Tantangan Sains dan Teknologi di Dunia Pesantren

0
44

Tantangan Sains dan Teknologi di Dunia Pesantren

Pondok pesantren adalah institusi pendidikan dalam menanamkan akhlak mulia. Lembaga ini menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai agama Islam yang terus dipertahankan.

Dalam perjalanannya, pesantren memiliki visi besar membentuk para kader dalam menghasilkan generasi Mutafaqqih fiddin yang berkarakter. Proses pendidikan ini membekali para santri dengan ilmu dan kompetensi kehidupan (life skill), baik soft skill (ketrampilan non-teknis) dan hard skill (ketrampilan teknis) yang bervariatif.

Pada aspek Soft skill para santri dilatih memiliki nalar kritis dan kreativitas, kepemimpinan, komunikasi, dan retorika. Sementara Hard Skill, mereka diajarkan berupa keahlian bidang tertentu seperti Bahasa, kesenian, ketrampilan dan olah raga. Dari sini, mereka akan siap menjadi generasi penggerak di masyarakat.

Jumlah Pondok Pesantren yang ada di Indonesia sebanyak 39.167 unit (data Kemenag 2023 di https://www.kominfo.go.id). Ini menjadi tantangan sendiri bagi lembaga khususnya berkaitan dengan penyediaan sumber daya manusia. Para guru yang mengajar biasanya lebih banyak pada bidang agama.

Jumlah mereka cukup melimpah di bidang ini. Namun, Ketika bergeser ke bidang Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi (Mafikib) para guru yang mengajarkan materi-materi tersebut tampak begitu terbatas. Pada sebagian pesantren, meskipun ada guru yang mengajarkan materi tersebut, tetapi karena keterbatasan keahlian, akhirnya diajarkan oleh guru seadanya. Mereka terlihat kurang profesional, yang berakibat hanya sekedar menjalankan rutinitas saja.

Selain itu, materi Mafikib tersebut selalu menjadi persoalan sendiri di kalangan santri. Mereka menjadikan ‘momok’ bahwa pelajaran matematika sulit dan tidak menarik. Disinilah, para guru dituntut untuk menguasai materi-materi itu dan mampu berinovasi bagaimana mengajak para santri agar tertarik mempelajarinya. Kondisi ini menjadi tantangan bagi dunia pesantren.

Pada tataran lebih luas, kita melihat kebutuhan masyarakat global menuntut para santri tidak hanya memiliki latar belakang keilmuan agama saja, tetapi juga dihadapkan dengan bidang-bidang lain seperti sosial, humaniora, sains dan teknologi. Sebagian pesantren yang begitu dinamis melihat perkembangan zaman, tentu saja sudah siap menjawab tantangan itu melalui kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan aspek keagamaan dengan yang lain, seperti pada beberapa contoh model pesantren berikut: Pesantren Agribisnis, Pesantren Bisnis Indonesia, Pesantren Sains, Pesantren Teknologi Informasi, dan Pesantren Militer.

Namun, sebagian pesantren lain masih kesulitan merespon transformasi yang terjadi. Beberapa alasan diantaranya adalah aspek sumber daya guru-guru yang menjadi isu di kalangan lembaga ini. Mereka kesulitan mencari guru ahli pada bidang Mafikib yang bersedia mengajar. Memang, bagi dunia pesantren untuk menyiapkan guru-guru materi agama di lingkungannya tidaklah terlalu sulit. Banyak para alumni pesantren, perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri yang siap berkiprah di dunia pesantren.

Namun, pada bidang Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi (Mafikib) kalangan pesantren perlu berjuang menggali potensi kadernya untuk belajar di bidang-bidang tersebut. Inilah menjadi tugas utama lembaga untuk menutupi kekurangan penyediaan sumber daya manusianya, khususnya guru-guru di bidang yang masing jarang digeluti para santri.

Untuk itu, Universitas Darunnajah berusaha mengambil peran dalam menjawab tantangan dunia pesantren tersebut. Fakultas Sains dan Teknologi di universitas ini membuka tiga Program Studi; Sains Aktuaria, Rekayasa Perangkat Lunak, dan Sistem dan Teknologi Informasi. Ketiga prodi ini berperan signifikan bagi penyediaan sumber daya guru, yang besar harapannya dapat menjawab persoalan yang dihadapi kalangan pesantren. Sains Aktuaria adalah disiplin ilmu yang mempelajari matematika dan statistika untuk menganalisa resiko sebuah usaha.

Bidang ini selain membantu penyediaan guru-guru matematika, pada saat yang sama juga dapat membantu dalam menghitung tingkat resiko finansial sebuah unit usaha pesantren. Adapun pada Progam studi Rekayasa Perangkat Lunak, para mahasiswa belajar aspek pemograman, data analisis, dan pengembangan software. Bidang ini sangat penting karena masih sangat minim dimiliki oleh kalangan pesantren.

Sementara pada program Sistem dan Teknologi Informasi, para santri belajar jaringan, pemrosesan, analisis, dan penyampaian informasi yang mendukung pengambilan keputusan dalam suatu sistem organisasi. Ketiga bidang ini menjadi poin penting bagi pesantren agar dapat menyediakan sumber daya santri yang siap berkompetisi di dunia global yang tidak bisa dilepaskan dari kemajuan sains dan teknologi. Penyempurnaan sistem Pendidikan dan nilai perlu terus dijaga agar dapat merespon transformasi zaman. Sebagaimana moto yang selalu dipegang kita bersama “المحافظة على القيم و التغيير إلى الكمال” menjaga nilai-nilai dan perubahan menuju kesempurnaan.

Kita berharap semoga dunia pesantren tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam menyiapkan kader-kader agama dan bangsa. Mereka menjadi para Munzirul Qaum yang siap memimpin masyarakat dunia, tidak hanya berlatarbelakang agama saja, tetapi juga dapat menguasai bidang-bidang lain seperti humaniora, sains dan teknologi. Amin.

Penulis : Dr. Much Hasan Darojat