat. Inilah esensi dari hadits Nabi Muhammad SAW:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim (laki-laki dan perempuan).” (HR. Ibnu Majah)

Dengan demikian, perjuangan Kartini sejalan dengan misi Islam dalam membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan.

Kartini adalah contoh perempuan muslimah yang menjunjung tinggi akhlakul karimah. Ia tetap menjaga adab, kesopanan, dan tidak membangkang secara frontal, tetapi menggunakan kecerdasannya dalam menyampaikan gagasan. Ia menulis dengan bahasa halus namun tajam, mencerminkan sikap islami yang mengedepankan hikmah dan kesantunan, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”

Peringatan Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang sosok perempuan masa lalu, tetapi juga refleksi bagi perempuan masa kini untuk terus berjuang dalam cahaya Islam. Kartini telah menunjukkan bahwa menjadi muslimah tidak menghalangi kita untuk berkontribusi bagi bangsa dan umat. Justru dengan nilai-nilai keislaman, perjuangan akan lebih bermakna, berlandaskan iman, dan membawa berkah.

Semangat Kartini adalah semangat Islami: membebaskan manusia dari kebodohan, mengangkat martabat perempuan, dan menebar cahaya ilmu di tengah kegelapan zaman.

✨Rooted in tradition, leading in education✨

Follow Us:
Instagram: @univ.darunnajah
Facebook: Universitas Darunnajah Jakarta
Tiktok: univ_darunnajah
Whatsapp: 0812-2200-1443

penulis: intan alfina