Seni Dalam Membaca dan Menulis

0
111

Seni Dalam Membaca dan Menulis

Gambar: Ilustrasi Baca Tulis Arab

Ada satu hal menarik yang harus kita ketahui setelah ini bahwa: “Sesungguhnya manusia tidaklah benar-benar paham akan suatu perkara, sehingga apa yang dia pahamkan kepada orang lain adalah hanyalah pemahaman dari dirinya sendiri.”. Tidak pernah benar, tetapi tidak sepenuhnya juga salah. Itu mengapa ada ungkapan dalam Khazanah Islam: “Al-Insanu Mahalul Khoto Wan Nisyan”. Manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Kembali kepada judul, yaitu mebaca dan menulis. Membaca adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan sebuah informasi yang baru dan referensif, dalam kegiatannya banyak sekali metode yang bisa dilakukan dari hal membaca. Mulai dari membaca buku, membaca situasi, membaca sifat orang, membaca kekuasaan sang pencipta dan masih banyak lagi yang lainnya. Sementara itu menulis adalah kegiatan yang biasanya dikerjakan setelah kegiatan membaca, sehingga sebenarnya dua kegiatan ini tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Imam Syafi’I pernah berkata: “ketahuilah ilmu itu layaknya seekor buruan, dan menulis itu layaknya tali pengikat.”. Maka dari itu seseorang dalam perjalanan menuntut ilmunya harus senantiasa melakukan hal tersebut.

Kegiatan membaca di Indonesia sendiri untuk saat ini terhitung sangat memilukan karena dikutip dari GenPi.Co, bahwa minat baca di Indonesia menurut survei yang telah dilakukan oleh organinasi Pendidikan UNESCO termasuk yang paling rendah. Survei diambil dari 61 negara dan Indonesia menduduki peringkat 2 terbawah yaitu 60.

Sementara itu menanggappi survei tersebut guru besar Universitas Indonesia (UI) menyatakan: “Survei yang masih golongan rata-rata, karena sebenarnya masih banyak masyarakat diluar pulau jawa masih banyak yang terkendala dengan minimnya infrastruktur dan SDM.”. Boleh jadi hal ini benar adanya, dimana pemerintah kurang sekali dalam pemerataan penyedian infrastruktur dan SDM. Apabila semua sudah bisa menyeluruh mungkin bisa saja, dalam minat membaca Indonesia bisa menempati peringkat 1, minimal di lingkaran benua asia. Sedikit menambahkan lagi: “Mungkin saja, jika diukur dari masyarakat jawa saja, maka minat baca kita masih lebih tinggi dari Vietnam dan Malaysia,”, Rhenald Kasali.

Selanjutnya yaitu kegiatan membaca situasi, biasanya seorang pemimpin hebat selalu dianugerahi kemampuan ini yaitu membaca situasi, dalam berperang setidaknya seorang panglima jenderal jika menguasai akan hal ini maka dia akan bisa memenangi peperangan, bahkan lebih dari pada itu dia bisa bertamasya riang dimedan perang memporak-porandakan musuh. Hal ini juga yang pernah terjadi dan tercatat dalam sejarah Islam.

Bagi seorang muslim tentu pasti mengetahui sejarah pilu yang terjadi pada perang uhud, dimana perang tersebut memakan banyak pasukan dari tentara Islam, melalui celah yang mereka buat sendiri setelah tidak mematuhi sang jenderal perang yaitu Rasulullah SAW. Ada yang menggetarkan tetapi ini datangnya dari pasukan musuh, dimana seorang jendral perang kafir Quraisy kala itu Khalid Bin Walid mampu mebalikkan keadaan peperangan saat itu. Ya, kecerdikan membaca situasi melekat pada diri Khalid dia berhasil memutar 360 derajat dari kekalahan menuju kemengan kaum Quraisy. Kelak diakhir hidupnya dialah salah satu panglima pasukan islam yang paling kuat dan perkasa, julukannya adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Tidak ada satu peperangan yang dia pimpin kecuali kembali dengan kemengan. Kegemilangan inilah didapatnya dengan tentunya proses yang lama dan penuh kelelahan.

Dari pada itu semua, kegiatan membaca yang paling penting adalah membaca diri sendiri, memahami diri sendiri. Membaca yang satu ini merupakan yang paling sulit karena tembusannya, ketika sesorang dapat membaca dirinya maka dia akan mengenal tuhannya. “Man ‘arafa nafsahu, faqod ‘arafa rabbahhu”. Siapa yang mengenal dengan baik dirinya maka dia akan mengenal tuhannya, dari titik inilah marilah semua manusia untuk membaca dirinya atau dalam Bahasa lainya adalah intropeksi diri. Tidak sedikit manusia yang merasa benar dengan apa yang dilakukannya, tanpa pernah dia melihat atau berkaca kepada dirinya sendiri.

Dalam firmannya sampai-sampai Allah membenci siapa-siapa saja yang tidak sesuai antara lisan dan perbuatan. “(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Surat As-Shaff ayat 3. Maka dari itu inilah pentingnya kegiatan mambaca bagi kaum milenial, ayo mulailah membaca dari apa pun yang ada disekitarmu. Dan mulailah untuk pertama yaitu membaca diri sendiri.

Setelah selesai maka tugas selanjutnya adalah menulis. Menulis adalah sebuah ilmu tertinggi bagi seorang ‘Alim, bagi pencinta ilmu dan bagi pencari jati diri kehidupan. Banyak sekali contoh dari masa ke masa. Seperti kitab kuning atau Kutub Atturos yang ditulis oleh para ulama salafi terkait kaidah-kaidah agama, aturan bernegara dan masih banyak yang lainnya. Bisa dibayangkan para ulama ketika itu menulis dengan tulisan tangannya sendiri, belum ada tekhnologi canggih seperti komputer atau paling minimal mesin ketik. Mereka menulis kesluruhannya dengan pena yang dibasahkan dengan tinta dan dituliskannya dengan pelepah-pelepah atau media tulis ketika zaman itu.

Sementara itu dizaman sekarang ini ada juga bermunculan tulisan-tulisan, seperti buku panduan, buku pengajaran sekolah, dan juga yang bentuknya untuk menghibur seperti buku cerpen (Cerita Pendek), Novel (Fiksi) dan lain sebagainya. Tentunya tulisan itu sifatnya baku dan tidak akan terhapus dimakan zaman, maka dari itu ayok kita budayakan menulis. Menulis tidaklah selalu dibuku, karena banyak sekali dizaman ini platform-platform atau website untuk menulis, sebut saja facebook. Facebook merupakan platform sosmed yang paling banyak dipakai oleh seluruh manusia dibumi, banyak sekali yang bisa dilakukan dengannya termasuk salah satunya adalah menulis.

Ketahuilah satu peluru yang dihempaskan dari pistolnya hanya dapat menembus satu kepala saja, sementara itu, satu buku yang kau tulis bisa menembus sepuluh kepala dan bahkan lebih banyak lagi. Tidak hanya menulis secara harfiah saja, tetapi menulislah dengan prestasi-prestasi, ketika kau berhasil dalam satu bidang yang kau tekuni, maka kau telah menuliskan tinta dimuka bumi ini. Tentunya kau harus menuliskan sesuatunya dengan kebaikan dan kebermanfatan bagi banyak orang.

Sehingga kau dikenang sebagai Bunga Bangsa atau paling tidak nama kau tidak dicap sebagai kriminal dimuka bumi ini. Membaca dan menulis sekali lagi tidak dapat dipisahkan dari diri manusia. Ada pepatah juga yang mengatakan: “Dengan membaca kau kan mengenal dunia, dan dengan menulis dunia akan mengenalmu.”. Ketekununan dalam setiap perbuatan adalah keharusan bagi siapa saja, begitu juga dengan membaca dan menulis. Tidak pernah kita berfikir bahwa orang-orang yang pandai itu dikenal dari tulisannya. Boleh jadi jika seperti itu setinggi apapun ilmu yang kau miliki, tetapi kau tidak menuliskan apapun dalam kehidupanmu. Maka sejarah pun tidak akan mencatatnya. “Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian”, begitu juga yang diungkpakan oleh Pramoedya Ananta Toer, yang merupakan seorang legenda dengan karya-karya tulisannya. Menulis juga dapat dikatakan menciptakan seusuatu, semuanya fana.

Penulis: M. Rifal Mustakim