Gontor Abad Kedua, UDN Hadir Perkuat Sinergi Pendidikan Pesantren

Gontor Abad Kedua, UDN Hadir Perkuat Sinergi Pendidikan Pesantren
Gontor Abad Kedua, UDN Hadir Perkuat Sinergi Pendidikan Pesantren

Ponorogo — Memasuki usia satu abad, Pondok Modern Darussalam Gontor tidak sekadar merayakan sejarah, tetapi menancapkan kompas untuk perjalanan peradaban berikutnya. Satu abad adalah bukti bahwa sebuah sistem pendidikan mampu melampaui perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Langkah strategis itu mulai diwujudkan dengan pengumuman penyusunan buku monumental bertajuk “Hadiah Gontor untuk Indonesia”.

“Insya Allah buku ini akan menulis berbagai langkah perjuangan Gontor, baik dari sisi keagamaan dengan sekian ribu kiai, dengan sekian puluh orang yang menjadi pejabat pemerintah, sekian orang yang jadi pengusaha, sekian orang yang menjadi penggerak masyarakat,” ujar Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, dalam forum Sarasehan Guru Besar dan Doktor Alumni Gontor, Sabtu (11/7/2026).

Dia menambahkan, buku ini akan mendokumentasikan khazanah sistem nilai yang selama ini diaplikasikan Gontor dalam membangun peradaban bangsa, mulai dari ranah keagamaan, pemerintahan, sosial kemasyarakatan, hingga penggerak roda ekonomi.

Sarasehan yang mengusung tema “Sistem dan Nilai Gontor: Dari Warisan Pendidikan Menuju Khazanah Keilmuan Global” ini dihadiri sedikitnya 500 peserta yang merupakan para profesor dan doktor alumni Institut Pendidikan Darussalam (IPD), Institut Studi Islam Darussalam (ISID), dan UNIDA Gontor.

Khazanah Nilai yang Mendunia

Acara yang digelar di Hall Lantai 4 UNIDA Gontor tersebut juga diwarnai dengan agenda bedah buku sistem Pondok Modern Darussalam Gontor. Prof. Hamid mengonfirmasi bahwa saat ini ada sekitar 100 judul buku yang sedang dan akan diterbitkan untuk mendokumentasikan sistem-sistem spesifik yang berlaku di Gontor agar dapat dikaji secara ilmiah dan menjadi teori global.

“Selama ini memang kajian mengenai Gontor literaturnya itu kebanyakan wardun (catatan). Wardun ini cuma informasi. Sistem Gontor seperti apa belum pernah diterbitkan. Karena memang di Gontor ini kita melaksanakan sesuatu yang mulia dan tidak berani menuliskannya,” tambah Prof. Hamid.

Sistem tersebut meliputi tata kelola wakaf, pengasuhan santri, pengajaran bahasa Arab dan Inggris, kemandirian, pembentukan kepemimpinan (leadership), hingga internalisasi gagasan Panca Jiwa (keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiah, dan kebebasan). Nilai-nilai luhur ini telah menghidupi Gontor selama satu abad dan menjadi fondasi sekaligus energi yang harus terus diterjemahkan dalam konteks zaman.

Keunikan Gontor: Lebih Banyak yang Tak Tertulis

Pada kesempatan yang sama, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus Presiden UNIDA Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menegaskan keunikan Gontor sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki karakteristik fundamental dan sulit ditiru secara instan.

Menurut Kiai Hasan, esensi dan ruh Pondok Modern Gontor terletak pada aspek kebersamaan dan keikhlasan mendalam yang sering kali tidak tertulis di atas kertas formalitas. Ia mencontohkan bagaimana spirit kebersamaan tiga Trimurti pendiri — K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi — dalam merintis pondok agar tegak berdiri tanpa memerlukan proposal formal, melainkan melalui komitmen total dan pengorbanan personal yang luar biasa.

“Di Gontor ini lebih banyak yang tidak ditulis daripada yang ditulis. Di pondok kita ini lebih banyak yang tidak diucapkan daripada yang diucapkan. Inilah uniknya Gontor. Kebersamaan Sahal, Fanani, Zarkasyi, tak tertulis! Siapa yang berani menulis? Siapa yang bisa menulis?” pungkas Kiai Hasan di hadapan ratusan akademisi.

UDN Hadir, Perkuat Kolaborasi Antar-Perguruan Tinggi Pesantren

Di tengah momentum bersejarah ini, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta hadir memperkuat sinergi dan belajar dari sistem pendidikan Gontor yang telah terbukti melahirkan kader-kader pemimpin bangsa. Kehadiran UDN dalam forum ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari ikatan ukhuwah dan kesamaan visi pendidikan yang telah terjalin erat.

Hubungan Darunnajah dan Gontor bukan hanya institusional. Pimpinan sekaligus Presiden universitas Darunnajah, Assoc. Prof. Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si. , adalah alumni Gontor yang menimba ilmu selama 12,5 tahun dan pernah menjadi sekretaris KH. Abdullah Syukri. Dalam bukunya Tak Lelah Menjaga Amanah, beliau mendokumentasikan secara mendalam bagaimana ukhuwah kedua lembaga ini terbangun.

Delegasi Darunnajah yang hadir terdiri dari para pemimpin senior, yaitu Assoc. Prof. Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si. (Pimpinan Ponpes Darunnajah), Busthomi Ibrohim, M.Ag., Ph.D. (Ketua Yayasan Darunnajah), Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag., Ph.D. (Wakil Rektor UDN), serta Assoc. Prof. Dr. Musthofa Zahir (Direktur Pascasarjana UDN).

Sinergi antara UDN dan UNIDA Gontor bukanlah hal baru. Kedua institusi telah memiliki nota kesepahaman dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kolaborasi riset dan pengembangan kurikulum telah diimplementasikan sejak Agustus 2024, termasuk pengembangan adaptive test bahasa Arab berbasis CBT dan kurikulum pendidikan kewarganegaraan global.

“Kami melihat model Sekolah Wakaf dan Desa Binaan sebagai langkah konkret dalam pemberdayaan umat. Darunnajah siap belajar dan berbagi pengalaman dalam pengelolaan wakaf produktif untuk kemajuan pendidikan Islam di Indonesia,” ujar Dr. Muhammad Irfanudin Kurniawan dalam keterangannya.

Menuju Abad Kedua: Dari Warisan Menuju Khazanah Global

Melalui sarasehan akademis ini, Gontor menegaskan komitmennya untuk mulai melakukan transformasi dari sistem warisan tradisi luhur yang bersifat internal menuju kodifikasi khazanah keilmuan yang terstruktur. Nilai-nilai pendidikan pesantren modern Indonesia dirancang agar dapat diakses, dikaji, serta diadopsi oleh dunia internasional secara luas.

Dalam sidang Badan Wakaf Gontor baru-baru ini, diputuskan sebuah langkah strategis jangka panjang berupa penyusunan Rencana Strategis (Renstra) untuk menyambut 100 tahun kedua Gontor. Langkah ini sejalan dengan semangat yang diusung Wamenag Romo Syafi’i bahwa pesantren harus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat dan melahirkan pemimpin yang berintegritas.

Di tengah upaya sistematis untuk mendokumentasikan sistem pendidikan ini, Universitas Darunnajah berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dengan UNIDA Gontor. Sinergi ini diharapkan dapat menghubungkan nilai-nilai pesantren dengan tata kelola modern, sekaligus menjawab tantangan akses pendidikan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa.

Dengan sekitar 43 ribu pesantren di Indonesia, penguatan SDM pengelola menjadi kebutuhan mendesak. Kehadiran Darunnajah dalam forum ini adalah untuk memastikan nilai-nilai luhur itu terus hidup dan berkembang dalam tata kelola pendidikan pesantren yang profesional. “Semangat kemandirian dan pengelolaan wakaf yang profesional akan terus menjadi nafas dalam setiap langkah pengabdian Darunnajah bagi umat dan bangsa,” pungkas Dr. Muhammad Irfanudin Kurniawan.

By: Abu Ghassan & Hattan

Add Universitas Darunnajah as a preferred source on Google.