Mencari Makna “Keadilan Sosial” dalam Sila ke-5 Pancasila

Mencari Makna “Keadilan Sosial” dalam Sila ke-5 Pancasila
Mencari Makna “Keadilan Sosial” dalam Sila ke-5 Pancasila

Jika dipelajari dalam catatan sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia akan mudah kita temukan setumpuk cerita-cerita yang menggambarkan bagaimana perjuangan para tokoh saat mencari nama dasar negara setelah Jepang menepati janjinya untuk memberikan kemerdekaan bagi Indonesia.

Setelah menimbang banyak hal dan mengalami perdebatan panjang antara tokoh pemuda, tokoh adat dan agama, serta tokoh pejuang, akhirnya Pancasila dipilih sebagai nama dasar negara dan burung garuda sebagai lambangnya. Usut punya usut ide tentang pengambilan burung garuda yang memiliki makna perkasa pertama kali tercetus saat Bung Karno dibuang di Boven Digoel dan bertemu dengan temannya yang berasal dari Kaimana.

Seperti yang disampaikan oleh Menteri Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Ibu Puan Maharani yang mengunjungi Kampung Lobo dalam rangkaian Ekspedisi NKRI dan Bhakti PMK serta upacara Peringatan Hari kebangkitan nasional di Kaimana.

Setelah disetujui Pancasila pun disahkan oleh Panitia persiapan kemerdekaan atau yang kita kenal dengan singkatan PPKI pada 18 Agustus 1945.

Kata Pancasila sendiri berasal dari Bahasa Sangsekerta yaitu Panca berarti lima dan Sila yang berarti prinsip. Sehingga bisa diambil kesimpulan singkat bahwa Pancasila adalah lima prinsip dasar kehidupan yang dipakai dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia. Pemilihan kata Pancasila dan lambang burung garuda juga berasal dari fakta bahwa bangsa Indonesia secara lama dan berkala disebari oleh pemahaman dari Agama Hindu yang menggunakan bahasa sangsekerta (bahasa asal kata Pancasila) sebagai bahasa suci dan menganggap burung garuda sebagai Dewa dalam keyakinan mereka.

Keadilan sosial dalam sila kelima pancasila

Meskipun “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sampai saat ini masih menjadi jargon yang bisa di debat oleh siapa saja dengan mengatasnamakan banyak hal seperti, Kemanusiaan, pembangunan, kebebasan berekspresi dan lain-lainnya. Kita tidak bisa memungkiri bahwa penetapan kalimat dalam sila kelima bukan asal jadi, melainkan melalui banyak hal dan persetujuan. Panitia sembilan seperti yang ditulis dalam artikel dari “Media Indonesia” sebagai pihak yang bertugas dalam penyusunan kembali usulan dasar negara dari tiga tokoh kemudian menjadikan keadilan sosial sebagai penjabaran akhir dari rangkaian isi Pancasila.

Kita mengetahui bahwa nilai yang terkandung dalam sila kelima adalah nilai keadilan, sebuah nilai yang bisa terlaksana dan dirasakan jika semua pelakunya bukan hanya mengenal keadilan atau Berbuat adil hanya sebatas teori pengetahuan belaka. Bukan hanya tersimpan dalam janji-janji saat mencari suara dan hasrat ingin membangun rakyat, bukan hanya sebuah diskusi pemanis dihadapan pemimpin dalam rapat kemudian terlupakan karena terselip banyak kepentingan. Negara Indonesia menjadikan keadilan sosial sebagai pandangan hidup bersebab setiap masyarakat harus merasakan kesejahteraan secara lahir maupun batin.

Adil juga memiliki pengertian lain yaitu, ketika negara kita yang berlandaskan pada demokrasi mampu mengakui dan menjunjung tinggi kedaulatan yang dimiliki oleh rakyat dengan mengutamakan prinsip keadilan dalam lembaga perwakilan rakyat. Sebuah lembaga yang di percaya oleh masyarakat akan mampu menampung segala usulan, aspirasi, permintaan juga kritik dari mereka yang merasa hanya sebagai orang biasa di tanah pertiwi.

Keadilan atau adil pun memiliki arti yaitu, saat menjalankan kewajibannya dalam memakmurkan masyarakat negara tidak boleh berpihak pada satu kabilah, suku, ras atau daerah tertentu. Sebab makna dari Keadilan sosial adalah ketika akses pendidikan, pekerjaan, dan penghidupan yang layak dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia seperti bunyi di akhir kalimat sila kelima.

Mengamalkan sila kelima dalam bermasyarakat

Sebagai masyarakat biasa dalam tatanan hukum nasional Indonesia, selain kita mendorong agar pemerintah dan negara menjalankan sila kelima secara baik dan benar, kita pun harus mengamali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan bentuk penerapan di kehidupan sehari-hari seperti:

  • Selalu menghargai hasil karya orang lain.
  • Tidak berkelakuan anarkis kepada orang lain.
  • Memiliki kemauan untuk menolong atau membantu orang lain.
  • Bersikap adil dan tidak membeda-bedakan orang lain. (Irfandi)