Merawat Kehidupan dengan Bersekolah

0
77
Ilustrasi Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas

Pendidikan untuk bangsa

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak pulau, Serta keanekaragaman budaya dan struktur sosial yang berbeda. Dikarenakan termasuk dengan negara kepulauan, Indonesia sering dijadikan objek penelitian dari beberapa pemerhati untuk melihat langsung hubungan yang bisa dibangun antara masyarakat dengan alam sekitarnya. Selain itu, pola bentuk indonesia secara demografis maupun geografis terkadang menimbulkan kelebihan dan juga di ikuti oleh kekurangan. Salah satunya dalam bidang pendidikan.

Keterbatasan negara ini dalam mengelola hasil kekayaan alam menyebabkan kelebihan yang dimiliki seperti tertutup. Namun, hal ini tidak lagi akan berpengaruh jika seluruh lapisan masyarakat dapat saling tolong – menolong membenahi masalah yang timbul. Bisa di awali dengan membenah sistem pendidikan untuk anak bangsa. mengingat pendidikan adalah nilai besar yang dapat mempengaruhi kehidupan suatu negara kedepannya.

Gerbang besar untuk menggapai cita – cita, berjuang terhadap mimpi dan menata masa depan untuk menjadi baik adalah pendidikan, bersekolah. Kita bisa melihat ilmu seperti apa yang disenangi, dan memilih teman untuk jadi jaringan terhadap ide – ide yang telah kita miliki. Bahkan dimanapun berada, pendidikan adalah tolak ukur utama dari sebuah bangsa untuk dia menjadi maju.

Tetapi pada kenyataannya pendidikan di Indonesia memiliki beberapa hambatan, diantaranya tersebar tidak merata. Apalagi daerah yang semakin jauh dengan ibu kota, suara – suara anak minta keadilan, akses jalan sangat rusak untuk ke tempat belajar, bangunan sekolah sangat tidak layak pakai, gaji guru begitu kecil bahkan tidak menerima upah mengajar, adalah perwakilan dari banyaknya kasus tidak merata pendidikan kita.

Dari sinilah timbul kesenjangan sosial antara masyarakat kota dan masyarakat di Desa. Ketika orang kota berteman media yang begitu mudah di akses, anak – anak desa masih belajar menggunakan pelita dan minim buku bacaan. Akibatnya pikiran orang – orang desa menjadi dangkal dalam memandang pendidikan. Mereka menilai, untuk apa belajar banyak dan nilai bagus di sekolah, tapi tidak punya akses untuk menerapkan ilmu dalam kehidupan karena minim fasilitas penunjang.

Dan juga kesejahteraan para tenaga pengajar kurang diperhatikan oleh pemerintah. Ada yang mendapat upah Rp. 300.000/bulan bahkan Rp. 100.000/bulan. Ini sudah jelas tidak berbanding lurus terhadap ilmu yang setiap hari diberikan untuk anak muridnya. Kalau guru ngaji ?, tidak usah ditanya jasa mereka, hanya ikhlas sebagai pedoman agar mau tetap setia untuk mengajar. Sebagian lainnya memiliki sampingan sebagai petani atau Nelayan ketika malam, beradu sedikit nasib di lautan walaupun besok pagi harus memberi ilmu dalam kelas.

Padahal kalau diperiksa lagi, ada permata yang tersembunyi dalam setiap daerah di Indonesia. Mereka tinggal menunggu kesempatan dan ter asah ilmunya, maka akan mudah menciptakan perubahan. Pak Yohanes Surya, membanggakan nama Indonesia dalam bidang Fisika dan ilmu Matematika dan mampu bersaing dengan ilmuan dari negara lain. Nona Gayatri Dwi Wailissa asal Ambon/Maluku, salah satu putri terbaik bangsa dengan banyak prestasi nasional maupun internasional. Dia menguasai 14 bahasa asing, sesuatu yang mungkin saja belum ada di Indonesia.

Kejujuran dalam belajar

Sekolah adalah sarana dimana anak-anak akan belajar mengenai kejujuran dan kesederhanaan. Mereka dikenalkan dengan orang baru yang berbeda-beda kebudayaan, keluarga bahkan keyakinan. Pelan-pelan semua anak akan diajarkan soal cinta kasih, menghargai, saling mengenal apa itu perbedaan. Sekolah juga akan melindungi mereka dari pembelajaran menipu, kebohongan, kejahatan, karena itu dapat direkam jelas dalam ingatan, apalagi untuk anak usia dini. Pokoknya sekolah adalah tempat paling relevan agar anak belajar bagaimana cara yang baik untuk memanusiakan manusia.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, serta pada jenjang pendidikan dasar, menengah, termasuk pendidikan anak usia dini. Dalam konsep yang lebih nyata, pengaruh guru sangat besar dalam perkembangan pendidikan anak jika itu disadari dengan baik oleh guru.

Salah satu kunci dari keberhasilan guru adalah bukan hanya nilai bagus yang terpajang. Tapi ilmu yang diberikan oleh sekolah dapat dikembangkan lanjut di kehidupan bermasyarakat. Jangan sampai sekolah menjadi tempat mencetak orang pintar dengan berpatokan pada nilai dan hasil akhir, dan setelah itu bingung cara mengaplikasikan ilmu itu. istilah murid bodoh dan pintar, sekolah biasa dengan sekolah internasional, jurusan IPA lebih baik dari jurusan IPS, adalah bentuk pengkotakan anak-anak untuk belajar. Jika yang diperhatikan adalah nilai dan bukan kejujuran serta semangat belajar, mereka akan melakukakn “jalan pintas” untuk sampai kepada tujuan mendapatkan hasil.

Dan peran guru dalam membangun tradisi (budaya) kejujuran dilingkungan akademiknya sangat penting dan luas. Di anggap sangat penting karena seorang guru itu bersentuhan langsung dangan muridnya melalui perasaan dan tingkah laku. Anak-anak secara tidak langsung punya sosok panutan yang akan diikuti. Contohnya ketika ulangan, guru menyampaikan kepada para murid agar tidak boleh melihat contekan baik pada teman atau buku catatan. Jika sekali belum berhasil, maka coba dengan pendekatan yang baik.

Fenomena ujian nasional di Indonesia telah banyak diperdebatkan apakah dia perlu untuk mengukur keberhasilan seorang siswa dalam belajar. Yang lebih miris dari UN adalah menganggap bahwa semua siswa itu sama. Budaya kejujuran yang telah terbangun kokoh dari mulai Sekolah Dasar menjadi halu tidak terbuktikan. Semua lenyap oleh kunci jawaban yang tersebar bebas diantara siswa. Nilai kejujuran adalah musibah untuk siapa yang berani menggunakannya ketika UN. Dalam buku Pak Ahmad Baedowi “Calak Edu, Kumpulan Esai-esai pendidikan”, sebuah sekolah yang terkisah dalam buku itu “Sukma Bangsa” namanya. Memberikan gambaran jelas kondisi pendidikan kita hari ini, betapa guru – guru Sukma Bangsa ditekan segala segi karena enggan memberikan kunci jawaban pada saat Ujian Nasional, mereka bahkan sampai dipanggil oleh pemerintah setempat untuk mengikuti ketentuan yang telah diberikan. Alasannya adalah agar semua anak-anak dapat lulus dengan mudah.

Kenyataan dalam sistem pendidikan kita sekarang, sekolah mau tak mau menjadikan guru sebagi agen penindas, mengawasi, dan merendahkan martabat para siswa. sekolah telah berubah sistem penuh sensor yang mematikan bakat dan kreativitas anak untuk dia berkembang. Pekerjaan dan kewajiban sekolah menjadi diktator pemusnah harapan seorang siswa, bahkan sampai menghilangkan gairah para siswa untuk belajar jadi dirinya sendiri.

Para kritikus pendidikan melihat sekolah di zaman sekarang tak ubahnya penjara sosial, yang tidak mendukung nilai kejujuran. Mimpi anak-anak tidak memiliki tempat karena pihak sekolah lebih mengejar nilai bagus. Mereka tidak lagi di usahakan untuk mencintai kerja keras, kejujuran, akibatnya banyak lahirlah manusia kurang cerdas dan takut mengkritik. Mentalitas jalan pintas menjadi sebuah pilihan, rupanya sejalan dengan budaya bangsa kita.

Kasih sayang guru

Bagi seorang anak pendidikan merupakan suatu hak. Sedangkan untuk orang tua, pendidikan adalah kewajiban. Firman Allah SWT, “hai orang – orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS At-tahrim <66>:6). Ali Ibnu Abu Thalib menjelaskan, cara untuk menjaga diri dan keluarga adalah dengan mengajar dan mendidik anak-anak. Mendidik anak adalah memuliakan mereka agar mendapatkan kehidupan yang layak, menelantarkan anak adalah menjerumuskan mereka ke dalam lembah kebodohan.

Mendidik dan mengajar adalah tugas besar untuk orang tua dan guru. kedua ikhtiar ini membutuhkan sikap sabar dan ikhlas. Caranya juga dilakukan dengan penuh kasih sayang bukan dengan menghardik atau menghajar. Karena sikap kasar cenderung menumbuhkan pikiran tidak baik untuk jiwa anak-anak. Mendidik mereka harus menggunakan pendekatan penuh kasih. Karena menghardik berbeda dengan mendidik, menghajar berbeda dengan mengajar. Semua itu tidak akan terjadi jika guru mengedepankan rasa kasih sayang sebagai sarana utama pengajaran.

Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa yang tidak punya belas kasihan, niscaya tidak akan dikasihani”. HARDIKNAS yang diadakan setiap tahun di Bulan Mei, meninggalkan banyak pertanyaan tentang masa depan pendidikan kita. Guru telah beralih fungsi dari seorang pemberi tempat teduh menjadi pemberi ketakutan pada aktivitas belajar. Tertekan dengan sistem, dituntut agar menguasai banyak pelajaran dalam waktu bersamaan, menimbulkan masalah selanjutnya yaitu berhenti sekolah karena tidak tahan dengan sistem.

Mendidik dengan kasih sayang harus ditunjukan oleh sikap dan perilaku kepada murid. Pertama guru adalah orang tua kepada murid,

“sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orang tua kepada anaknya. Aku mengajari kalian”. (ibnu majah melalui Abu Hurairah)

Kedua, guru manyadari bahwa anak adalah amanah yang dititipkan oleh Allah. Maka dari itu tak boleh ada istilah anak tiri atau anak kandung. Semua anak punya hak untuk menjadi anak kandung, dengan itu kasih sayang yang akan diberikan untuk semuanya.

Imam Al Ghazali berkata “hak guru atas muridnya lebih agung dibandingkan hak orang tua terhadap anaknya. Orang tua sering hanya menjadi penyebab adanya anak di alam fana dan guru menjadi penyebab hidupnya yang kekal” peran guru sangat strategis dalam mendidik kepribadian siswa.

Ketiga, cara perhatian guru harus diperhatikan dengan benar. Jangan sungkan untuk memberikan penghargaan tapi juga tidak berlebihan dengan mengumbar pujian. Jika murid kurang paham terhadap pelajaran beri dia arahan, tapi jangan setiap saat memberikan teguran.

Perihal mendidik anak pintar juga bukan perkara mudah, guru harus punya strategi agar anak itu menjadi orang yang rendah hati. Untuk anak nakal biasanya kesabaran guru akan di uji, jika tidak bisa menguasai hawa nafsunya bisa saja guru akan menghardik bahkan memukul.

Jika guru menggunakan kekerasan dalam mendidik anak, pendidikan akan mulai hilang nilai positifnya. Ini juga akan memberikan wacana nilai kemanusiaan menjadi terguras. Dampaknya akan memunculkan anak yang labil emosinya, dan suka berbuat kasar akibat pendidikan yang dilihat langsung. Karena itu guru harus memberikan kasih sayang dalam mengajar ataupun mendidik. Dengan itu secara tidak sadar dia telah memberikan contoh tentang penerapan nilai – nilai kemanusiaan.

Tidak ada anak yang bodoh

“tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar” perkataan ini berasal dari seorang guru hebat Prof. Yohanes Surya PhD. Yang menarik adalah beliau melanjutkan bahwa, orang Indonesia itu cerdas, jika diberi kesempatan dan dilatih dengan baik. Untuk membuktikan pendapatnya ini, maka beliau pergi ke Papua untuk mencari murid yang paling bodoh, yang paling sering tinggal kelas, yang tidak bisa menjumlahkan, pokoknya yang bodohnya tak ketulungan kata orang jakarta.

Mereka di bawa ke jakarta, dalam tempo 6 bulan anak-anak itu sudah menguasai pelajaran kelas 1 sampai kelasa 6 SD.  Ada satu orang anak yang sudah 4 tahun tinggal kelas di kelas 2 SD, dilatih kemudian menjadi juara nasional untuk olimpiade matematika, dan juga menjadi juara lomba membuat robot tingkat nasional. Masih sungguh banyak prestasi yang dicapai sang guru ini, cukuplah memberi kesempatan bagi anak-anak dari desa terpencil di Indonesia, mereka bisa menjadi juara dunia.

Penulis: Irfandi