Piala Dunia dan Tradisi Membangun Identitas

0
28

Piala Dunia dan Tradisi Membangun Identitas

Oleh: Dr. Much. Hasan Darojat

Ajang empat tahunan turnamen sepak bola piala dunia 2022 telah datang. Masyarakat dunia harus bersabar menunggu empat tahun sekali untuk dapat menyaksikan perhelatan akbar yang dilaksanakan oleh FIFA. Qatar, sebuah negara kecil di kawasan Timur Tengah, sebagai negara penyelanggara telah mampu menunjukkan persiapan bagi ajang kompetisi ini. Sejak tahun 2010, setelah resmi ditunjuk oleh FIFA, negara ini bekerja keras membangun berbagai fasilitas meskipun diterpa dengan berbagai persoalan. Berbagai tuduhan seperti adanya isu suap kepada para pengurus FIFA dalam pemilihan kompetisi ini, hingga pelanggaran hak asasi manusia terhadap para pekerja yang menjalankan proses pembangunan fasilitas olah raga. Semuanya mampu dijawab dengan baik oleh pihak Qatar.

Pada minggu pertama kompetisi piala dunia ini, kita telah menyaksikan beberapa kejutan di luar dugaan banyak orang. Bagaimana kemenangan permainan sepak bola negara Arab Saudi yang mampu mengalahkan Argentina, sebuah negara penyandang piala dunia tahun 1986 dan memiliki salah satu pemain terbaik dunia, Lionel Messi. Demikian pula, Jepang yang berhasil mengalahkan Jerman, tim panser yang memiliki pengalaman malang melintang di piala dunia. Kedua peristiwa ini tampaknya menunjukkan kepada kita semua bahwa tidak mustahil bagi para pemain baru dalam dunia sepak bola untuk bersaing bahkan mengalahkan tim yang berpengalaman. Dalam bidang-bidang lainpun demikian, seperti pendidikan, bisnis, dan politik. Segala sesuatu bisa saja terjadi, dari kegagalan kepada kesuksesan, dari kerugian kepada keuntungan, dan dari kekalahan menuju kemenangan. Kasus-kasus di atas telah menunjukkan fakta-fakta ini.

Kompetisi piala dunia menunjukkan kepada kita bagaimana membangun identitas melalui kebiasaan. Tidak sekedar mengejar kemenangan. Para tim yang ikut kompetisi piala dunia bukanlah datang dengan tiba-tiba tanpa persiapan. Mereka mempersiapkan diri secara fisik dan psikis yang mendorong mereka tidak sekedar hadir sebagai pemain saja. Tapi juga menunjukkan identitas sebagai olahragawan profesional yang diraih melalui kerja keras. Para pemain menjadikan sepak bola sebagai kegiatan rutin untuk mencapai keahlian tertentu. Tidak tanggung-tanggung, mereka harus berlatih keras selama beberapa bulan yang dilakukan secara berkelanjutan, sehingga menjadi kebiasaan.

Demikian pula dalam aspek kesehatan. Kita mengkonsumsi makanan dengan tujuan bukan sekedar untuk dapat menjaga kesehatan. Lebih dari itu dalam rangka membangun kebiasaan hidup sehat. Ini adalah identitas. Tidak ada diantara kita yang menginginkan untuk sakit. Apalagi sebagai umat Islam, nilai keberkahan menjadi pondasi yang mendorong untuk mencapai kebiasaan tersebut. Dalam dunia pendidikan juga demikian. Kita membangun identitas sebagai pembelajar melalui rutinitas membaca dan menulis. Membaca berbagai persoalan dan ikut berkontribusi dalam memberikan solusi-solusi bagi kemaslahatan bersama. Melalui tulisan kita sebarkan ide-ide yang membangun  dan menginspirasi para pembaca. Kita menjadikan kedua aktivitas ini tidak sekedar untuk mencapai tujuan dalam keberhasilan di mata lembaga, kemudian mendapatkan selembar kertas ijazah atau sertifikat. Lebih dari itu, kita perlu membangun sistem berfikir dan membaca sebagai kebiasaan yang terus kita rawat, sehingga akan menjadi tradisi di antara kita.

Membangun tradisi pembelajar di dunia pendidikan perlu proses. Aktivitas yang konsisten dan terus menerus dilakukan akan membentuk pribadi kita. Kita adalah apa yang kita lakukan. We are what we do. Seberapa sering kita melakukan aktivitas itu, itulah diri kita sebenarnya. Semakin sering kita melakukan kegiatan yang rutin dan menjadi kebiasaan, maka akan terbentuklah identitas diri kita dengan hal rutin yang kita lakukan. Contohnya, apabila kita sering mendapatkan tugas baru dari seorang guru atau dosen, kita harus siap untuk melakukan yang terbaik dari kemampuan kita. Kita berusaha mencari solusi apabila menemukan kesulitan yang muncul, dengan bertanya kepada orang lain atau berkonsultasi kepada yang kita percaya. Kebiasaan kita dengan sikap yang terbuka untuk menjadikan tradisi pembelajar dalam menjalankan tugas harian, akan menunjukkan identitas kita sebagai seorang pembelajar. Dunia pendidikan akan memetik hasil jerih payah usahanya jika berhasil membentuk karakter seseorang pembelajar, yang selalu siap belajar dalam hidupnya.

Untuk itu, dengan momentum piala dunia yang datang hanya empat tahun sekali, setidaknya kita mampu merefleksikan diri dari fenomena yang ada dalam rentenan turnamen tersebut. Proses panjang menuju agenda piala dunia ini, banyak peristiwa yang bisa dijadikan pelajaran untuk kehidupan kita.

____________________________
Official Account University of Darunnajah:
Penerimaanwww.darunnajah.ac.id/pmb
Instagram@univ.darunnajah
YouTube : Universitas Darunnajah
FacebookUniversitas Darunnajah Jakarta
TiktokUniversitas darunnajah
Maps Darunnajah : Universitas Darunnajah
Whatsapp081222001443081240001302
Websitewww.darunnajah.ac.id