Isra’ Mi’raj Momentum Muhasabah Diri

0
3267

Isra’ Miraj merupakan salah satu peristiwa penting dalam awal perjalanan nubuwah Nabi Muhammad Shallahu ‘Alayhi Wassalam, karena mengisahkan perjalanan Nabi dari baytul Maqdis menuju Sidratul Muntaha atau langit ketujuh.

Dalam rihlah ruhani ini, Nabi Muhammad Shallahu ‘Alayhi Wassalam mendapat perintah dari Allah Subhanahu Wata’ala untuk melaksanakan shalat lima waktu, sebuah momentum paling bersejarah di awal perjuangan dakwah islam.

Dalam terminologi Arab Isra’ berarti perjalanan di malam hari, dan Mi’raj adalah kenaikan, Isra’ Miraj merupakan perjalanan suci, dan bukan hanya sekedar ‘wisata’ bagi Rasul. Isra Miraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad Shallahu ‘Alayhi Wassalam dari kota mekkah kemudian kemasjidil Aqsa di Palestina.

Kemudian Nabi Muhammad dinaikan oleh Allah Ta’ala menuju langit, disana Nabi Shalallahu ‘Alayhi Wassalam bertemu para Anbiya’ disetiap tingkatan langit dan menemani rihlah Nabi sampai ke langit ketujuh.

Latar belakang peristiwa Isra’ Miraj disebabkan oleh kesedihan Nabi Muhammad Shallahu ‘Alayhi Wassalam atas wafatnya paman nabi Abu Thalib yang telah membela nabi diawal dakwanya, kemudian disusul sang istri tercintanya, khadijah.

Pada masa-masa inilah peristiwa Isra Miraj terjadi. Menurut Al-Maududi dan mayoritas para Ulama, Isra Miraj terjadi pada tahun pertama sebelum hijriyah, yaitu diantara 620-621 H.

Ayat Al-Qur’an mengkisahkan perjalanan Isra’ Miraj Nabi Muhammad Shallahu ‘Alayhi Wassalam dalam surat Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Pada langit pertama, Rasulullah bertemu dengan nabi pertama, Nabi Adam AS. Kemudian saat sampai di langit kedua, Rasulullah kemudian bertemu dengan dua nabi, yakni Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS.

Rasulullah berlanjut ke langit ketiga dan bertemu dengan Nabi Yusuf AS. Setelah bertemu dengan Nabi Yusuf AS, Nabi Muhammad kembali melanjutkan perjalanannya ke langit ke-4 dan bertemu dengan Nabi Idris. Di langit ke-5, Rasulullah bertemu dengan Nabi Harun.

Jika sebelumnya pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan para nabi terdahulu dipenuhi kebahagiaan, hal berbeda justru terlihat saat ia bertemu dengan Nabi Musa AS. Kesedihan Nabi Musa saat bertemu dengan Rasulullah terjadi pada langit keenam.

Nabi Musa menangis saat Nabi Muhammad hendak melanjutkan perjalanannya ke langit ketujuh. Karena Nabi Musa AS menyesal karena tidak bisa memaksimalkan usianya yang Panjang untuk berdakwah pada umatnya agar tunduk sepenuhnya kepada Allah Ta’ala

Setelah Nabi Muhammad SAW melampaui langit ketujuh, Malaikat Jibril tidak bisa lagi menemani karena tidak mendapatkan izin dari Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW kemudian menuju Baitul Ma’mur dan menghadap kepada Allah Ta’ala. Pada saat itulah Allah Ta’ala menurunkan perintah salat wajib sebanyak 50 kali dalam sehari untuk umat Islam. Nabi Muhammad SAW pun kembali namun ketika melewati Nabi Musa, beliau disarankan untuk meminta keringanan waktu salat.

Nabi Muhammad berkali-kali untuk meminta rukhsoh atau keringanan waktu salat kepada Allah Ta’ala hingga akhirnya diputuskan hanya menjadi 5 waktu salat dalam sehari.

Saat diminta oleh Nabi Musa untuk kembali meminta keringanan, Nabi Muhammad SAW menolak karena beliau merasa malu kepada Allah Ta’ala dan telah rela menerima perintah tersebut. Sekembalinya Nabi Muhammad ke Makkah, beliau menceritakan peristiwa Isra Miraj yang dialaminya kepada kaum quraisy. Mendengar cerita tersebut, sebagian kaum quraisy tidak mempercayainya, mereka menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW sudah menjadi gila.

Menanggapi Hal tersebut Abu Bakar tampil berbeda dengan kaum quraisy yang lain justru langsung mempercayai perkataan Nabi, penyebab inilah membuat Abu Bakar digelari Ash-Shidiq yang artinya membenarkan.

Selain bertemu para anbiya’, Nabi Muhammad Shallahu ‘Alayhi Wassalam diperlihatkan oleh Allah Ta’ala akhbar ghaib untuk manusia di akhirat kelak, diantaranya:

  • Nabi SAW kemudian melintasi sekelompok yang bercocok tanam, lantas langsung memanen hasilnya. Dan setiap kali memanen, tanaman itu kembali seperti semula. Ini adalah gambaran umat yang berjuang untuk agama Allah, dan Allah mengganti apa yang telah mereka infakkan.
  • Nabi SAW kemudian mencium aroma harum Masyitah, yang memegang teguh keyakinannya kepada Allah SAW, meski ia dan anak-anaknya dihukum dengan dimasukkan ke dalam penggorengan oleh Firaun.
  • Nabi bertemu pula dengan sekelompok orang yang yang memukul kepala dengan palu hingga pecah, lantas kepala itu utuh kembali dan dipukuli lagi. Ini gambaran orang yang malas atau meninggalkan shalat maktubah (shalat wajib).
  • Nabi melintasi sekelompok orang yang hanya mengenakan pakaian untuk menutupi kemaluan, digiring selayaknya binatang ternak, dan memakan tumbuhan berduri. Mereka adalah gambaran umat yang enggan berzakat meski sudah waktunya, seperti binatang ternak yang tidak mempunyai hati nurani.
  • Nabi juga bertemu orang yang disiksa dengan ditusuk dari bawah dubur hingga menembus mulut, dan ini gambaran orang-orang yang suka berzina dan meninggal dalam keadaan belum bertaubat.
  • Nabi juga bertemu sekelompok orang yang berenang di sungai darah dan dilempari batu-batu. Itu adalah gambaran orang yang memakan harta riba.
  • Nabi bersua pula dengan orang-orang yang mengumpulkan kayu bakar, mengikat dan memanggulnya, tetapi beban kayu bertambah. Mereka adalah simbol dari umat yang mengemban banyak amanah, namun tidak ditunaikan, dan malah menambah amanah lainnya.
  • Nabi melintasi orang yang saling mengguntingi lidah dan bibir dengan gunting besi, gambaran ahli fitnah.
  • Nabi bertemu kaum yang mencakar wajah dengan kuku panjang dari tembaga, gambaran orang yang gemar mengumpat dan menyebarkan aib.
  • Nabi berjumpa pula dengan wanita yang memakai perhiasan serba indah, yang merupakan gambaran dunia yang bisa melalaikan orang dari akhirat. Kelak akan ada perwujudan lain, wanita itu menjadi tua renta, yang menandakan betapa dekatnya dunia menuju hari kiamat.

Sesampainya di Baytul Maqdis, Nabi Muhammad mengerjakan shalat dua rakaat, menjadi imam para nabi di tempat tersebut. Beliau juga diberi tiga gelas dengan isi yang berbeda-beda, yatu khamr, susu, dan air putih.

Rasulullah memilih susu, yang disebut oleh Malaikat Jibril sebagai memilih fitrah atau agama Islam. Demikian makna dari peristiwa Isra’ Miraj semoga bisa menjadi muhasabah untuk diri kita agar selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.

(Maulana)

Official Account University of Darunnajah:
Penerimaan: www.darunnajah.ac.id/pmb
Whatsapp: 081222001443081240001302