Pada hari sabtu tanggal 14 September 2024 telah dilaksanakan kegiatan kajian ilmu di Aula Imam Al Ghazali, INSISTS di Kalibata Utara II Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut biasa dilaksanakan pada tiap pekan di hari sabtu, dan dinamakan dengan Saturday Forum. Untuk sabtu kali ini tema yang dikaji adalah Dinamika Kajian Turats Islam di Indonesia, dengan Dr. Much. Hasan Darojat, Rektor Universitas Darunnajah Jakarta sebagai pembicaranya.
Dalam pandangan Hasan Darojat, turats dalam kamus bahasa arab al ma’any bermakna segala yang ditinggalkan oleh generasi terdahulu dari keilmuan, seni, dan adab. Dapat bermakna juga sebagai tradisi. Dalam budaya keilmuan di Nusantara, turats lebih dahulu dikenal dengan kajian kitab kuning. Menurut Undang-Undang Pesantren Nomor 18 tahun 2019, Kitab Kuning adalah Kitab keislaman berbahasa Arab atau kitab keislaman berbahasa lainnya yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren. Adapula turats yang dapat dimaknai dengan hadatsah atau modernitas (pembaharuan). Dan terakhir hadharah yang berarti peradaban.
Hasan melanjutkan bahwa isu turats di dunia Islam kontemporer, terdapat tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok transformatif atau dikenal juga dengan nama kelompok Marxism. Tokoh-tokohnya adalah Adonis, Salamah Musa, Karim Muruwwa. Kelompok kedua adalah kelompok reformatif. Tokoh-tokohnya adalah Arkoun, Hasan Hanafi, Al Jabiri. Kelompok ketiga adalah kelompok idealis-totalistik. Tokoh-tokohnya sebagai berikut Abd al-Qadir ‘Awdah, Yusuf alQardawi, Muhammad al-Ghazali, Hassan alTurabi, Rashid al-Ghannusyi, Sayyid Qutb, dan Muhammad Qutb, Omar bin ‘Abd al-Rahman.
Menurut Hasan tradisi Kitab Kuning di Indonesia dimulai dari surau atau mushalla (majlis ta’lim dll). Kemudian dilaksanakan di pusat-pusat studi, seperti INSITS, CIPSI (Center for Islamic Philosopical Studies and Information), Pusat Studi Kitab Kuning Syaikh Nawawi al-Bantani. Yang terlihat jelas melaksanakan kajian turats adalah pesantren. Adapula kajian turats di Perguruan Tinggi, Organisasi Masyarakat dan Pemerintah Republik Indonesia.
Kesimpulan yang ditegaskan oleh Hasan, bahwa tradisi Kitab Turats (Kitab Kuning) memiliki sejarah panjang. Beliau pun merekomendasikan untuk membuat Gerakan Kolaboratif Intelektual dalam kajian turats.
Kegiatan Saturday Forum dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari peserta. Lalu diakhiri dengan review dari sekretaris INSITS Dr. Henri Shalahuddin.




