Memaknai Pernikahan dari Sejarah Terbaik

Memaknai Pernikahan dari Sejarah Terbaik
Memaknai Pernikahan dari Sejarah Terbaik

Pernikahan dalam Islam bukan hanya acara sehari, tetapi perjalanan panjang sebagaimana yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai mītsāqan ghalīẓan yang berarti ikatan yang kokoh dan penuh tanggung jawab di hadapan Allah. Rumah tangga tidak bisa dibangun hanya dengan perasaan sesaat, tetapi perlu ditopang ilmu, keteladanan, dan visi hidup yang jelas. Gagasan “Baiti Jannati, rumahku surgaku” yang diangkat Ust. Saifullah Kamalie, Ph.D. mengajak kita melihat pernikahan sebagai ibadah: tempat bertumbuhnya iman, akhlak, dan kedewasaan, bukan sekadar ruang pelampiasan emosi.

Pernikahan di tengah perubahan sosial yang sangat cepat menjadikan media sosial untuk membentuk standar kebahagiaan. Hal tersebut sering kali tidak realistis; semua tampak indah di foto, padahal di balik layar ada banyak air mata. Tekanan ekonomi meningkat, waktu berkualitas bersama pasangan semakin sempit, dan interaksi sering digantikan oleh layar gawai.

Data perceraian nasional menunjukkan ratusan ribu kasus setiap tahun; sebagian besar disebabkan oleh perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus, disusul masalah ekonomi dan sikap meninggalkan pasangan. Artinya, banyak rumah tangga runtuh bukan karena satu kesalahan besar, tetapi karena konflik kecil yang menumpuk tanpa pernah diselesaikan dengan dewasa. Di titik ini, kita membutuhkan bukan hanya “tips rumah tangga harmonis”, tetapi fondasi nilai yang lebih kokoh.

Dalam tradisi Islam, sejarah bukan sekadar cerita untuk dikenang, tetapi sumber pelajaran untuk hari ini. Al-Qur’an mengisahkan keluarga para nabi—seperti keluarga Ibrahim, Nuh, dan Imran agar kita mengambil ‘ibrah (pelajaran), bukan sekadar mengagumi. Puncak teladan itu adalah rumah tangga Rasulullah ﷺ. Beliau bukan hanya sosok pemimpin umat, tetapi juga suami dan ayah yang penuh kasih, lembut, dan bertanggung jawab di rumah. Cara beliau menyelesaikan konflik, bercanda dengan istri, memberi nafkah, dan mendidik anak menjadi contoh konkret bagaimana iman diterjemahkan dalam kehidupan keluarga. Salah satu ayat yang paling sering dibaca dalam akad nikah adalah QS. Ar-Rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang…”

Tiga kata kunci di ayat ini sangat penting:

  • Sakinah: ketenangan batin; rasa “pulang” ketika berada di sisi pasangan.
  • Mawaddah: cinta yang hangat dan mengikat, bukan sekadar ketertarikan sesaat.
  • Rahmah: kasih sayang yang membuat kita tetap bertahan, memaafkan, dan menolong di saat sulit.

Al-Qur’an juga menyebut pernikahan sebagai mītsāqan ghalīẓan (QS. An-Nisa: 21), menegaskan bahwa akad nikah bukan kontrak main-main, melainkan janji serius yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي”

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi No. 3895)

Hadis ini menggugah kita untuk menilai diri: seberapa baik sikap kita di rumah, bukan hanya di luar rumah. Seseorang bisa tampak santun di ruang publik, tetapi barulah terlihat hakikatnya ketika bersama pasangan dan anak-anak.

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa nafkah kepada keluarga bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sedekah yang berpahala besar:

“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar untuk memerdekakan budak, satu dinar untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.”(HR. Muslim No. 995).

Nabi juga menyebut dunia sebagai perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah.  Semua ini menunjukkan bahwa membina keluarga bukan beban, tetapi ladang amal yang sangat luas.

Sejarah mencatat sosok-sosok perempuan mulia yang menjadi penopang rumah tangga:

Pertama, Khadijah binti Khuwailid: simbol dukungan total kepada suami di masa-masa paling berat dakwah; ia mengorbankan harta, tenaga, dan perasaan demi mendampingi Rasulullah ﷺ.

Kedua, Fatimah az-Zahra: teladan kesederhanaan dan keteguhan; hidup dalam keterbatasan materi, tetapi rumahnya penuh iman dan kehormatan.

Ketiga, Asma binti Abu Bakar: perempuan yang tangguh, sanggup menanggung tugas rumah tangga yang berat demi menopang perjuangan suami. Mereka adalah manusia dengan ujian nyata, dari mereka, kita belajar bahwa rumah tangga yang kokoh dibangun oleh kesetiaan, kesabaran, dan kesiapan berjuang bersama bukan romantis sesaat.

Saat pernikahan dipahami sebagai ibadah, orientasi kita berubah. Perbedaan dan konflik bukan sebagai alasan untuk menyerah, tetapi sebagai ujian untuk naik kelas dalam kedewasaan dan ketakwaan. Beberapa niat menikah yang harus selalu diingat:

  • Menikah untuk menjaga kehormatan diri dan pasangan.
  • Menjadikan keluarga sebagai tempat menegakkan salat, tilawah, dan dzikir bersama.
  • Mendidik anak agar menjadi generasi yang mengenal dan mencintai Allah dan Rasul-Nya.
  • Menjadikan setiap nafkah, senyuman, dan bantuan di rumah sebagai sedekah yang berpahala.

Ketika visi ibadah ini kokoh, pasangan lebih mudah memaafkan, lebih sabar menghadapi kekurangan, dan lebih tekun memperbaiki diri.

Belajar menikah dari sejarah terbaik bukan berarti rumah kita harus persis sama dengan rumah Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Perbedaan zaman dan konteks tentu ada, tetapi nilai-nilai utamanya tetap sama dan relevan: kejujuran, kelembutan, tanggung jawab, komitmen, dan tawakal. Mulailah dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan hari ini:

  • Mengurangi kata-kata yang melukai dan memperbanyak kata yang menguatkan.
  • Lebih sering mengucap terima kasih dan maaf kepada pasangan.
  • Menyisihkan waktu khusus untuk berbicara dari hati ke hati tanpa gangguan gawai.
  • Membaca dan mengkaji kembali ayat dan hadis tentang keluarga, lalu mendiskusikannya bersama.

Sejarah terbaik sudah memberi peta; tugas kita adalah menapak jalannya, selangkah demi selangkah, hingga rumah dapat mendekati cita-cita “baiti jannati, rumahku surgaku”.

 

Penulis: Delpa Firdaus

Editor: dpl

Add Universitas Darunnajah as a preferred source on Google.