Penyebaran Virus Korupsi Dalam Kehidupan Saat Ini

Korupsi

Penyebaran Virus Korupsi Dalam Kehidupan Saat Ini semakin parah dan dianggap sepele, karena dalam keseharian kita prilaku tersebut sudah terbentuk sejak masih usia remaja. Apa itu korupsi? Mungkin sebahagia kalangan pelayan masyarakat, istilah itu identik dengan membawa kabur uang negara, memeras pihak-pihak tertentu, dan sebagainya. Dalam kontek sederhana istilah korupsi bisa kita artikan dengan penyelewengan terhadap apa yang bukan milik kita, baik aspek finansial, waktu, dan kekuasaan

Aspek Korupsi

Korupsi itu masuk ke semua aspek, aspek finansial, aspek waktu, aspek jabatan, dan masih banyak lainnya. Tentu masing-masing kita hampir semua berada dalam semua aspek. Misalnya, aspek waktu, kita korupsi waktu artinya kita menggunakan waktu kita tidak sesuai porsinya, menggunakan waktu tidak sesuai dengan kapasitas kita. Contoh lainnya, perihal finansial atau keuangan, kita menggunakan, atau mengambil hak orang lain, atau milik negara yang notabene nya bukan milik kita, itu Korupsi namanya.

Tujuan Koropsi

Terlepas daripada tujuan dan maksud daripada penyelewengan tersebut, sudah tentu sebagai tujuan pemenuhan nafsu kita, yang didorong oleh faktor gaya hidup, faktor keluarga atau faktor lingkungan kerja yang tidak sehat. Semua itu fatal dan sangat merugikan diri kita bahkan orang lain.

Penanganan

Semua kita ingin rasanya untuk melawan atas sikap dan gaya korupsi yang membawa virus mematikan dalam kehidupan kita, akan tetapi sulit rasanya untuk diremove dalam kehidupan ini. Alasannya simple menurut saya, karena sifat kerakusan dan ingin tampil beda merupakan aspek utama terpaksa kita ingin korupsi. Benarkah Virus Korupsi Dalam Kehidupan Kita semakin tak terkendali

Studi Contoh

Coba kita lihat para pegawai negeri, penyelenggara negara, pejabat negara, kepala daerah, dan sebagainya yang digaji oleh negara, umumnya penghasilannya tidak terlalu besar.  Fasilitas yang diperoleh sebagian besar dari mereka juga minim. Pegawai di sektor swasta juga sama sebenarnya, kecuali yang levelnya sudah tinggi. Cara menjalani hidup seharusnya disesuaikan dengan kemampuan. Untuk menghindari tekanan yang berlebihan pada keadaan keuangan, maka kita disarankan memenuhi kebutuhan hidup yang penting-penting saja. Dalam situasi itupun kita masih punya banyak pilihan, memilih yang harganya atau ongkosnya lebih murah, namun tidak mengurangi fungsinya atau manfaatnya. Ini soal manajemen saja.

Trend kehidupan

Tren saat ini adalah, orang ingin cepat kaya. Sering sekali mengabaikan rasio dan terbius dengan ungkapan-ungkapan seperti “rezeki nanti pasti akan datang, tidak usah terlalu banyak perhitungan ketika akan mulai bekerja atau berkeluarga.” Dalam merencanakan akan punya anak berapa, bagi pasangan suami istri juga sebenarnya punya implikasi yang besar nantinya bagi keuangan keluarga. Tapi gerak langkah tidak sesuai dengan keinginan cepat kaya itu, entah karena malas atau memang tidak menguasai banyak ilmu untuk mengumpulkan banyak uang dalam waktu yang singkat dengan cara yang benar. Atau mungkin ada sebab sebab lain.

Apa lagi? Oh ya, misalnya, karena tidak mau ketinggalan memiliki rumah, lalu memaksakan diri berhutang agar bisa memiliki rumah (apalagi jika selera lebih tinggi dari kemampuan). Penghasilan hampir habis untuk membeli rumah, lalu kebutuhan sehari hari sulit terpenuhi. Tekanan semakin tinggi.

Jika salah perhitungan, salah merencanakan, mengatur keuangan, akhirnya yang terjadi adalah, penghasilan tidak cukup untuk hidup mandiri. Kebutuhan yang tidak penting terpenuhi, tapi yang pokok malah tidak. Ada yang punya banyak anak, tapi terlantar. Belum berhenti di situ, gaya hidup mewah yang lain ikut membebani keuangan keluarga.  Penghasilan tidak berusaha ditingkatkan, tapi pengeluaran bertambah banyak. Ketika anak anak makin besar, biaya juga bertambah. Dalam keadaan seperti itu, pilihan cara cepat akan terlihat memudahkan dan menjadi solusi sementara, sekalipun resikonya tinggi. Korupsi!.

Kewenangan atau kekuasaan disalahgunakan.  Di sektor swasta sebenarnya sama saja. Pegawai membohongi atasannya.  Melakukan perbuatan curang sehingga keuntungan masuk kantong pribadi,  bukan masuk ke perusahaan dulu.  Jadi semuanya dilakukan dengan cara tidak perlu bekerja lagi di luar jam kantor. Tidak perlu menghabiskan waktu luang, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga lagi. Setelah merasasakan enaknya cepat mendapatkan uang haram, mulai dari hadiah-hadiah, uang ucapan terima kasih, sampai suap dan yang lainnya yang lebih jahat, maka segeralah itu menjadi kebiasaan.

Ini masalah sosial yang sedang menjadi tren. Persoalan pokoknya tidak mampu mengekang keinginan yang berlebih-lebihan. Saya tidak punya teori untuk semua orang. Ini seperti menjawab pertanyaan “bagaimana caranya berhenti merokok?” Kalau ada yang bertanya kepada saya, saya biasanya menjawab, “ya berhenti saja”. Dan cerita-cerita yang membumbui perjalanan menuju berhenti merokok itu hanya hiasan saja.

Lalu mungkin akan ada pertanyaan lain, “yang korupsi dan masuk penjara itu kok rata rata yang sudah kaya raya? Lahir di keluarga kaya dan mereka sepertinya tidak punya masalah ekonomi. Apa yang terjadi? Saya pikir mereka mungkin punya masalah yang berbeda. Punya sifat rakus yang sulit diubah, (sehingga seharusnya mereka tidak bisa lolos atau dibiarkan menduduki jabatan-jabatan penting dalam pelayanan publik), terjebak dalam lingkaran pergaulan yang buruk,  takut kehilangan jabatan atau pertemanan, atau punya masalah kejiwaan semacam kleptomania.  Yang terakhir ini tidak punya alasan khusus mengapa melakukan korupsi, pokoknya senang saja dan mendapatkan kepuasan jika bisa mengambil atau menguasai sesuai yang bukan haknya.

Solusi

Inilah kehidupan kita saat ini, seperti komputer yang terinveksi virus, tapi malas untuk melakukan upaya scan. Salah satu scan terbaik dalam kehidupan ini adalah dengan berprilaku baik, jujur, dan hidup dalam kesederhanaan. Sederhana bukan berarti kita miskin, kita kuno, kita kolot, tetapi hidup dalam bersyukur atas apa yang kita miliki dan gunakan sesesuatu sesuai kebutuhan.

Kesederhanaan perlu dibentuk dari masa muda, misalnya lingkari anak-anak kita dengan sikap kesederhanaan, kebaikan, arahkan dalam dunia pendidikan pesantren dan bekali ilmu Agama. Apalah arti bila keluarga tercinta tidak secuilpun merasakan kesederhaan, kelak bangsa ini penuh dengan sikap kerakusan terhadap segala aspek.