Melangkah di Atas Janji Allah: Sebuah Refleksi Perjuangan Peradaban

“Melangkah di Atas Janji Allah: Sebuah Refleksi Perjuangan Peradaban”
Beberapa catatan dan motivasi dari KH Mad Rodja Sukarta
Rencana pembukaan kampus PSDKU Universitas Darunnajah Bogor

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali menyilaukan dengan gemerlap gelar dan status, Beliau mengajak kita kembali pada inti dari perjuangan: membangun peradaban dan menegakkan nilai-nilai keislaman. Beliau menggambarkan kondisi umat hari ini layaknya para penjudi—berkumpul secara fisik, namun saling menikam dalam hati. Sebuah ironi dari kebersamaan tanpa ruh perjuangan.

1. Belajar dari Sejarah: Siklus Peradaban menurut Ibnu Khaldun
Beliau menekankan pentingnya memahami prinsip peradaban sebagaimana digambarkan oleh Ibnu Khaldun:
Generasi Perintis: Mereka yang mengawali perjuangan dengan darah dan air mata.
Generasi Pejuang: Yang mempertahankan nilai-nilai dengan penuh pengorbanan.
Generasi Penikmat: Yang menikmati hasil tanpa menyadari perjuangan di baliknya.
Generasi Perusak: Yang menghancurkan karena kehilangan arah dan prinsip.
Hari ini, kita berada di persimpangan. Apakah kita akan menjadi bagian dari generasi pejuang yang menjaga bara semangat itu tetap menyala? Atau tergelincir menjadi generasi penikmat dan perusak?

2. Jangan Mabuk Gelar, Maksimalkan Kebermanfaatan
Pondok, menurut beliau, bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah pusat peradaban. Di Bogor, hanya ada dua MI negeri, tetapi ratusan pesantren swasta berdiri tegak, menjadi tiang penopang umat. Maka, Beliau mengajak kita: jangan mabuk gelar!. Ukur keberhasilan bukan dari seberapa tinggi titel, tetapi seberapa besar kebermanfaatan untuk umat dan negara.

3. Kakek yang Visioner, Tanah yang “Kampungan”
Siapa sangka, keputusan kakek beliau membeli tanah di Cipining, Beliau meneceritakan awal mula KH Abdul Manaf Mukhayyar membeli tanah, yang saat itu jauh dari keramaian dan dianggap kampungan—ternyata menjadi awal dari lahirnya peradaban besar. Itulah visi yang tak semua mata mampu menatapnya.

4. Hanya Sejam di Gontor, Namun Selamanya Bersama Janji Allah
Tahun 1978, Beliau hanya sempat satu jam berada di Gontor. Tapi bukan lama tinggal yang penting, melainkan seberapa dalam pemahaman akan misi hidup. Beliau melangkah dalam seluruh perjuangannya di atas dua janji Allah: bahwa siapa yang berjuang di jalan-Nya, tidak akan ditinggalkan, dan bahwa surga adalah milik mereka yang bersabar dan istiqamah.

5. Darunnajah dan Mimpi Besarnya
Dengan 23 cabang, Darunnajah harus memahami jati dirinya: bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi agen perubahan. Maka, tidak cukup jika hanya sebesar organisasi tahlilan. Darunnajah harus menatap seperti Muhammadiyah, bergerak masif, kuat dalam struktur, dan luas dalam manfaat.

6. Jangan Bergantung pada Warisan
Beliau mengingatkan agar generasi muda tidak bersandar pada kekayaan orangtua. Belajar dari sosok Jusuf Kalla yang terus berjuang, bukan mengandalkan harta keluarga. Bahkan, kita harus mampu menciptakan lebih besar dari orang tua kita. Beliau memberikan contoh pesantren Sidogiri yang mandiri dalam usaha dan kuat dalam karakter. Kemandirian adalah ruh perjuangan.

7. Paket Perjuangan: Abu Jahal Masih Ada
Perjuangan tidak selalu mulus. Akan ada yang menggembosi, mencibir, bahkan mengkhianati. Tipologi Abu Jahal tak pernah mati. Namun, sebagaimana Nabi melangkah dengan sabar, kita pun harus melangkah berkolaborasi dengan Allah. Ia yang menggenggam segala hati, mengatur segala urusan.

8. Substansi Perubahan dan Jiwa Kemanusiaan
Perubahan adalah kepastian. Beliau menegaskan: jangan terjebak pada bungkusnya, lupa akan substansinya. Di tengah semua itu, harus tetap ada jiwa kemanusiaan dan eksistensi keislaman yang menjadi landasan.

Akhirnya, Janji Allah Tak Pernah Ingkar
Beliau menutup dengan sebuah keyakinan yang menenangkan:
“Jika kita melangkah bersama Allah, berjuang di jalan-Nya, maka kemenangan dunia dan surga akhirat adalah janji yang pasti.”

Parung, 23 April 2025,
Samiyono, M.Pd.