Mengagungkan Asma Allah dari Universitas Darunnajah

0
32

7 Oktober 1994 adalah waktu yang selalu dikenang keluarga besar Pesantren Darunnajah. “Hari ini sangat bersejarah buat pesantren ini, pribadi saya, keluarga, dan umat Islam,” kata pewakaf KH Abdul Manaf Mukhayyar (1922-2005).

Di hadapan sejumlah duta besar negara asing, Menteri Agama RI Tarmizi Taher, sejumlah ulama, dan tokoh masyarakat, alumnus Sekolah Jamiat Kheir itu mengikhlaskan sejumlah tanah dan bangunan diwakafkan untuk umat Islam. Tujuannya adalah untuk keberlangsungan aset tersebut hingga kiamat. Saat itu, Pesantren Darunnajah sudah menjadi tempat banyak santri dari berbagai kawasan mencari ilmu dan hikmah.

“PENGURUS YAYASAN DARUNNAJAH BEKERJA LILLAHI TA’ALA, BERJUANG, MENGHIDUPKAN, MENINGGIKAN ASMA ILAHI…JIKA KEMUDIAN KITA MELIHAT ALLAH MEMAJUKAN DARUNNAJAH, MAKA KITA HARUS BERTASBIH, BERTAHMID, DAN BERISTIGHFAR,” lanjut Kiai Abdul Manaf.

Ungkapan ini terinspirasi dari firman Allah dalam Surah an-Nashr ayat 1-3. Ketika pertolongan Allah datang berupa kemudahan membebaskan dan memenangkan Kota Makkah, ramai orang datang berduyun-duyun masuk Islam. Kemenangan biasanya dirayakan dengan riang gembira, pesta pora, dan tertawa penuh rasa bangga.

Namun, bukan itu yang terjadi. Justru Allah memerintahkan umat Islam untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighfar. Perintahnya adalah fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu, bertasbihlah dengan memuji Allah dan memohon ampunan. Sungguh perintah yang mulia yang tak terpikirkan banyak orang.

Tak hanya para sahabat bersama Rasulullah ketika membebaskan Kota Makkah, para pejuang kemerdekaan Tanah Air juga melakukan hal sama. Sejarah mencatat pada peristiwa 10 November 45 para pejuang mengumandangkan takbir Allahu akbar berkali-kali membawa bambu runcing melawan prajurit sekutu yang membawa senapan mesin. Apa yang terjadi? Allah menolong mereka dengan kemenangan.

Kembali ke pidato Kiai Abdul Manaf. Meski 28 tahun lalu diucapkan, cita-cita pejuang kemerdekaan RI tersebut tetap menggetarkan hati banyak orang. Menjadi inspirasi yang membangun semangat mereka untuk menjaga dan terus mengembangkan lembaga wakaf tersebut.

KIAI ABDUL MANAF MEYAKINI BETUL BAHWA MEMBANGUN PESANTREN, MENDIDIK GENERASI PENERUS BANGSA, MENGUATKAN SUMBER DAYA MANUSIA, JUGA PERJUANGAN. Bobotnya setara dengan angkat senjata memerdekakan negeri ini.

Karena itulah dia, Kamaruzzaman, dan KH Mahrus Amin, sungguh-sungguh membangun dan mengembangkan Darunnajah. Bermula dari Darunnajah 1 di Ulujami, pesantren ini kemudian membuka Darunnajah 2 di Cipining, kampus ketiga di Serang, dan seterusnya. Kini wakaf tersebut sudah menjadi 21 cabang dengan 57 satuan pendidikan. Aset wakaf itu memberikan manfaat kepada belasan ribu santri dari seluruh Indonesia. Mereka mencari ilmu, dan kelak akan kembali ke masyarakat untuk mendakwahkan Islam di lingkungannya.

Salah satu unit pendidikan yang baru saja mendapatkan izin dari pemerintah pada Juni 2022 adalah UNIVERSITAS DARUNNAJAH. Cikal bakalnya adalah Ma’had Ali pada 1986. Seiring berjalannya waktu, berubah menjadi Institut Agama Islam Darunnajah (IAID) dengan program studi syari’ah tiga tahun kemudian.

Dalam perjalannya IAID mengalami perubahan nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Darunnajah (STISDA) pada tahun 1990. Nama ini berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA) bersamaan dengan penambahan Program Studi Tarbiyah pada tahun 1993. Kemudian berubah menjadi Universitas Darunnajah.

Perguruan tinggi menjalankan tiga kewajiban yang disebut tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Realisasi ketiganya tak sekadar melalui rutinitas jam belajar pagi hingga sore, tapi berkelanjutan. Referensi belajar mahasiswa di dalamnya bukan hanya buku dan fenomena sosial saat ini, tapi juga keteladanan orang-orang saleh pada masa lalu. Juga riyadhah batin yang dijalankan masing-masing mahasiswa dan civitas akademika di dalamnya.

Tradisi berzikir mengagungkan asma Allah, memperbanyak ibadah, dan mengaji kitab ulama, akan menjadi kegiatan inspiratif UNIVERSITAS DARUNNAJAH. Sebuah perguruan tinggi pesantren yang berdiri dan mencerahkan Ibu Kota Jakarta.

Tradisi yang terakhir ini bukan hal baru. Sejak lama Kiai Abdul Manaf membiasakan diri memperbanyak ibadah dalam keseharian. Di antaranya adalah memperbanyak shalawat dan zikir bakda shalat. Dia membiasakan diri bangun tidur pada dini hari untuk kemudian melaksanakan qiyamul lail selama satu jam. Shalat dhuha juga dikerjakannya setiap pagi.

Karena terbiasa mengamalkan riyadhah itu, Kiai Manaf merasakan banyak urusannya dimudahkan Allah. Dia pun membiasakan anak-anaknya untuk melakukan hal yang sama. Juga mengimbau para santrinya untuk memperbanyak zikir mengagungkan asma Allah dalam menjalani kehidupan.

Tradisi berzikir mengagungkan asma Allah, memperbanyak ibadah, dan mengaji kitab ulama, akan menjadi kegiatan inspiratif UNIVERSITAS DARUNNAJAH. Sebuah perguruan tinggi pesantren yang berdiri dan mencerahkan Ibu Kota Jakarta.

Suatu kesyukuran, Allah menurunkan pertolongan-Nya berupa kemudahan membangun Universitas Darunnajah. Dengan nikmat ini, maka haruslah disyukuri dengan bertasbih, bertahmid, bertakbir, beristighfar, dan memperbanyak zikir lainnya, sebagaimana Rasulullah dan sahabat melakukan itu setelah berhasil menaklukkan Kota Makkah. Juga seperti para pahlawan negeri ini bertakbir saat berjuang.

Zikir menjadi jalan bagi Darunnajah mendapatkan pertolongan Allah untuk lebih banyak berkhidmah membangun negeri, sebagaimana dirasakan Kiai Abdul Manaf Mukhayyar dahulu.

(ERDY NASRUL)