Ilmu Kalam di Era Media Sosial
Apa yang terjadi jika kebijaksanaan berabad-abad bertemu dengan hiruk-pikuk media sosial yang serba instan? Ilmu Kalam, disiplin teologi Islam yang dikenal karena kedalamannya dalam merumuskan keyakinan, kini berada di tengah pusaran dinamika global: politik yang semakin polar, perdebatan yang dangkal di media sosial, dan perubahan cara manusia berinteraksi dengan pengetahuan.
Bisa Kita bayangkan, jika filsuf abad ke-10 seperti Al-Ghazali, duduk di sebuah ruang diskusi media sosial, berusaha menyampaikan argumen filosofis tentang keberadaan Tuhan kepada audiens yang lebih tertarik dengan meme atau vidio reels lucu-lucuan. Tantangan ini menjadi nyata ketika kita melihat bagaimana media sosial dan isu global mendorong agama ke ruang diskusi yang semakin sempit, sering kali terjebak dalam kerangka hitam-putih.
Ilmu Kalam sejak awal bukan sekadar disiplin yang menjawab pertanyaan teologis, tetapi juga membangun dialog dengan ilmu-ilmu lainnya. Dalam sejarah Islam, para mutakallimun (teolog Islam) sering kali menjadi ilmuwan yang juga menguasai logika, filsafat, matematika, dan astronomi. Al-Farabi, misalnya, menjembatani filsafat Yunani dengan tradisi Islam, membuktikan bahwa diskursus agama bisa memperkaya ilmu lainnya.
Namun, di era modern, fragmentasi ilmu justru sering kali mengisolasi agama dari diskusi-diskusi penting, seperti perubahan iklim, ketidaksetaraan global, dan etika teknologi. Ketika dunia menghadapi krisis eksistensial seperti perubahan iklim atau konflik politik, pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan nilai spiritual dengan sains dan politik menjadi semakin penting.
Misalnya, bagaimana Ilmu Kalam dapat berbicara tentang etika kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi pusat perhatian dunia? Konsep “kehendak bebas” dalam teologi Islam dapat menjadi dasar dalam membangun diskursus etik terkait pengambilan keputusan AI, yang sering kali dianggap sebagai algoritma “netral.”
Di satu sisi, media sosial memberikan peluang besar untuk menyebarluaskan pengetahuan agama. Namun, platform ini juga menjadi tempat penyederhanaan ekstrem dari wacana yang kompleks. Narasi keagamaan sering kali direduksi menjadi slogan populis yang memecah belah, bukannya menyatukan. Hal ini relevan dengan perkembangan politik global yang semakin polar, di mana agama sering kali menjadi alat politik untuk mempertajam perbedaan.
Dalam konteks ini, Ilmu Kalam dapat memainkan peran penting sebagai “filter epistemologis.” Sebagaimana mutakallimun dulu menggunakan logika untuk mengurai kontradiksi dalam teologi, pendekatan serupa dapat digunakan untuk membongkar hoaks dan narasi ekstremis yang marak di media sosial. Dengan kata lain, Ilmu Kalam bisa menjadi kompas intelektual untuk menavigasi dunia yang penuh distorsi informasi.
Selain perannya di ruang digital, Ilmu Kalam juga dapat membantu menciptakan respons moral terhadap isu-isu global. Ketika kita berbicara tentang krisis kemanusiaan, pengungsi, atau ketidaksetaraan ekonomi, konsep keadilan dalam Islam dapat menjadi landasan untuk mendorong kebijakan inklusif. Prinsip-prinsip seperti ‘adl (keadilan) dan ihsan (kebajikan) tidak hanya menjadi nilai-nilai teologis, tetapi juga bisa diterjemahkan dalam kebijakan publik.
Sebagai contoh, banyak negara di dunia saat ini bergulat dengan kebijakan imigrasi yang sering kali tidak manusiawi. Ilmu Kalam, dengan fokusnya pada martabat manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, dapat menjadi panduan moral dalam membentuk kebijakan yang lebih adil dan beradab.
Tantangan-tantangan ini memang besar, tetapi Ilmu Kalam bukan disiplin yang pernah menghindari kompleksitas. Sebagaimana Imam Al-Asy’ari dahulu keluar dari krisis intelektual untuk merumuskan doktrin teologi yang kokoh, kita juga dapat menggunakan Ilmu Kalam untuk menjawab tantangan global dengan keberanian intelektual.
Ilmu Kalam mengajarkan kita bahwa keyakinan tidak hanya tentang percaya, tetapi juga memahami. Di era di mana pemahaman sering kali menjadi barang langka, ajaran ini lebih relevan dari sebelumnya. Jika digunakan dengan bijaksana, Ilmu Kalam dapat menjadi jembatan antara nilai spiritual dan solusi praktis untuk dunia modern.
Maka, pertanyaannya: apakah kita siap menghidupkan kembali kebijaksanaan Ilmu Kalam dalam dunia yang penuh kontradiksi ini? Jawabannya ada pada kita semua, sebagai individu yang terhubung oleh iman dan tanggung jawab sosial. Dunia tidak hanya membutuhkan teknologi yang lebih canggih, tetapi juga moralitas yang lebih kokoh. Dan di sinilah Ilmu Kalam menemukan relevansinya.
Penulis: Dr. Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag.
Wakil Rektor III Universitas Darunnajah

