Sabtu (15/2/2025) – Mahasiswa KKN Kelompok 7 Universitas Darunnajah bersama Ketua RW 07 Pak Nefo Siregar berkunjung dan berkeliling ke Green House untuk mempelajari pengelolaan sampah melalui budidaya maggot. Kegiatan yang berlangsung pada siang hari ini fokus pada pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi inovatif pengolahan sampah organik. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai teknik pengolahan sampah organik menggunakan maggot serta berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari budidaya larva BSF ini. “Budidaya maggot ini merupakan investasi yang menguntungkan, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi,” jelas Ketua RW 07 Pak Nefo Siregar. Dari sisi lingkungan, maggot terbukti efektif mengurai sampah organik dengan cepat, sehingga dapat mengurangi volume limbah di TPA dan menekan emisi gas metana dari proses pembusukan sampah.
Selain manfaat lingkungan, budidaya maggot juga menjanjikan keuntungan ekonomi. Larva BSF memiliki kandungan protein tinggi yang cocok digunakan sebagai pakan ternak, terutama untuk unggas dan ikan. Residu dari budidaya maggot pun dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas untuk meningkatkan kesuburan tanah . Dengan modal awal yang relatif terjangkau dan potensi pasar yang luas, budidaya maggot dinilai sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

Berikut langkah-langkah singkat pengelolaan sampah dengan budidaya maggot:
– Persiapan: Siapkan wadah atau biopon untuk tempat budidaya maggot
– Sortir sampah: Pisahkan sampah organik seperti sisa makanan, buah, dan sayuran
– Persiapan media: Campurkan sampah organik yang telah disortir sebagai media dan pakan maggot
– Penambahan maggot: Tambahkan bayi maggot ke media sampah organik. Gunakan sekitar 10 mg maggot untuk 10 kg sampah basah
– Pemeliharaan: Biarkan maggot mengurai sampah selama 2-3 minggu. Pantau secara berkala dan tambahkan sampah organik sesuai kebutuhan
– Pemanenan: Setelah 14-21 hari, panen maggot dewasa. Sebagian dapat digunakan sebagai pakan ternak, sisanya untuk siklus budidaya selanjutnya
– Pemanfaatan hasil: Maggot dapat digunakan sebagai pakan ternak, sedangkan residunya (kasgot) dapat dijadikan pupuk organik
Siklus ini berlangsung sekitar 38-41 hari dari telur hingga lalat dewasa. Proses ini efektif mengurai sampah organik dan menghasilkan produk bermanfaat, menjadikannya solusi ramah lingkungan untuk pengelolaan sampah.
Meski mendapat sambutan positif, program ini masih menghadapi tantangan, terutama dalam mengubah kebiasaan lama masyarakat. Untuk mengatasi hal ini diperlukan kerjasama seluruh warga serta pendampingan berkelanjutan dan evaluasi berkala. “Kami berharap pengetahuan tentang budidaya maggot ini dapat dikembangkan bersama Universitas Darunnajah atau Pondok Pesantren Darunnajah dan dilakukan di tempat lain sebagai solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” tambah Pak Nefo Siregar.





