Tips Bercerita untuk Anak Usia Dini

STAI Darunnajah Jakarta melalui Program Studi PIAUD menyelenggarakan kuliah bersama yang bertema “Bercerita untuk Anak Usia Dini”, di ruang perkualiahan Lantai III STAI Darunnajah, Jakarta, Sabtu (16/11/2019). Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperkaya pembelajaran mahasiswa pada Mata Kuliah Metode Pengenalan Aksara Anak Usia Dini.

Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri Syamsinar, S.Pd, Kepala Sekolah Dasar Juara Jakarta Selatan. Syamsinar yang juga dikenal sebagai “Kak Inar” merupakan pendongeng sejak tahun 2008.

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh dosen mata kuliah Metode Pengenalan Aksara AUD, Wulan Perawati, M.Pd. Selanjutnya kegiatan dipandu langsung oleh Kak Inar yang mengawali materi dengan memberikan peraturan yang disepakati bersama mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Kegiatan berjalan dengan lancar, mahasiswa yang terdiri dari semester 1, 3, 5 dan 7 terlihat sangat antusias dan aktif selama kegiatan berlangsung. Penyampaian materi dilaksanakan mulai pukul 09.30 – 11.30 WIB.

Selama materi disampaikan, mahasiswa terlihat fokus menyimak dan aktif menanggapi. Materi terasa sangat ringan dan bisa diikuti dengan menyenangkan karena pembawaan Kak Inar yang ceria dan bersemangat. Selain itu, materi juga diselingi dengan praktek langsung para mahasiswa dengan arahan dari Kak Inar.

Dalam pemaparannya, Kak Inar menyampaikan 4 hal penting yang perlu diperhatikan oleh pendogeng atau pembaca cerita. Hal-hal tersebut meliputi: kualitas cerita/ tema cerita; suara; intonasi; dan ekspresi.

Pertama, kualitas cerita/ tema cerita dimaksudkan bahwa ketika akan bercerita atau mendongeng, pendongeng harus benar-benar memahami secara menyeluruh isi dari cerita yang akan disampaikan,” kata Kak Inar.

Dengan demikian, pendongeng akan lebih mudah menentukan pembagian suara sesuai tokoh, penempatan intonasi yang tepat, dan penentuan ekspresi yang sesuai. “Dalam pemilihan tema cerita juga harus disesuaikan dengan audiens. Baik dari segi usia, tingkat pemahaman dan lingkungannya,” imbuhnya.

Kak Inar menyarankan ketika bercerita dapat mengambil kisah-kisah dalam Al Quran atau pun Sirah Nabawiyah. Karena ada perbedaan antara mendongeng dan bercerita. Dimana dalam mendongeng dapat menyampaikan tema yang sifatnya hasil karangan atau khayalan. Namun bercerita, temanya merupakan kisah-kisah nyata.

Kedua, suara dimaksudkan bahwa seorang pendongeng harus dapat mengeluarkan suara berbeda sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita,” paparnya.

Menurutnya, dalam teknik bercerita, ada 3 macam suara dasar yang minimal harus dikuasai oleh pendongeng yang meliputi suara asli (yang biasa digunakan dalam keseharian ketika berbicara), suara rendah (untuk tokoh laki-laki, monster, atau tokoh yang dianggap jahat), suara tinggi (dapat digunakan untuk suara anak-anak atau tokoh yang terkesan lucu/ manja).

Ketiga, lanjut Kak Inar, intonasi dimaksudkan pembagian nada suara yang dapat membantu pendongeng untuk memberikan kesan emosi agar tersampaikan dan dapat dirasakan oleh pendengar.

Keempat, penggunaan ekspresi yang tepat juga harus dikuasai oleh pendongeng. Pendongeng harus dapat menampilkan ekpresi yang berbeda untuk setiap emosi yang muncul dalam alur cerita. Misalnya ekspresi marah, sedih, dan senang,” ujarnya.

Terakhir, Kak Inar juga menekankan bahwa dalam bercerita yang harus diperhatikan adalah niat yang ikhlas untuk menyampaikan kebaikan dan keteladanan dengan cara yang baik dan berharap dapat diterima dengan baik. “Oleh karena itu, bukan hanya memaparkan cerita begitu saja. Bercerita, khususnya untuk anak harus mengandung nilai edukasi yang memberikan keteladanan sebagai pondasi pembentukan karakter dan kepribadiaannya dimasa depan,” pungkasnya.

Besar harapan kegiatan kuliah bersama ini dapat memberikan pengalaman baru bagi para mahasiswa, sehingga memiliki pemahaman yang lebih kaya dan mendalam khususnya untuk kemampuan bercerita atau mendongeng. Mahasiswa yang sebagaian besar sudah mengajar, diharapkan dapat mempraktekkan materi hari ini di sekolahnya masing-masing.