Jadi Pembicara di AICIS Ke-21 2022, Ust. Muhammad Irfanuddin Kurniawan, M.Ag., Bahas Relevansi Pancasila dengan Syi’ah di Indonesia

0
14

BALI, UNIVERSITAS DARUNNAJAH NEWS,- Wakil Rektor I Universitas Darunnajah, Ust. Muhammad Irfanuddin Kurniawan, M.Ag., menjadi salah satu pembicara pada The 21th AICIS Ke-21, 2022 dengan Tema: “The Interplay Between Pancasila and Imamah: The Case Study of Indonesian Syiah”.

Berikut Materi yang Beliau paparkan berkaitan dengan tema tersebut.

Perkembangan Syiah di Indonesia terus meningkat dari hari ke hari. Ini bisa terlihat dengan munculnya berbagai institusi Syiah, baik yang berlatar belakang sosial seperti yayasan, serta pendidikan dan universitas. Dalam 20 tahun terakhir ini, berbagai institusi telah berkembang cukup pesat. Contohnya adalah kelahiran dua organisasi yang berafiliasi dengan Syiah, yaitu Jamaah Ahlul Bait Indonesia Ikatan (IJABI) yang dideklarasikan pada tahun 2000-an dan Ahlul Bait Indonesia (ABI) pada tahun 2010. Hal yang menarik adalah, meskipun memiliki ideologi imamah, yaitu kepemimpinan 12 imam setelah wafatnya Rasulullah, yang dalam prakteknya saat ini diwakili oleh wali faqih di Iran. tetapi pada saat yang sama mereka menyatakan Pancasilais, yaitu umat Islam yang menganut Pancasila. Sedangkan imamah dalam Pancasila sendiri pada dasarnya terletak di tangan rakyat. Ironi semacam ini menimbulkan perdebatan di antara para sarjana; Benarkah ideologi Syiah cocok dengan Pancasila? Oleh karena itu, penelitian ini akan mencoba mengungkap sejauh mana kesesuaiannya antara doktrin Imamah Syiah dan Pancasila.

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif karena merupakan campuran data yang didasarkan pada studi teoritis dan data empiris. Data diambil dari dua sumber, yaitu literatur dan juga wawancara dengan beberapa tokoh Syiah Indonesia. Oleh karena itu, proses analisis data menggunakan dua metode, yaitu deskriptif untuk perpustakaan sumber dan tekstual untuk hasil wawancara.

Penelitian ini akhirnya menyimpulkan bahwa perdebatan tentang kesesuain doktrin imamah dengan nilai-nilai Pancasila terbagi menjadi dua aliran besar. Pertama, mereka yang sepakat bahwa Imamah dan Pancasila saling mendukung dan melengkapi. Sebab, dalam pandangan internal Syi’ah, mengikuti Pancasila tidak harus lewat melalui pintu politik yang memang menjadi domain para imam, melainkan melalui etis yang dinamis dan kontekstual. Kedua, mereka yang tidak setuju dengan keserasian antara Imamah dan Pancasila. Hal ini didasarkan pada beberapa fakta; diantara mereka adalah bahwa kultus terhadap Imam Ali bertentangan dengan Prinsip Ilahi dan penyiksaan diri ritual mereka juga bertentangan dengan Prinsip Kemanusiaan yang menekankan keadilan dan kesopanan. Fakta bahwa hanya imam di Iran yang diakui secara politik oleh Syiah di Indonesia juga bertentangan dengan Asas Persatuan; otoritas mutlak para imam juga bertentangan dengan Asas Musyawarah; serta kewajiban dan kesetiaan para Syi’ah mendonasikan hartanya secara melimpah kepada para pemimpin juga bertentangan dengan egaliter Prinsip Keadilan.