Jakarta – Central Pengembangan Pesantren dan Wakaf Universitas Darunnajah mengadakan sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari para penulis buku, pengurus pesantren, hingga para dosen. Acara ini juga turut mengundang al-Ustadz Dr. Ahmad Suharto, seorang akademisi sekaligus perwakilan dari Universitas Darussalam, Gontor, untuk membahas Review Silabus Kurikulum Manajemen Pesantren dan bertempat di Aula Ibnu Rusydi (16/09/24).
Dalam acara ini, Ustadz Dr. Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag (Wakil Rektor III) membuka diskusi dengan sambutan yang penuh semangat. Beliau menekankan pentingnya menciptakan kurikulum pesantren yang sejalan dengan nilai-nilai luhur serta visi dan misi yang diusung oleh Universitas Darunnajah. Menurut beliau, sebuah kurikulum pesantren tidak hanya harus mampu memfasilitasi perkembangan intelektual mahasiswa, tetapi juga harus berlandaskan nilai-nilai spiritual yang mendalam, menggabungkan dimensi pendidikan lahiriah dan batiniah.

Salah satu isu utama yang dibahas dalam FGD ini adalah perlunya penyeimbangan antara kegiatan lahiriah dan batiniah dalam pengelolaan pesantren. Para peserta, termasuk para dosen dan penulis buku yang hadir, mendiskusikan pentingnya manajemen pesantren yang tidak hanya bertumpu pada kegiatan operasional sehari-hari (aspek lahiriah) seperti pengelolaan aset, tata kelola lembaga, dan pembagian peran, tetapi juga bagaimana pesantren bisa memperkuat sisi batiniah para mahasiswa.
Al-Ustadz Dr. Ahmad Suharto menyampaikan pandangan mendalam tentang konsep “jauhar” (esensi) dan “madzhar” (penampilan) dalam manajemen pesantren. Beliau menekankan bahwa sebuah buku manajemen pesantren yang baik harus memuat unsur jauhar, yakni esensi mendalam dari pesantren, yang mencakup pengembangan spiritualitas, etika, dan karakter, bukan hanya fokus pada aspek madzhar yang cenderung menitikberatkan pada penampilan dan hal-hal formal.
“Manajemen pesantren harus berlandaskan pada nilai-nilai inti yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi. Tanpa ini, pesantren akan kehilangan ruhnya sebagai lembaga yang seharusnya menuntun para mahasiswa menuju kematangan intelektual dan spiritual,” ungkap Dr. Ahmad Suharto dalam forum diskusi tersebut.
Kegiatan ini secara khusus bertujuan untuk mereview silabus kurikulum manajemen pesantren yang sudah ada, serta mempertimbangkan masukan-masukan baru agar kurikulum tersebut bisa lebih relevan dengan tantangan zaman. Para peserta diskusi memberikan pandangan mereka tentang bagaimana pesantren seharusnya dikelola agar mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial yang baik dalam mengelola lembaga keagamaan.

Selain itu, diskusi juga menggarisbawahi pentingnya peran dosen dalam memfasilitasi santri untuk tidak hanya memahami teori-teori pendidikan dalam ranah madzhab tertentu, tetapi juga mampu menyerap, menyampaikan kembali, dan mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi perhatian utama, terutama dalam membangun karakter mahasiswa yang mandiri, berintegritas, dan mampu beradaptasi di tengah tantangan global.
FGD ini diakhiri dengan pernyataan penting mengenai metode pengajaran di pesantren yang perlu lebih fokus pada proses pemahaman yang mendalam. Para mahasiswa, selain dibekali dengan ilmu akademis dan keagamaan, juga harus mampu menerjemahkan ilmu tersebut dalam tindakan nyata tanpa rekayasa strategis yang berlebihan. Menurut para peserta, pesantren tidak boleh hanya menjadi lembaga pendidikan yang bersifat normatif, tetapi harus mampu menjadi ruang pengembangan diri bagi mahasiswa agar mereka mampu mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan dalam berbagai aspek kehidupan.
Acara FGD ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, terutama para akademisi dan praktisi pendidikan. Dengan adanya diskusi ini, diharapkan akan muncul kurikulum manajemen pesantren yang lebih komprehensif dan mampu menjawab tantangan pendidikan Islam di masa depan, dengan tetap menjaga keseimbangan antara dimensi lahiriah dan batiniah, serta mengedepankan esensi pendidikan yang mengakar pada tradisi pesantren.
Penulis: Falah & Deli




