Tadabbur Quran dan Hikmahnya

TADABBUR AL-QUR’AN

MAKNA HIKMAH
Ditulis oleh: Much Hasan Darojat

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (al-Baqarah: 269)

Para Mufassir memberikan berbagai penafsiran tentang makna kata ‘hikmah’ pada ayat di atas. Kata ini berakar dari ‘hakama’ yang berarti ‘memutuskan atau menetapkan’. Ini memiliki keterkaitan konsep yang mencakup banyak hal. Seseorang yang tenang dan mampu mengontrol diri tidak marah, dia berusaha memutuskan untuk menstabilkan jiwanya. Demikian pula, seorang Hakim yang memutuskan sebuah persoalan. Keputusannya yang dibuat harus adil dan bijaksana, supaya dapat memberikan hak dan kewajiban hingga mendekati kepada kebenaran.

Di dalam kitab al-Ta’rifat, al-Jurjani mendefinisikan kata al-hikmah “ilmu yang membahas hakekat segala sesuatu sebagaimana adanya melalui kemampuan manusia”. Allah swt. memberikan anugrah kepada manusia berupa akal sebagai hidayah, yang dijadikan alat untuk memahami semua problematika kehidupan. Seringkali manusia dihadapkan dengan banyak hal yang menuntut untuk penyelesaian. Usaha keras dan tulus manusia dengan berbagai cara untuk mencari titik kebenaran, membuahkan hasil melalui rahmat-Nya dengan diberikan ilmu yang sempurna, bermanfaat, dan mencapai pada kebenaran.

Hikmah lebih bersifat umum dan bisa diraih oleh siapapun. Allah swt. memberikan orang-orang yang dikehendaki untuk mendapatkannya. Ini tentu saja berbeda dengan kenabian yang dikhususkan bagi para Nabi dan Rasul-Nya saja. Sebagaimana Lukman al Hakim, salah satu orang shaleh yang hidup di masa Nabi Daud as. berasal dari negeri Habasyah (Ethiopia). Beliau diberikan hikmah, sehingga dapat memberikan wasiat kepada anaknya. Nasehat-nasehat itu diabadikan di dalam al-Qur’an sebagai contoh bagi umat berikutnya untuk diambil ibrah (perumpamaan). Beberapa Ulama berpendapat bahwa beliau adalah seorang Nabi, namun sebagian yang lain berkeyakinan bahwa beliau seorang Budak yang Shaleh dan diberikan Hikmah sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an.

Hikmah juga dihubungkan dengan kematangan ilmu seseorang dalam memahami ajaran Islam. Dengan pemahaman yang mendalam, seorang Muslim selalu mempraktikkan isi ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah yang menyebabkan orang itu mendapatkan hikmah-Nya. Allah swt. memberikan kesempurnaan ilmu, kedalaman pemahaman, kebenaran dalam perkataan dan perbuatan. Orang ini terhindar dari kebodohan melalui ilmu yang dimiliki. Ia memahami adab dalam berbagai hal. Dalam berucap ia jujur dengan isi kebenaran. Tidak menyakiti dan berdusta kepada orang lain. Dalam bermuamalah ia mampu memperlakukan siapapun sesuai dengan status tanpa merendahkannya. Ia memahami bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya tanpa mengurangi hak dan kewajibannya.

Kita sebagai seorang Muslim dituntut untuk terus belajar dan memahami firman-firman-Nya baik yang berbentuk ayat Qauliyah maupun Kauniyah. Ayat Qauliyah adalah semua yang tersurat di dalam Kitab-Nya, sementara ayat Kauniyah adalah semua yang ada di sekitar kita. Usaha ini juga untuk mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari umat Islam, sebagaimana disebutkan di dalam riwayat (الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا) “hikmah adalah barang berharga kaum Mukmin yang hilang. Dimana saja ia menemukannya, ia lebih berhak terhadapnya.”

Untuk itu, alangkah sebaiknya kita bersungguh-sungguh mentadabburi bukti-bukti kebesaran Allah swt. melalui akal dan hati. Mudah-mudahan kita termasuk golongan ulul albab yang mendapatkan ilmu dan hikmah-Nya.