Salah satu masalah yang menjadi perhatian oleh pemerintah adalah tentang pendidikan. Sebuah sarana yang menurut para ahli dapat digunakan sebagai sarana untuk memajukan bangsa. Sehingga munculah sebuah istilah,
“sebagaimana pendidikan, seperti itulah suatu bangsa” Ini bukan tanpa alasan, mengingat dari pendidikan orang akan dapat belajar banyak hal serta menerapkannya.
Sejumlah program pun di gaungkan untuk mendorong minat orang agar menyukai dunia belajar. Biaya sekolah dipermurah, sarana belajar indie diperbanyak, serta pengadaan bahan bacaan dicetak murah dan terbagi sampai ke pelosok desa. Masalah yang baru kembali terbit, minat baca orang-orang di Negara kita sangat rendah. Buku-buku yang dalam ekspektasi penerbit akan disambut meriah para penghuni perpustakaan harus menerima realita malas membaca. Ditambah lagi penyakit yang bersama ikut yakni, “malas baca gampang percaya”. Lengkap sudah keberadaan masyarakat yang tidak menaruh minat pada suatu perubahan.
STAI Darunnajah yang bertempat di Jakarta Selatan, biasa disebut sebagai lembaga pusat. Mengadakan kegiatan Kelas Jurnalistik yang diperuntukan untuk seluruh Mahasiswa yang sekiranya ingin berpartisipasi. Apresiasi lebih kita patut berikan untuk usaha yang tengah dikembangkan itu. Dengan bahasa menarik beserta promosi sebelum acara, para pendengar yang ikut dalam acaranya telah mendapatkan daya tariknya sendiri. Mengutip dari penyampain Ketua Jurnalistik beserta pemateri,
“Indonesia adalah Negara yang termasuk dalam daerah yang memiliki rasa ingin tau dari buku atau bacaan yang rendah. Serta juga angka penerbitan Buku baru setiap tahunnya sama sekali belum menunjukan perkembangan yang baik”
Dari pernyataan ini dapat kita simpulkan sedikit bahwa, membaca itu adalah akses untuk orang menggemari menulis. Karena ketertarikan terhadap membaca secara tidak langsung memacu orang untuk berkarya.

Dalam kelas jurnalistik ini, yang pertama kali dijabarkan adalah bagaimana ketertarikan kita untuk menyimak berita. Yang menarik adalah kenapa tidak ditulis ketertarikan kepada buku ?. karena pemateri percaya bahwa informasi yang dengan kata lain adalah berita sangat mudah diperoleh dari manapun. Sebagai manusia yang di amanahkan akal, daya imajinasi untuk menelaah berita dan menggambarkannya sebenar-benar harus terpakai dengan baik.
Pertemuan kedua dilanjutkan dengan cara mudah menulis cerpen. Kisah sederhana yang tidak banyak menggambarkan tokoh – tokoh pendukung. Materi cerpen dipilih karena pengembangan cerita ketika nanti menyusun dikompres sederhana selama pengembangan. Kita di ajak dulu dalam menciptakan tokoh – tokoh sederhana sebelum nanti para pemeran yang lebih luas latar belakangnya. Tapi perlu diingat bahwa, walaupun latar tempat, penokohan, dan alur ceritanya sederhana. Ceritanya itu harus padat.
Pertemuan ketiga dilanjutkan cara menulis artikel, sebuah karangan faktual dengan panjang tertentu yang dibuat untuk dipublikasikan di media online maupun cetak dan bertujuan menyampaikan gagasan dan fakta. Tema selanjutnya ini dipilih setelah pemateri yakin bahwa para Mahasiswa mulai bisa menciptakan imajinasi yang sederhana. Mereka di ajak menulis artikel untuk mengetahui bagaimana ketika dihadapkan pada kejadian yang tengah berlangsung dengan bukti fakta. Kejujuran disertai analisis harus ber-iringan untuk menyampaikan kebenaran informasi dari sudut pandang kita.
Diharapkan agar kedepannya, Kelas Jurnalistik selalu mengalami pengembangan dan inovasi. Dan bukan hanya memperkenalkan cara menulisnya kepada para Mahasiswa, tetapi alangkah lebih baiknya lagi jika mampu menyentuh masyarakat dalam hal literasi.

