Rasulullah Sang Guru

Muhammad Irfanudin Kurniawan

Wakil ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah Jakarta (STAIDA)

Email. Waket1@darunnajah.ac.id

Beberapa hari yang akan datang kita akan memasuki bulang yang dinantikan oleh seluruh umat Islam yaitu bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-quran, bulan yang di dalamnya semua pahala dilipat gandakan, tidak terkecuali pahala mendidik atau mengajar. Dalam tulisan kali ini akan sedikit kami bagi sosok manusia pilihan dengan kesibukannya sebagai seorang guru. Dialah Rasulullah guru abadi yang menjadi inspirasi hingga masa kini.

Sengaja kami gunakan kata sang dalam tulisan ini, karena keagungan Rasulullah yang diakui oleh kawan dan juga lawannya. Dalam buku 100 tokoh, buku karya astrofisikawan Michael H. Hart guru besar di Universitas Maryland AS yang diterbitkan pada tahun 1978, memuat 100 tokoh yang ia rasa memiliki pengaruh paling besar dan paling kuat dalam sejarah manusia. Dia menuliskan Rasulullah pada urutan yang pertama dengan dengan bebera alasaan. Salah satunya adalah Beliau berhasil mendidik masyarakat terbelakang menjadi masyarakat yang berkembang secara kultur sosial politik maupun militer. Bahkan beberapa tahun setelah wafatnya, pengikutnya berhasil menumbangkan Imperium-Imperium besar dunia seperti Romawi dan Persia, kedua negara besar yang pernah menjadi super power dunia selama ratusan tahun.

Bangsa arab yang dikenal dengan badawi, sebutan pejorative yang menunjukkan belum adanya kebudayaan, telah berhasil beliau rubah dengan berdirinya sebuah kota bernama madinah, yang memiliki akar kata madana, madaniyat, din, yang menunjukkan sebuah peradaban bernilai tinggi dengan dasar agama yang kokoh. Menurut Hamid Fahmy Zarkasyi, besarnya nilai peradaban ini tidak hanya telihat oleh mata terbuka, seperti bangunan arsitektur, seni dan lainnya. Tetapi dia meresap, masuk, mewarnai peradaban yang ada sebelumnya.

Keagungan dan kebesaran peradaban ini tidak lepas dari peran nabi sebagai seorang guru. Karena gurulah yang menjadi akar dari segala peradaban yang terbentuk. Gurulah yang melahirkan para raja, gurulah yang melahirkan para filosof, gurulah yang melahirkan para ilmuawan, jedral, dokter.

Dikisahkan dalam sebuah hadis, sang guru masuk ke dalam masjid Nabawi, di dalam masjid tersebut beliau melihat dua kelompok. Kelompok pertama berdo’a dan membaca Al-qur’an sedangkan kelompok kedua belajar dan mengajar. Melihat hal ini, sang guru berkata keduanya dalam kebaikan. Kelompok yang berdo’a dan membaca Al-qur’an kalau Allah kehendaki doa-doanya akan dikabulkan kalau tidak maka diakhirkan. Sedangkan yang belajar dan mengajar sesungguhnya aku diutus untuk menjadi seorang guru. Dan sang gurupun duduk bersama mereka.

Gaya bahasa sang guru dengan bentuk seperti ini, ada dalam beberapa sabdanya, seperti penjelasannya tentang mukmin yang kuat dan mukmin yang lemah, bahwa keduanya ada dalam kebaikan tetapi, mukmin yang kuat lebih dicintai sang guru. Dalam kedua sabda ini ada istilah yang sering disebut oleh Sofwan Manaf sebagai efek domino atau reaksi berantai yaitu sebuah efek kumulatif yang dihasilkan saat satu peristiwa yang menimbulkan serangkaian peristiwa serupa .

Berdoa’ dan membaca Al-qur’an adalah sebuah kebaikan yang tidak bisa diragukan, bahkan para salaf sholeh menjadikan Ramadhan sebagai bulan untuk memperdalam dan mengkhatamkan bacaanya, sampai ada yang mengkhatamkan dalam 10 hari bahkan 3 hari. Tetapi belajar dan mengajar memberikan efek kepada orang banyak. Efek perbaikan, mungkin inilah yang menyebabkan sang guru duduk dengan orang yang belajar dan mengajar.

TADABBUR ALQURAN KENDARAAN KEHIDUPAN

Ditulis oleh: Much Hasan Darojat

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah Jakarta (STAIDA)

وَٱلْخَيْلَ وَٱلْبِغَالَ وَٱلْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Nahl: 8)

Allah swt. menganugrahkan kepada manusia melalui ciptaaan-Nya. Gunung, bumi, hewan dan tanaman semua adalah makhluk yang dapat dikelola oleh manusia. Sebagai seorang hamba, ia dimuliakan dengan diberikan amanah sebagai Khalifah di muka bumi untuk melakukan aturan yang telah ditetapkan. Manusia diberikan kesempatan agar dapat mengelola semaksimal mungkin dan memberikan manfaat kehidupan. Seluruh Binatang yang disebutkan di atas hanya sebagai contoh bahwa manusia diberikan sarana untuk memanfaatkan mereka dan menjadi perhiasan hidup.

Kuda, keledai, dan bagal (hasil perkawinan antara kuda betina dan keledai jantan) merupakan kendaraan bagi manusia. Bintang itu untuk membawa manusia dan barang-barang bagi pedagang, petani, dan lainnya dalam rangka untuk memudahkan manusia. Berjalannya waktu, ada penemuan transportasi jenis baru yang berbasiskan pada mesin seperti mobil, bis, truk, dan motor. Penemuan ini telah merubah tradisi dari tenaga binatang kepada teknologi mesin, yang memberikan dampak cukup besar bagi pergerakan manusia. Namun, pada hakekatnya mentalitas dan cara pandang manusia tentang kepemilikian kendaraan baik berupa binatang atau mobil tidak berbeda. Pada sebagian mereka, ada yang dengan bangga mengkoleksi berbagai jenis merk kendaraan sebagai hobi. Bahkan mereka lalai bahwa itu semua sekedar sarana untuk membantu dalam kehidupan. Kendaraan itu hanyalah alat dan fasilitas yang menghiasi kehidupan. Bukan sebagai tujuan hidup itu sendiri. Disinilah, kadang-kadang manusia disibukkan dengan hal-hal yang sekunder, dan melupakan yang primer.

Kita hidup di dunia ini memerlukan kendaraan kehidupan yang akan menghantar kita ke akhirat. Segala apa yang kita miliki akan menjadi sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Kekayaan berupa binatang, kendaraan, rumah, sawah dan lain-lain dijadikan sebagai media yang bisa menuju ke arah sana. Semuanya akan tertinggal di dunia ketika sudah selesai masa hidup kita. Yang ada dari itu semua, hanyalah hitungan amal shaleh dari harta yang kita miliki.

Ayat diatas ditutup dengan pernyataan tentang kekuasaan Allah swt. Dia akan terus menciptakan segala sesuatu. Berapa banyak jumlah makhluk yang diciptakan dan manusia tidak mengetahui. Manusia hanya mengetahui ciptaan-Nya pada batasan yang dapat dilihat dengan mata. Berapa banyak makhluk lain yang tidak terlihat dan manusia tidak mengetahuinya. Hal ini akan berlangsung hingga akhir kehidupan manusia. Allah swt. sang Maha Pencipta menciptakan dari yang terkecil sampai yang terbesar. Menciptakan segala sesuatu untuk hamba-Nya di surga dan juga yang ada di neraka.

Semoga kita termasuk hamba-Nya yang selalu menyukuri anugrah kehidupan yang dikaruniakan dan menjadi penghuni surga-Nya kelak. Amin.

Kehati-hatian Dengan Prasangka

TADABBUR AL QURAN

Ditulis oleh: Much Hasan Darojat

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah Jakarta (STAIDA)

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Yunus: 36)

Ayat diatas menjelaskan posisi orang-orang kafir yang menolak kebenaran dari Allah Swt. Mereka sekedar menduga-menduga kebenaran tersebut. Hal ini sama sekali tidak memberikan apa-apa terhadap kebenaran yang bersumber dari Allah Swt. Segala yang mereka sangkakan terhadap sesembahan mereka hanyalah perkiraan yang tidak berkonsekuensi apapun terhadap kebenaran dari Allah swt.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima informasi berbagai hal. Tidak semuanya kita baca secara detail. Kita memilah dan memilih informasi sesuai yang kita perlukan. Untuk itu, kita perlu cermat dalam melihat banyaknya berita yang bermunculan di sekitar kita.

Dalam mensikapi kondisi di atas, ada beberapa orang yang cenderung cepat mengambil kesimpulan dan kurang memahami secara detail isi suatu berita. Mereka begitu cepat berkesimpulan terhadap masalah yang ada dan hanya menduga-duga saja. Tidak memahami dengan baik seluk beluknya yang akhirnya terjebak gagal paham. Mereka hanya berprasangka bahwa hal itu cukup pada tataran yang terlihat tanpa memperhatikan aspek lain. Seolah-olah itu sudah selesai.

Banyaknya dugaan dan prasangka yang menjadi pijakan dalam memutuskan suatu permasalahan, akan berisiko pada hasil keputusan yang tidak matang. Sesungguhnya usaha itu sia-sia saja, karena tidak akan menuntaskan masalah yang sebenarnya sedang terjadi. Allah Swt. telah memberikan kebenaran yang bisa dipelajari dari Rasul-Nya yang agung, Muhammad Saw. Beliau banyak mengajarkan kepada kita untuk berhati-hati dalam merespon kenyataan hidup. Tidak terburu-buru dan sekedar prasangka dengan perasaan kita. Prasangka kita terkadang dibarengi dengan latar belakang kondisi psikologis kita yang sedang terjadi. Apabila tenang dan nyaman akan menunjukkan prasangka yang baik. Namun sebaliknya, jika sedang kurang stabil dan menghadapi masalah serius, maka muncul perasaan yang buruk. Seperti ungkapan seorang syair (إذا ساء فعل المرء ساءت ظنونه) “apabila perilaku seseorang itu buruk maka buruk pula prasangkanya.”

Untuk itu, marilah kita mendudukkan segala permasalahan yang ada pada porsinya sesuai dengan pemahaman kita yang benar tidak sekedar dugaan dan prasangka.