Mungkin kita pernah bertanya pada diri sendiri, “Setelah ini, apa lagi yang ingin dipelajari?” Atau, bisa jadi pertanyaan itu telah terkubur dalam di bawah rutinitas yang mendikte hidup kita?
Kita bangun, bekerja, pulang, lalu beristirahat untuk mengulang siklus yang sama. Sehingga muncul pertanyaan, dimanakah ruang bagi jiwa untuk tumbuh, berkembang, dan menemukan makna di dunia yang terus berlari?
Denis Waitley pernah menulis, “Continuous learning is the minimum requirement for success in any field.” Sederhana, tetapi dalam. Belajar bukan hanya tentang keterampilan kerja atau pengetahuan akademik, melainkan juga soal keberanian untuk terus memaknai hidup. Hidup ini, dengan segala ketidakpastiannya, adalah kelas terbesar yang pernah kita miliki. Pertanyaannya, apakah kita cukup bijaksana untuk tetap menjadi murid?
Coba renungkan! Pikiran kita seperti sebuah taman. Jika dibiarkan begitu saja, gulma akan tumbuh, menghalangi benih-benih yang pernah kita tanam. Tapi jika kita terus merawatnya—menanam ide-ide baru, menyirami dengan pengalaman, dan memangkas kebiasaan buruk—taman itu akan menjadi tempat yang indah, penuh warna, dan inspirasi.
Namun, seperti tubuh yang butuh latihan untuk tetap kuat, pikiran kita juga perlu tantangan. Tanpa itu, ia melemah. Coba lihatlah sekeliling! Berapa banyak dari kita yang merasa terjebak dalam “zona nyaman”? Kita sering terjebak oleh pola pikir yang stagnan, takut keluar dari batasan, dan lupa bahwa setiap kegagalan adalah bagian dari belajar.
Dunia saat ini bergerak lebih cepat daripada yang bisa kita kejar. Pekerjaan yang hari ini kita tekuni, bisa jadi esok sudah digantikan mesin. Teknologi terus berkembang, dan orang-orang yang menolak belajar akan tertinggal. Tetapi belajar bukan hanya soal relevansi pekerjaan. Ia adalah tentang memahami cara dunia bekerja, dan bagaimana kita menemukan tempat kita di dalamnya.
Seorang tukang kayu yang tidak lagi belajar menggunakan alat-alat baru. Pisau dan palu tradisionalnya mungkin memang tetap berfungsi, tetapi apakah ia bisa bersaing dengan mereka yang telah menggunakan teknologi laser? Sama seperti tukang kayu itu, kita harus mau belajar, tidak hanya agar tetap relevan, tetapi juga untuk membuka pintu-pintu baru yang sebelumnya tertutup.
Namun, belajar tidak selalu harus besar atau penuh ambisi. Ada kebijaksanaan dalam hal-hal kecil. Membaca buku yang sudah lama tertunda, mempelajari bahasa baru hanya karena ingin memahami lagu favorit, atau bahkan belajar mendengarkan orang lain dengan lebih baik—semua ini adalah bentuk pembelajaran.
Oprah Winfrey pernah berkata, “Hidup adalah ruang kelas terbesar.” Beliau, yang mewawancarai banyak pemikir besar dunia, adalah contoh bahwa belajar tidak harus terbatas pada institusi formal. Kita belajar dari percakapan, dari perjalanan, dari kesalahan, bahkan dari diam. Setiap momen adalah guru, jika kita cukup rendah hati untuk mendengarkan.
Mungkin Anda pernah mendengar, “Orang bijak adalah mereka yang tahu bahwa ia tidak tahu.” Pernyataan ini menggambarkan esensi pembelajaran seumur hidup. Bukan tentang merasa tahu segalanya, melainkan tentang menyadari betapa banyak yang belum kita ketahui. Dengan cara ini, belajar adalah cara kita menghormati kehidupan itu sendiri—sebuah pengakuan bahwa dunia ini terlalu luas untuk kita pahami sepenuhnya, tetapi terlalu indah untuk tidak dicoba.
Lantas, apa artinya ini bagi kita? Ini tentang menghidupkan kembali rasa ingin tahu yang pernah kita miliki sebagai anak-anak. Tentang melihat dunia bukan sebagai tempat yang membosankan, melainkan penuh misteri yang menunggu untuk dipecahkan. Ini tentang berani mengambil langkah pertama menuju sesuatu yang baru, bahkan jika itu terasa menakutkan.
Jadi, saat Anda membaca ini, tanyakan pada diri sendiri: Apa yang ingin Anda pelajari hari ini? Tidak perlu sesuatu yang besar. Bahkan langkah kecil pun cukup, asalkan itu membawa kita lebih dekat pada kebijaksanaan. Karena pada akhirnya, hidup ini adalah tentang perjalanan menuju akhirar. Dan belajar adalah jalan sunyi yang akan selalu membawa kita lebih dekat pada makna sejati kehidupan.
Ulujami, 12 Januari 2024
Muhammad Irfanudin Kurniawan
Dosen Universitas Darunnajah

