Asal Mula Filsafat

Dalam buku Pustaka Filsafat Pengantar Filsafat, sang penulis Jan Hendrik Rapar menyebutkan sekurangnya ada empat penyebab munculnya filsafat atau penyebab seseorang berfilsafat, yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, Hasrat bertanya dan keraguan. dalam bab ini, akan diuraikan keempat penyebab seseorang berfilsafat itu.

Ketakjuban

Menurut para ahli, penyebab utama munculnya filsafat adalah thaumasia (kekaguman, keheranan dan ketakjuban). Dalam karyanya yang berjudul Metafisika, Aristoteles mengatakan bahwa karena ketakjuban manusia mulai berfilsafat. Senada dengan itu, Plato guru sekaligus teman Aristoteles mengatakan, Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berasal filsafat. Senada dengan itu Immanuel Kant berkata, bahwa gejala yang paling mengherankan adalah “langit berbintang di atasnya” dan “hukum moral dalam hatinya” (Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me).

Dalam kamus bahasa Indonesia, ketakjuban diartikan sebagai sebuah keadaan takjub, heran, kagum, akan sesuatu hal. Dalam arti ini ketakjuban memiliki dua komponen yaitu seseorang (subjek) yang takjub, dan sesuatu yang membuat takjub (Objek). Jika subjek dari ketakjuban itu manusia, apakah yang menjadi objek ketakjuban itu? Objek ketakjuban ialah segala yang ada dan yang dapat diamati. Itulah sebabnya, bagi Plato pengamatan terhadap bintang-bintang, matahari, dan langit merangsang manusia untuk melakukan penelitian. Penelitian terhadap apa yang diamati demi memahami hakikatnya itulah yang melahirkan filsafat. Pengamatan yang dilakukan terhadap objek ketakjuban bukanlah hanya dengan mata, melainkan dengan akal budi.

Menurut Caknun, sapaan akrab Emha Ainun Najib, bahwa tergeleparnya Nabi Musa di bukit Tursina adalah sebuah bentuk ketakjuban, sebagaimana bergetarnya gunung ketika Allah menunjukkan kebesarannya dalam dialog bersama Nabi Ibrahim yang ingin melihat NYA. Dan setiap hari setiap muslim mengasah ketakjuban itu dengan berwudhu, takbiratul ihram, dan setiap gerakan dalam Shalat berisi ketakjuban apabila dibarengi dengan penghayatan, evaluasi, introspeksi dan pensucian diri.

Oleh sebab itu, bagi filosof Muslim, filsafat tidak selalu harus berlandaskan akal tanpa agama. Dalam beberapa literaturnya Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibnu Sina, telah menjadikan ayat-ayat Al-Quran sebagai landasan filsafat, di antaranya adalah; Q.S. Al-A’raf (7) ayat 185, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al-Quran itu?”

kemudian Q.S. al-Baqarah (2) ayat 164, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”

kedua ayat ini apabila dicermati secara mendalam akan membuat manusia takjub dengan ciptaan Allah. Langit yang memayungi bumi tanpa tiang, siang malam yang berganti dengan teratur, kapal laut yang berat tapi bisa mengapung di atas air, air yang nurun dari langit berupa hujan yang menjadi penyebab tumbuhnya biji-bijian bahkan pohon, dedaunan yang nampak kering bisa menjadi hijau kembali. semua ini merupakan ketakjuban yang terekam dalam ayat suci Alquran yang apabila direnungkan akan menyebabkan manusia berfilsafat dalam artian berpikir dalam sehingga sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan yang maha kuasa.

Lebih dari itu, ketakjuban merupakan alat belajar asli setiap orang. Pada waktu kecil, seseorang mengumbar kejeniusan dengan bebas setiap hari saat menjelajahi semesta pada setiap sela, celah, alat, lubang, dan benda. Seorang anak kecil sangat penuh dengan jiwa ketakjuban. Baginya apa yang dilihat adalah luar biasa. Membuat dia ingin berinteraksi dengannya. Hanya saja, seiring waktu berjalan ketakjuban itu menjadi hilang karena faktor eksternal yang membatasinya. Apabila ketakjuban itu terus diasah maka akan ditemukan berbagai penemuan yang luar biasa.

Ketidakpuasan

Penyebab munculnya filsafat yang kedua adalah ketidakpuasan.  Ketidakpuasan dalam mendapatkan makna terdalam (The Ultimate Meaning) muncul karena tidak memadainya suatu pengetahuan untuk menjawab suatu masalah, atau tidak tuntasnya penjelasan yang diberikan oleh suatu pengetahuan, atau sudah bosannya manusia dengan pengetahuan, penjelasan, dan kemampuan yang mereka miliki, sudah menghantui mereka semenjak dahulu kala. Sejak kapan ketidakpuasan muncul? sejak manusia menggunakan ciri utama yang dimilikinya yaitu berpikir (Al-Insanu hayawanun natiq = manusia adalah hewan yang berpikir). Sebagaimana sering disebutkan oleh Rene Descartes (1596-1650) dalam bahasa Prancis, je pense, donc je suis, dalam bahasa latin dikenal cogito, ergo sum, artinya aku berpikir karena itu aku ada.

Mitos adalah salah satu pengetahuan dan pertanyaan serta jawaban yang paling banyak menyebabkan ketidakpuasan.  Istilah mitos (mythos) berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah “perkataan” atau “cerita”. Orang pertama yang memperkenalkan istilah mitos adalah Plato. Plato memakai istilah “mythologia”, yang artinya menceritakan cerita. Ada juga yang mengatakan bahwa Mitos adalah bagaimana kebudayaan memahami aspek tentang realitas atau gejala alam.

Sebagai contoh; gunung Tangkuban Perahu, dalam mitosnya gunung ini terbentuk dari sebuah perahu yang ditendang oleh seseorang yang ingin menikahi ibunya sendiri. Dia membangunnya dengan kekuatan gaib, dibantu para jin-jin dengan batas waktu sampai matahari terbit. Juga mitos tentang gerhana yang akan hilang apabila ada suara-suara keras. Semua alasan ini tidak akan memuaskan seseorang yang menggunakan akal pikirannya.

Cerita atau mitos ini, apabila direnungkan dan dipikirkan secara mendalam akan menimbulkan ketidakpuasan, seberapa besar perahu yang dibuat, seberapa kuat orang yang menendangnya, bagaimana perahu yang secara umum terbuat dari kayu berubah menjadi tanah dan bebatuan, bagaimana proses perubahannya. Pun demikian dengan suara gadung yang dibuat untuk menghilangkan gerhana, pada kenyataannya tidak membuat kegaduhan pun gerhana akan hilang dalam beberapa saat.

Hanya saja tetapi kata “puas” sendiri sering dikonotasikan negatif. Berangkat dari ilmu ekonomi yang menjelaskan bahwa sebagai makhluk ekonom, manusia tidak pernah puas, kata puas kebanyakan dikaitkan dengan materi, harga, nama baik, dan segala sesuatu yang sifatnya duniawi. Namun, pada titik tertentu, manusia yang sudah dipandang tercukupi dari segi materi, juga banyak yang mengalami ketidakpuasan. Contoh, Siddhartha Gautama yang mendirikan ajaran Buddha, sekitar dua ribu enam ratus tahun silam meninggalkan istananya yang megah di Kapilawasthu daerah pegunungan Himalaya, konon sang ayah mendirikan empat istana sekaligus yang disesuaikan dengan musim yang ada di daerah tersebut. Dia memilih untuk bersemedi di bawah pohon Bodhi untuk mengobati ketidakpuasan terhadap apa yang dialaminya, sehingga muncul ajaran Budha.

Hasrat bertanya

Ketakjuban dan ketidakpuasan manusia menimbulkan hasrat bertanya yang tidak kunjung habis. Pertanyaan tak boleh dianggap sepele karena pertanyaan pertanyaanlah yang membuat kehidupan serta pengetahuan manusia berkembang dan maju. pertanyaanlah yang membuat manusia melakukan pengamatan, penelitian dan penyelidikan. ketiga hal itulah yang menghasilkan penemuan baru yang semakin memperkaya manusia dengan pengetahuan yang semakin bertambah. karena itu pertanyaan merupakan sesuatu yang hakiki bagi manusia. Menurut Sartre, kesadaran pada manusia senantiasa bersifat bertanya yang sesungguh-sungguhnya bertanya.

Hasrat bertanya membuat manusia mempertanyakan segala-galanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu tidak sekedar terarah pada wujud sesuatu, melainkan terarah pada dasar dan hakikatnya. Inilah yang menjadi salah satu ciri khas filsafat. Filsafat selalu mempertanyakan sesuatu dengan cara berpikir radikal, sampai ke akar-akarnya, tetapi juga bersifat universal. Aristoteles, bapak filsuf terkenal yang melihat paling mendalam dan jelas, mendorong para muridnya memperoleh kebiasaan hasrat bertanya dengan sungguh-sungguh. Dia menulis: “Untuk berbicara secara pasti tentang hal-hal semacam ini, barangkali agak sulit kecuali sudah seringkali diselidiki sebelumnya. Tentu saja untuk menyatakan keraguan dalam kasus khusus akan memperoleh hasil yang menguntungkan”. Pertanyaan yang terus menerus, atau paling tidak acapkali bertanya merupakan kunci pertama yang membuka “lemari” hikmat.

Pertanyaannya ialah, pertanyaan apakah yang bisa menyebabkan terbukanya lemari hikmah itu? apakah semua pertanyaan sama? tentu jawabannya tidak, pertanyaan yang bisa membuka lemari tersebut ya pertanyaan filosofis, karena lemarinya adalah lemari hikmah. Pertanyaan berikut ini merupakan contoh dari pertanyaan filosofis:

Bagaimanakan alam semesta tercipta?

Adakah kehendak atau makna di balik apa yang terjadi?

Adakah kehidupan setelah kematian?

Bagaimanakah seharusnya kita hidup?

Pertanyaan ini telah berabad lamanya  diajukan oleh orang-orang, tidak ada satupun kebudayaan yang tidak mengaitkan dirinya dengan pertanyaan, apakah manusia itu dan dari mana datangnya dunia. Menjawab pertanyaan filosofis tidak semudah menyampaikan. Tidak banyak buku ensiklopedia yang membahas keberadaan tuhan atau apakah ada kehidupan setelah kematian di buku ensiklopedia. Buku ini juga tidak akan memberitahukan bagaimana sebaiknya hidup. Namu, dengan membaca apa yang telah diyakini orang lain dapat membantu untuk merumuskan sudut pandang tentang ketuhanan dan kehidupan, itulah filsafat.

Keraguan

Seseorang mengatakan bahwa keraguan adalah pertanda bahwa seseorang mulai masuk ke wilayah baru menuju keberhasilan. Keraguan bukan hanya diwajibkan demi mengetahui wilayah keyakinan, tapi juga demi menyikapi kepercayaan-kepercayaan yang berlaku. Keraguan adalah suatu hal yang penting, keraguan adalah awal dan bukan akhir. Sebagai awal dia akan membawa kita kepada pertanyaan, kepada soal, kepada masalah, yaitu kepada suatu ”bahan” yang harus dikerjakan secara konseptual.

Ada juga yang mengatakan bahwa Keraguan adalah pertanda bahwa hati dan pikiran masih berpihak kepada manusia yang ragu. juga ada yang menyebut bahwa Keraguan adalah masalah terbesar dan membuat banyak kerusakan. Hal ini menciptakan ketidakpastian, ketidakpastian menciptakan kurangnya kejelasan, dan kekurangjelasan tidak menggerakkan.

Dalam KBBI keraguan diartikan sebuah keadaan perihal ragu; keadaan ragu; kesangsian; kebingungan; kebimbangan yang mana para ilmuwan memulai penelitian dengan membuat keraguan. Membuat keraguan terhadap realitas merupakan ciri khas ilmuwan. Hasrat keingintahuan diungkapkan secara eksplisit dengan cara ini. Namun yang dimaksud dengan keraguan menurut para filosof bukanlah keraguan total. Rene Descarte seorang tokoh yang terkenal dengan metode keraguannya menyatakan bahwa keraguan di sini adalah keraguan genuine, jenis keraguan yang membuka suatu penelitian yang ilmiah. Keraguan yang ada dalam kajian filsafat adalah keraguan yang hidup. Disebut demikian karena dia berasal dari keheranannya terhadap suatu peristiwa yang menarik perhatiannya untuk diteliti dan dijelaskan. Disebut real karena sumber dari keraguan itu berasal dari luar dirinya, dari realitas yang ia alami, bukan semata-mata dari sikap skeptis radikal yang berasal dari dirinya sendiri.

Keraguan yang muncul secara spontan ketika pikiran seseorang berhadapan dengan peristiwa tertentu, merupakan momentum penting yang harus dihormati, dan bahkan dinanti-natikan. Setidaknya ada tiga dimensi yang harus ada dalam keraguan filosofis, yaitu bahwa seseorang tidak mengetahui sesuatu, memiliki hasrat untuk mengetahuinya, berusaha untuk menemukan kebenaran.

“Keraguan-lah yang mengantarkan kepada kebenaran. Barang siapa tidak pernah ragu maka dia  tidak memandang, barang siapa yang tak pernah memandang maka ia tak pernah melihat. Dan barang siapa yang tidak pernah melihat maka ia tetap dalam kebutaan dan kesesatan” ( Imam Al Ghazali )