Sumbangan Pesantren kepada ASEAN dan Dunia

0
57

Sumbangan Pesantren kepada ASEAN dan Dunia
Pengalaman Pesantren Darunnajah

Dr. Muhammad Irfanudin Kuniwan, M.Ag
Wakil Rektor Universitas Darunnajah

Pondok pesantren merupakan pusat pendidikan agama Islam yang berkembang selama berabad-abad. pada tahun 2018 data pesantren menembus angka 28.194 unit dan pada tahun 2023 data tersebut terus meningkat di angka 39.043. Sebagai sebuah lembaga, saat ini pesantren telah mendapatkan legalitas resmi dari Pemerintah dengan terbitnya undang-undang pesantren no 18 tahun 2019. Walaupun dinilai terlambat, kehadiran undang-undang ini setidaknya memberikan angin segar tentang upaya pesantren untuk lebih mengukuhkan eksistensinya, tidak hanya di level Nasional tapi juga di level internasional. 

Pasal 1 undang-undang tersebut berbunyi “Pondok Pesantren, Dayah, Surau, Meunasah, atau sebutan lain yang selanjutnya disebut Pesantren adalah lembaga yang berbasis masyarakat dan didirikan oleh perseorangan, yayasan, organisasi masyarakat Islam, dan/atau masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt., menyemaikan akhlak mulia serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil’alamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat, dan nilai luhur bangsa Indonesia lainnya melalui pendidikan, dakwah Islam, keteladanan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Pesantren sebagai subkultur, memiliki kekhasan yang telah mengakar serta hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dalam menjalankan fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat. Secara historis, keberadaan pesantren menjadi sangat penting dalam upaya pembangunan masyarakat, terlebih lagi karena bersumber dari aspirasi masyarakat yang sekaligus mencerminkan kebutuhan masyarakat.

Helmiati dalam bukunya tentang  Sejarah Islam di Asia Tenggara memberikan catatan yang sangat baik. Dia mengutip pendapat Prof. Azyumardi Azra bahwa Islam di Asia tenggara sangat “akomodatif” terhadap kepercayaan, praktek keagamaan, tradisi dan budaya lokal. Sikap akomodatif tidak lepas dari peran pesantren yang memiliki pendekatan tasamuh, tawazun, dan tawasuth, yang memberikan “ruang dialog” bagi semua komunitas yang ada. bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa lingkungan pesantren memberi dampak terhadap perubahan sosial, budaya, politik bahkan ekonomi. Pondok pesantren berdasarkan kompetensi dan keahlian, jumlah santri, dan usia pondok pesantren dan amal usaha telah mampu memberikan sumbangsih nyata dalam perjalanan dan pembangunan masyarakat, baik di lingkungan pondok pesantren, tingkat nasional bahkan Asean.

Oleh sebab itu, maka tidak salah apabila pesantren disebut sebagai institusi pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dan budaya di ASEAN. Penguatan Nilai-nilai tersebut nampak jelas dalam beberapa poin berikut:

  1. Pesantren di ASEAN memiliki peran kunci dalam mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai Islam. Mereka menyediakan pendidikan agama yang mendalam kepada ribuan santri dari berbagai negara di ASEAN. Dengan demikian, pesantren membantu memperkuat pemahaman agama Islam di seluruh kawasan. Hal ini terbentuk karena Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah Islamiah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat setelah mereka terjun di masyarakat baik Nasional, Asean bahkan internasional.
  2. Pesantren bukan hanya tempat untuk mempelajari agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum. Mereka memberikan pendidikan yang komprehensif kepada santri, menciptakan individu yang berpengetahuan luas dan siap berkontribusi pada pembangunan di negara-negara mereka. Seperti yang tersurat dalam motto pesantren yaitu berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran terbuka. Selain motto pesantren juga memiliki Dharma yang sangat erat hubunganya dengan jiwa nasionalisme dan patriotisme yang bisa menguatkan negara-negara di Asean bahkan di kancah Internasional. Kelima Dharma tersebut adalah Ibadah, Ilmu yg berguna di masyarakat, Kader Ummat, Da’wah Islamiyah, Cinta Tanah Air dan Berwawasan Nusantara.
  3. Pesantren sering mengadakan forum dan pertemuan yang melibatkan tokoh-tokoh agama dari berbagai negara ASEAN. Hal ini mempromosikan dialog antar budaya yang penting dalam menjaga kerukunan di kawasan yang beragam ini. tercatat dalam beberapa tahun terakhir terdapat beberapa kegiatan pesantren seperti konferensi Internasional pengasuh pesantren Asia Tenggara yang diinisiasi oleh Universitas Darunnajah dan Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia (P2I). Terkait konferensi ini, pimpinan Pesantren Darunnajah Jakarta, KH Hadiyanto Arief, menjelaskan, para pengasuh pesantren yang berkumpul di konferensi tersebut memang memiliki semangat untuk menghilangkan sekat antar sesama pesantren. “Semangat utamanya adalah P2I atau konferensi internasional ini sebenarnya adalah gerbong pengasuh pesantren se-Indonesia bahkan Asia Tenggara yang memang telah melepas batas dikotomi. Artinya kita tidak membeda-bedakan antara pesantren modern ataupun salaf, keduanya merupakan keunikan lembaga pendidikan Islam yang harus dikembangkan”. selain itu konferensi internasional pengasuh pesantren se-Asia Tenggara juga mendorong terbentuknya perguruan tinggi di pesantren dan program studi Manajemen Pesantren. dan untuk mengejawantahkan komitmen tersebut maka Universitas Darunnajah membuka konsentrasi Manajemen Pesantren di bawah program studi Manajemen Pendidikan Islam. 
  4. Pesantren di ASEAN aktif dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan ini bisa dilihat dari visi dan kreatifitas pesantren dalam melaksanakan kegiatan pendidikannya. Pesantren sangat kental dengan nilai persaudaraan. setidaknya ada ada tiga macam persaudaraan (ukhuwah), yang senantiasa diajarkan di lingkungan pesantren yaitu ukhuwah islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia). Ukhuwah basyariyah bisa juga disebut ukhuwah insaniyah. Pesantren yang menangkan nilai-nilai Islami sangat ahli dalam meramu keberagaman. Sebagaimana diketahui kata ‘Islam’ itu sendiri artinya damai. Arti damai ini sejalan dengan nilai-nilai pluralitas, kesetaraan dan kemanusiaan. bahkan Bhineka Tunggal Ika sebagai motto keberagaman di negara kesatuan Republik Indonesia telah menjadi nama acara di beberapa pesantren pada saat pengenalan kegiatan yang dilakukan di awal tahun pelajaran. Pesantren seperti Gontor dan Darunnajah menampilan “Bhineka Tunggal Ika” Penampilan tersebut terdiri dari gabungan beberapa  tarian tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, bahkan tarian dari mancanegara seperti barongsai dari Tiongkok, Muangthai dari Thailand ikut ditampilkan adalam acara ini. Melalui kegiatan ini pesantren mendidik para santri untuk dapat bersatu dan bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku ataupun budaya mereka. Mereka saling melengkapi satu sama lain tanpa memandang perbedaan yang ada, namun justru mereka menciptakan keserasian dari perbedaan tersebut.
  5. Pesantren juga berKontribusi aktif pada Pendidikan Anak-anak Miskin: banyak pesantren yang memiliki program beasiswa dan bantuan pendidikan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Mereka membantu menciptakan peluang pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda di ASEAN, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kawasan ini. Pesantren Darunnajah satu dari sekian pesantren yang memilik program beasiswa ini. Selain memberikan beasiswa untuk santri dalam negeri, Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta juga memberikan beasiswa kepada santri dari mancanegara seperti Afghanistan dan Thailand. Kurang lebih 50 beasiswa diberikan oleh Darunnajah kepada masyarakat Afghanistan melalui Afghanistan Indonesia School di Kabul. Selain itu 100 beasiswa diberikan kepada masyarakat Thailand melalui lembaga pendidikan Islam Thayaiwittaya School, Hat Yai,  Songkhla. Selain dua negara ini, beasiswa juga ditawarakan kepada masyarakat muslim di Vietnam dan Kamboja serta Philipina pada saat mengikuti lomba tahfidz Al-Qur’an tingkat Asean di Darunnajah. 
  6. Pesantren di ASEAN juga berperan dalam mendukung perdamaian dan stabilitas di kawasan. Sebagaimana telad dijelaskan bahwa pesantren mendorong nilai-nilai perdamaian, keadilan, dan toleransi yang menjadi landasan bagi hubungan harmonis antara negara-negara di ASEAN. Peran pesantren tercermin dalam mendukung perdamaian dan stabilitas keamanan negara. ini bisa dilihat dari pengalaman Darunnajah yang memfasilitasi kunjuang pemuka agama Afghanistan dan Pakistan. Seperti Kunjungan Delegasi Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan Mohammad Karim Khalili, High Peace Council (HPC) Afghanistan ke Pesantren ini. Delegasi HCP Afganistan yang dipimpin oleh mantan wakil presiden Afghanistan era Hamid Karzai, Muhammad Karim Khalili, sangat terkesan dengan sistem pendidikan yang dijalankan oleh Pondok Pesantren Darunnajah. Mereka ingin belajar bagaimana 700an lebih suku di Indonesia, 1000 lebih bahasa dan dengan 5 agama bisa hidup berdampingan dengan damai dan bersama membangun bangsa.

Dengan demikian, pesantren memiliki peran yang sangat signifikan dalam memperkuat nilai-nilai budaya dan keagamaan, meningkatkan pendidikan, serta mempromosikan dialog antarbudaya dan perdamaian. Selain itu Pesantren juga berkontribusi aktif dalam pembangunan sosial dan kultural yang kuat di di ASEAN bahkan Dunia.

Biodata Penulis

Muhammad Irfanudin Kurniawan, merupakan seorang akademisi yang lahir di Cianjur, 5 Oktober 1984. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah juga pesantren Salafiyah Nahdlatul Shibyan Al-Musri di kota Cianjur. Kemudian melanjutkan jenjang atas di Pondok Modern Gontor. pendidikan strata satu di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gonto pada tahun 2008 dan strata dua di Universitas Darussalam Gontor pada tahun 2016. Adapun strata tiga diselesaikan di universitas Sain Islam Malaysia (USIM) pada tahun 2023. saat ini diberi amanah sebagai wakil rektor universitas Darunnajah. Penulis dapat dihubungi melalui email irfanudinnk@darunnajah.ac.id.