![]() |
![]() |
Tgl. 03-Sep-10 s/d 19-Sep-10
Perkembangan Filsafat Logika, Pengetahuan, dan Metafisika
Dr. H. Supriyadi Ahmad, M.A.
Salah satu filosuf yang dianggap sangat
berjasa dalam meletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat adalah
Aristoteles, yang merupakan murid Plato. Meskipun diantara keduanya terdapat
perbedaan-perbedaan pandangan, tetapi Aristoteles dianggap sebagai murid yang
mewarisi pemikiran-pemikiran gurunya, dan dianggap sebagai salah satu tokoh
penggerak zaman.
Dia juga dianggap sebagai peletak
tonggak dasar dalam sejarah pemikiran Barat. Bahkan Michael H. Hart menilai
bahwa Aristoteles adalah seorang filosuf dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa
lampau. Dia memelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir tiap cabang
falsafah dan memberi sumbangsih tak terperikan besarnya terhadap ilmu
pengetahuan.[1]
Meskipun banyak ide-ide Aristoteles yang tampaknya kini sudah ketinggalan zaman,
tetapi yang paling penting dari apa yang pernah dilakukannya adalah pendekatan
rasional yang senantiasa melandasi karyanya.
Dia filosof orisinal, dia penyumbang
utama dalam tiap
bidang penting falsafah spekulatif, dia menulis tentang etika dan
metafisika, psikologi, ekonomi, teologi, politik, retorika,
keindahan, pendidikan, puisi, adat-istiadat orang terbelakang dan
konstitusi Athena. Salah satu proyek penyelidikannya adalah koleksi
pelbagai negeri yang digunakannya untuk studi bandingan.
Makalah ini berusaha mendeskripsikan
pemikiran-pemikiran filsafat Aristoteles sebagai tokoh yang telah berhasil membentuk dan meletakkan
dasar yang paling kokoh bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Barat modern.
B.
Riwayat Hidupnya
Dalam teks
bahasa Inggris, nama Aristoteles ditulis Aristotle, dan dalam teks Arab
biasanya ditulis Aristutulis atau Aristu.[2]
Sedangkan dalam tulisan asli Yunani biasanya ditulis ‘Aριστοτέλης. Dia lahir 384 SM di
Stagira, sebuah kota koloni di semenanjung Chalcidice, yang berada di wilayah
Macedonia, yang terletak di sebelah utara Yunani, atau yang kini menjadi Yunani Utara. Dia meninggal tahun 322 SM.[3]
Ayahnya bernama Nichomachus, seorang
sahabat dan dokter keluarga Amyntas II, raja Macedonia, ayah raja Philippos,
dan kakek Alexandros yang kemudian dikenal dengan nama Alexander Agung. Meskipun
telah lama tinggal di Macedonia, tetapi Nichpmachus adalah orang asli Yunani. Berbeda dari Plato,
yang merupakan keturunan bangsawan, Aristoteles berasal dari keluraga menengah.
Sejak kecil, Aristoteles diasuh dan
dididik oleh ayahnya sendiri dalam bidang kedokteran. Ayahnya berharap jika
besar nanti, Aristoteles dapat menggantikan ayahnya sebagai dokter keluarga
raja Macedonia. Namun, harapan ayahnya tidak terwujud, karena sebelum
Aristoteles berhasil menamatkan pelajarannya, ayahnya telah meninggal dunia.
Meskipun begitu, sanga ayah telah berhasil mewariskan minat yang besar terhadap
biologi kepada anaknya yang tampaknya terhadap karyanya di kemudian hari.
Mengenai kisah masa muda
Aristoteles, sekurang-kurangnya terdapat dua versi yang saling berbeda satu
dengan lainnya. Menurut para pengagumnya, ketika Aristoteles masih berusah
sangat muda, yaitu tujuh tahun, ia berangkat ke Athena dan menjadi murid Plato.
Menurut mereka, Aristoteles menjadi murid kesayangan Plato selam dua puluh
tahun. Mereka yang mengagumi Aristoteles itu tidak pernah mengatakan bahwa dia
sangat sembrono dan serampangan.[4]
Sedangkan menurut versi lain dikatakan bahwa sepeninggal ayahnya, Aristoteles
yang masih muda itu hidup berfoya-foya dan menghambur-hamburkan harta warisan
orang tuanya. Ketika harta orang tuanya telah habis dan lenyap, dia
mendaftarkan diri sebagai tentara untuk menyambung hidupnya agar tidak mati
kelaparan. Menurut versi ini, sesudah mendapat bekal dan modal yang cukup,
Aristoteles kemudian kembali ke kota kelahirannya di Stageira dan salama
beberapa tahun di sana ia dikenal sebagai seorang dokter muda yang mencoba
mempraktikkan segala ilmunya yang ia peroleh dari ayahnya. Pada usia 30 tahun,
ia meninggalkan Stageira dan berangkat menuju Athena, lalu mendaftarkan diri
menjadi murid Plato. Jika versi ini benar, berarti Aristoteles hanya belajar di
Akademia Plato selama delapan tahun, dan bukan 20 tahun. Namun, dalam beberapa
rujukan cenderung mendukung pendapat pertama, bahwa Aristoteles belajar di
Athena selama 20 tahun,[5]
dan bukan delapan tahun seperti pada pendapat kedua.
Selama belajar di Akademia Plato,
Aristoteles mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti Matematika,
Politik, Etika dan berbagai ilmu pengetahuan lain. Selain itu, ia mempunyai
hobi mengumpulkan buku sehingga dalam waktu yang relatif singkat, rumahnya
telah menjadi penuh buku, sehingga menyerupai perpustakaan. Tidak heran jika Si
maha guru Plato, menyebut rumah Aritoteles sebagai “rumah si tukang baca”.
Aristoteles merupakan salah satu
murid Plato yang sangat cepat dikenal karena dia tidak mau sekedar bernaung
dibawah keagungan sang guru. Itu pula sebabnya dia dikenal sebagai murid
“tukang kecam” dan senang mendebat sang guru yang banyak dihormati oleh banyak
muridnya yang lain, kendati kecamannya sering kali tidak relevan, dan
menunjukkan ketakfahamannya terhadap ajaran Plato. Namun, jika ditanya mengapa
dia mengecam Plato, dia akan menjawab : “Amicus Plato, sed magis amica
veritas” yang berarti “Plato kukasihi, tapi aku lebih mengasihi kebenaran.”
Oleh karena itu, sebagian pakar berpendapat bahwa hubungan Aristoteles dan
Plato sesungguhnya telah retak sejak jauh sebelum menjelang kematian Plato.
Oleh sebab itu, Plato tidak menunjuk Aritoteles untuk menjadi penggantinya
dalam memimpin Akademia, melainkan menunjuk Speusippos. Hal itu tentu sangat mengecewakan
Aristoteles.
Plato meninggal pada 347 SM, dan
pada tahun itu juga Aristoteles bersama dengan teman sekelasnya bernama
Xenokrates meninggalkan Athena. Mereka berangkat menuju ke pantai Asia Kecil,
pertama-tama tinggal di Atarneus, lalu pindah ke Assos kemudian tinggal di
Mitylene. Penguasa Atarneus saat itu adalah Hermeias yang adalah alumnus
Akademia Plato. Tentu kedatangan Aristoteles dan Xenakrates dismbut gembira
oleh Hermeias, bahkan meminta mereka untuk membantu mengajar di sekolah yang
telah didirikan oleh Erastos dan Koriskos, dua murid yang dikirim Plato dari
Akademia atas permintaan Hermeias. Hubungan mereka sangat akrab, bahkan
akhirnya Aristoteles menikah dengan Pythias, yang merupakan anak angkat dan
kemenakan Hermeias sendiri. Sepasang insan itu hidup bahagia. Namun, setahun
kemuadian yaitu tahun 343 SM negara yang dikuasai Hermeias ditaklukkan oleh
tentara Persia dan Hermeias dibawa ke Persia dan dibunuh disana. Akhirnya
Aristoteles dan keluarganya menyingkir ke daerah-daerah sekitar dan menetap
beberapa waktu di Mitylere atas undangan Theophrastus, sahabatnya semenjak
mereka belajar di Akademia Plato.
Di tahun 342 SM Aristoteles menerima
undangan khusus dari Philippos, raja Macedonia, agar dia bersedia mendidik
putra mahkotanya, Alexandros atau Alexander. Undangan itu dipenuhi. Dia
mendidik Alexandros selama dua tahun, dan berhasil mendidik calon pemimpin yang
terampil, meski sebelumnya Alexandros dikenal sebagai seorang remaja yang
serampangan, mudah tersinggung, mudah marah, dan berbagai perangai buruk
lainnya. Alexndros juga terkesan dengan
pendidikan yang diberikan oleh Aristoteles, sehingga meskipun telah dilantik menjadi pejabata raja pada 340,
Alexandros tetap menghoramti Aristoteles sebagaiman menghormati ayahnya
sendiri.
Tahun 336 SM Philippos wafat dan
digantikan oleh putra mahkota yang sudah dipersiapkan, yaitu Alexadros. Ia
menaklukkan Persia dan berbagai tempat lainnya, yang di kemudian hari ternyata
merupakan penaklukan dunia. Di saat Alexander berkuasa, Aristoteles kembali ke
Athena. Ia kemudian mendirikan sekolah sendiri di Athena, yaitu di lapangan
senam yang merupakan bagian dari halaman Kuil Dewa Apollo Lykeios (Dewa
Pelindung terhadap serigala). Karena terletak di halam Kuil Lykeios, maka
sekolah itu dinamakan Lykeion yang dalam bahasa Latin disebut Lyceum. Sekolah
itu kemudian menjadi populer mengalahkan popularitas sekolah Isocrates yang
selama ini telah berhasil mendidik para pemimpin Athena, dan berada di urutan
kedua setelah Akademia Plato yang saat itu dipimpin oleh Xenakrates yang
menggantikan Speusippos.
Aristoteles jatuh sakit dan
meninggal dunia pada 322 SM, yang kemungkinan disebabkan oleh pekerjaannya yang
tak mengenal batas. Saat meninggal dunia, ia berumum sekitar enam puluh tahun.
C. Karyanya
Menurut catatan sejarah, Plato dan
Aristoteles adalah guru dan murid yang merupakan dua tokoh besar dalam sejarah,
yang telah berhasil membentuk dan meletakkan dasar yang paling kokoh bagi
pembangunan kebudayaan dan peradaban Barat modern. Di sisi lain, meskipun di
sana sini terdapat perbedaan—bahkan pertentangan—antara kedua tokoh guru dan
murid itu, tetapi keduanya pantas dinobatkan menjadi pahlawan dunia dalam
bidang ilmu pengetahuan yang melepaskan dan membebaskan manusia dari belenggu
ketaktahuan agara manusia tahu bahwa dia tahu jika mau tahu.
Justin D. Kaptain menulis tentang
hal itu sebagai berikut.
To many, Plato represents the
lyrical, soaring imagination, while Aristotle represents investigation, prosaic
and eartbound. Plato seems inspired and inspiring, while Aristotle seems tied
to inflexible system and unrelenting logic. One is a reformer, a prophet, and
an artist, the other a comlier, an observer, and an organizer. Plato seems to
represent the highest nobility of thought and aspiration; Aritotle seems content
to accept and work within the day-to-day limitations of human behaviour ...[6]
(Bagi banyak orang, Plato
menunjukkan seorang yang antusias, dengan imajinasi yang begitu membumbung
tinggi, sementara Aristoteles melambangkan penelitian, menjemukan, dan terikat
pada bumi. Plato tampak bersembangat dan sanggup membangkitkan semanat,
sedangkan Aristoteles tampak terikat pada suatu sistem yang tidak luwes dan
logika yang ruwet dan kaku. Yang satu adalah seorang pembaharu, nabi, dan
artis, yang lain adalah seorang penyusun, pengamat, danorganisator. Plato
tampak melukiskan kemuliaan tertinggi dari pikiran dan aspirasi; sementara
Aristoteles kelihatan puas menerima dan bekerja dalam batasan-batasan
hari-ke-hari dari perilaku manusia ...)
Salah satu karya Aristoteles yang
paling menonjol adalah penelitian ilmiah. Ia melakukan penelitian bidang
zoologi, biologi, dan botani ketika ia mernatau ke sekitar pantai Asia Kecil
dengan menggunakan segala fasilitas yang disediakan oleh Hermeias bersama
dengan Theophrastus. Selain itu, Aristoteles juga melakukan penelitian khusus
terhadap konstitusi dan sistem politik dari 158 negara kota (polis) di
Yunani.Analisanya terhadap penelitiannya itu merupakan karya besar di bidang
politik dan telah meletakkan dasar yang teguh bagi ilmu politik yang disebut Perbanding
Pemerintahan dan Politik.
Para cendekiawan di zaman purba
mengatakan bahwa karya tulis Aristoteles lebih dari 400 buku. Namun, sebagian
besar telah musnah. Dari sekitar 50 buku yang masih ada, hanya sekitar
separuhnya yang benar-benar merupakan hasil karya Aristoteles sendiri. Karya
Plato begitu indah dan menarik, sementra karya Aristoteles kurang begitu indah
dan kurang menarik.
Will Ross Durant membagi karya
Aristoteles ke dalam tiga bidang utama[7]
yaitu :
1. Karya tulis yang bersifat populer.
2. Karya tulis yang berupa kumpulan data ilmiah.
3. Bahan kuliah.
Selain itu, ada yang membagi karya
tulis Aristoteles menjadi lima kelopok[8]
yaitu :
1. Kelompok Organon yang terdiri atas :
a. Categoriae (kategori).
b. De Interpretatione ( tentang Penafsira).
c. Analytica Priora (Analitika yang pertama),
d. Analytica Posteriora (Analitika yang terakhir).
e. Topica (Topik).
f. De Sophisticis Elenchis (Cara berdebat kaum sufi).
a. Physica (Fisika) terdiri atas delapan buku.
b. Methapysica (Metafisika) terdiri atas 14 buku.
c. De Caelo (Dunia atas / langit) terdiri atas empat
buku.
d. De Generatione er Corruptione (Penjadian dan
Pembiasaan) terdiri atas dua buku.
e. Meteorologica (Meteorologi) terdiri atas empat buku.
a. De Partibus Animalium (Bagian Binatang).
b. De Motu Animalium (Tentang Gerak Binatang)
c. De Generatione Animalium (Tentang Kejadian Binatang).
d. De Anima (Tentang jiwa).
e. Parva Naturalia ( Sedikit tentang tata hidup
kodrati), yang merupakan kumpulan dari beberapa monografi tentang biopsikologi.
4.Kelmpok empat terdiri atas :
a. Ethica Nicomachea, terdiri atas sepuluh buku.
b. Ethica Eudemia, terdiri atas tujh buku.
c. Politica (Politik), delapan buku.
5. Kelompok lima terdiri atas :
a.Rhetorica (retorika)
b.Poetica (poetika).
D. Filsafat Logika
Mungkin sekali, yang paling penting
dari sekian banyak hasil karyanya
adalah penyelidikannya tentang teori logika, dan Aristoteles
dipandang selaku pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hal ini
sebetulnya berkat sifat logis dari cara berfikir Aristoteles yang
memungkinkannya mampu mempersembahkan begitu banyak bidang ilmu. Dia punya
bakat mengatur cara berfikir, merumuskan kaidah dan jenis-
jenisnya yang kemudian jadi dasar berpikir di banyak bidang ilmu
pengetahuan. Aristoteles tak pernah kejeblos ke dalam rawa-rawa
mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh
mengutarakan pendapat-pendapat praktis. Sudah barang tentu, manusia
namanya, dia juga berbuat kesalahan. Tetapi, sungguh menakjubkan
sekali betapa sedikitnya kesalahan yang dia bikin dalam ensiklopedi
yang begitu luas.
Dasar ajaran Aristoteles tentang
logika berdasrkan atas ajaran tentang jalan pikiran (ratio-cinium) dan bukti.
Jalan pikiran itu baginya berupa syllogismus (silogisme), yaitu putusan dua
yang tersusun sedmikian rupa sehingga melahirkan putusan yang ketiga. Untuk
dapat menggunakan syllogismus dengan benar, seseorang harus tahu bena sifat
putusan itu.[9]
Silogisme Aristoteles, sebuah
perjalanan logika deduktif yang amat panjang sejak 2500 tahun yang silam, sejak
Aristoteles dilahirkan di Stagira 384 SM. Namun, logika ini akan tetap
aktual dalam perjalanan manusia mencari makna diri di alam semesta ini, bahkan
sesungguhnya silogisme Aristoteleslah yang mendasari prinsip-prinsip Antropik
Kosmos (Cosmic Anthropic Principles). Konsep silogisme Aristoteles
adalah konsep dasar tatkala kesadaran manusia harus menapak awal melihat
fenomena alam semesta dan mulai menganalisa keajaiban kehidupan bumi, kemudian
manusia menyadari bahwa dirinya sendiri akan menjadi tiada seperti spesies
makhluk hidup lainnya, mortal.
Silogisme Aristoteles lebih
mudah difahami dari persamaan matematika berikut :[10]
jika A = B dan B = C maka A =
C
|
A |
B |
C |

Jika dikaitkan dengan silogisme
Aristoteles diatas, maka inilah pertanyaan-pertanyaan abadi tentang kesadaran
manusia :
- ika kita harus berkata bahwa kesadaran manusia itu
lahir dari kegelapan goa goa awal peradaban manusia, maka adalah logis jika
suatu hari kelak kita akan lahir kembali dalam kondisi yang sama, kegelapan di
goa awal peradaban. Dalam bentuk silogisme Aristoteles A = B = C.
-
100.000 tahun lalu, dimana kesadaran semesta itu
berada? Apakah masih berevolusi dalam diri dalam spesies Homo Erectus?
- 10.000 tahun lalu, peradaban manusia lantas muncul
dan sampai saat ini, apakah yang sebenarnya terjadi pada 200 milyar sel syaraf
spesies manusia? Angka 10,000 tahun adalah tidak sebanding dengan 3 juta tahun
atau 4.5 milyar tahun yang silam untuk menyatakan bahwa kesadaran manusia itu
baru memulai evolusi. Angka 10,000 tahun lebih tepat kita lihat sebagai
fenomena revolusi kesadaran semesta dari munculnya kesadaran manusia.
- Sederhananya bandingkan 200 milyar sel syaraf manusia
itu dengan sebuah transformator listrik. Jika input transformator adalah fungsi
tegangan/arus/frekwensi listrik A maka outputnya adalah fungsi
tegangan/arus/frekwensi B. Sedangkan input dari 200 milyar sel-syaraf kita
adalah suatu 'Dimensi Kesadaran Semesta' yang memang kekal eksistensinya
melihat 'Masa Depan Semesta' sebagai ouputnya. Fungsi kesadaran manusia adalah
untuk melihat Masa Depan Semesta sambil 'bermain-main' di Bumi ini, tetapi
bukan untuk mengeksekusi Semesta Kosmos sejauh 13.7 milyar tahun
cahaya.
- Kita bertemu di bumi berbangsa-bangsa berbeda bahasa
adalah untuk memahami bahwa Bumi tinggal Satu untuk kelak menghadap Sang
Pencipta. Pada akhirnya manusia akan faham bahwa Logika Hari Kiamat adalah
realitas indahnya Keabadian Kesadaran Semesta, betapapun perbedaan kita dalam
bermimpi tentang makna keabadian.
|
Fungsi Kesadaran Semesta >> |
200 milyar sel-syaraf manusia |
>> Fungsi Masa Depan Semesta
|
|
Fungsi (V,I,f,A) >> |
transformator listrik |
>> Fungsi (V,I,f,B) |
Tatkala kesadaran manusia harus
muncul dan tumbuh, maka mulailah kita mencari asal muasal kesadaran itu muncul.
Kesadaran kita akan selalu mengarah kepada penyederhanan dan penyederhanaan
dari kompleksitas observasi seorang manusia seperti Aristoteles. Solusinya
adalah membuat sistematika yang logis dengan cara membuat klasifikasi, inilah
cara berfikir logis sang jenius Aristoteles tanpa mikroskop dan tanpa teleskop
disampingnya. Kita membayangkan pribadi pribadi pengamat kosmos seperti
Plato, Socrates, atau Aristoteles yang harus berfikir tentang alam semesta
tanpa penemuan dasar seperti mikroskop, teleskop, atau mesin cetak Gutenberg,
maka hasilnya berupa istilah klasifikasi orisinal mereka seperti
analytica, dialectica, physica, matematica , scientifica, etica,
politica, medica adalah penemuan luar biasa. Lucunya saat kini kita seolah
kembali ke cara berfikir ala Aristoteles dimana pada saat ini fitrah manusia
millennium mengalami ‘kebuntuan kosmologi’ dalam menyimpulkan angka
13,700,000,000 tahun cahaya. Lantas apa maknanya silogisme Aristoteles 2500
tahun silam dan prinsip antropika millennium dalam memandang kosmos. Jangan
jangan Aristoteles-lah yang benar bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan
paling tidak kesadaran manusia di bumi adalah satu satunya kesadaran yang pernah
ditemukan di alam semesta, jadi barangkali bumi-lah pusat kesadaran kosmos
semesta. Karena Sang Pengamat Kosmos cuma Satu adanya di Bumi, Sang
Manusia. Quo Vadis Aristoteles.
Oleh karena itu, logika dapat
dimengerti sebagai kerangka atau peralatan teknis yang diperlukan manusia agar
penalarannya berjalan dengan tepat. Dasar logika Aristoteles adalah uraian
keputusan yang kita temukan dalam bahasa (“the analysis of judgement as
found and expressed in human language”).[11]
Dalam bahasa moderen, logika Aristoteles dapat dikatakan menggabungkan unsur
empiris-induktif dan rasional-deduktif.
E. Filsafat Pengetahuan
Filsafat tentang logika diatas
menjadi dasar filsafat pengetahuan. Selain berjasa dalam membangun logika,
Aristoteles juga berjasa dalam usahanya untuk menggambarkan tahbapan-tahapan
kemajuan pengetahuan manusia. Menurutnya, pengetahuan dimulai dengan tahapan
inderawi yang selalu partikular. Tahapan pengetahuan selanjutnya adalah
abstraksi menuju pengetahuan akal budi yangbercirikan universal.
Dalam hal ini, filsafat pengetahuan
Aristoteles merupakan kebalikan dari filsafat pengetahuan Plato. Dasar filsafat
pegetahuan Aristoteles bukanlah intuisi, tetapi abstraksi. Oleh karena itu,
benar bila dikatakan bahwa Aristoteles tidak selalu sepaham dengan gurunya
sendiri, Plato, bahkan mungkin bertentangan.
F. Filsafat Metafisika
Menurut Aristoteles, Nous atau akal
budi merupakan bagian yang paling mulia dalam diri manusia. Oleh karena itu,
dalam ajaran Aristoteles, unsur-unsur filsafat ke-Tuhanan bertitik pangkal
dariuraian kemampuan akal budi manusia itu. Dalam hal ini Aristoteles mencari
dasar uraiannya dalam pengamatan inderawi di dunia yang berubah-ubah. Dia
mengamati gerak, dan sampai kepada kesimpulan bahwa ada penggerak. Ia kemudian
juga menyimpulkan bahwa ada “yang menggerakkan tanpa digerakkan sendiri”.
Jalan pikiran Aristoteles itu
diterapkan oleh Thomas Aquinas dalam “panca marga” (quinque viae) guna
menyatakan adanya Tuhan berdasarkan pengalaman dan penalaran filosofis.
G. Pengaruh Pemikirannya
Pengaruh Aristoteles terhadap cara
berpikir Barat di belakang hari
sungguh mendalam. Di zaman dulu dan zaman pertengahan, hasil karyanya
diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis,
Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul
kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium mempelajari karyanya
dan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu juga dicatat, buah
pikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan berabad-
abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat. Ibnu
Rusyd (Averroes), mungkin filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba
merumuskan suatu perpaduan antara Teologi Islam dengan
rasionalisme Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka
Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Tetapi,
hasil kerja paling gemilang dari perbuatan macam itu adalah Summa
Theologia-nya cendikiawan Nasrani St. Thomas Aquinas. Di luar daftar
ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang
terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.
Kekaguman orang kepada Aristoteles
menjadi begitu melonjak di akhir
abad tengah tatkala keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala.
Dalam keadaan itu tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam
bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan problem lebih lanjut
daripada semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang gemar
meneliti dan memikirkan ihwal dirinya tak salah lagi kurang sepakat
dengan sanjungan membabi buta dari generasi berikutnya terhadap
tulisan-tulisannya.
Beberapa ide Aristoteles kelihatan
reaksioner diukur dengan kacamata
sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya
sejalan dengan garis hukum alam. Dia percaya kerendahan martabat
wanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini--tentu saja-–mencerminkan
pandangan yang berlaku pada zaman itu. Tetapi, tak kurang pula
banyaknya buah pikiran Aristoteles yang mencengangkan modernnya,
misalnya kalimatnya, “Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan
kejahatan,” dan kalimat “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam
seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium
tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya.” (Tentu saja, waktu itu
belum ada sekolah seperti yang kita kenal sekarang).
Di abad-abad belakangan, pengaruh dan
reputasi Aristoteles telah
merosot bukan alang kepalang. Namun, ada yang berpikir bahwa pengaruhnya sudah begitu
menyerap dan berlangsung begitu lama sehingga saya menyesal tidak bisa
menempatkannya lebih tinggi dari tingkat urutan seperti sekarang ini. Tingkat
urutannya sekarang ini terutama akibat amat
pentingnya ketiga belas orang yang mendahuluinya dalam urutan.
H. Kesimpulan
Dari uraian pada paragraf-paragraf
diatas, dapat disimpulkan bahwa Aristoteles mempunyai dasar-dasar ajaran
tentang filsafat yang kemudian banyak berkembang di Barat. Meskipun demikian,
ada juga cendekiawan muslim yang terpengaruh oleh pemikiran filsafatnya.
Dalam filsafatnya, Aristoteles
bertitik tolak dari apa yang dia amati dalam hidup manusia dan hidup
masyarakat. Dari praksis nyata dan data-data, dia kemudian menyimpulkan menjadi
suatu theoria yang meliputi segala data pengamatan itu.
Karya Aristoteles yang cukup banyak
mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan. Selain mengajarkan tentang filsafat
logika, filsafat pengetahuan, dan filsafat metafisika, Aristoteles juga
mengajarkan filsafat etika, filsafat negara, filsafat manusia dan sebagainya.
Hal ini menunjukkan bahwa Aristoteles merupakan tokoh yang luas ilmu pengetahuannya dan merupakan
ilmuwan yang pantas mendapatkan acungan jempol.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
DAFTAR PUSTAKA
Bambrough, Renford, Ed.
The
Philosophy of
Brill’s., E.J. , First Encyclopaedia
of Islam 1913-1936, Vol. I, Leiden :
E.J. Brill, 1993.
Durant, Will Ross, The
Story of
Hart, Michael H, Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam
Sejarah, Terjemahan Mahbub Djunaidi, Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1983.
Rapar, J.H., Filsafat Politik Aristoteles,
Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993.
Safra, Jacop E., The New Encyclopaedia Britannica, Vol.
I, Edisi ke
15, Chicago : Encyclopaedia Britannica Inc, 2005.
Kaptain, Justin D., ed., The
Pocket
Poedjawijatna, Pembimbing
Ke Arah Alam Filsafat,
Sutrisno,
Mudji dan Hardiman, Budi, Ed., Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta : Kanisius, 1992.
Dari Situs Internet :
http://www.geocities.com/memorigin/Aristoteles.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle
http://id.wikipedia.org/wiki/Aristoteles
[1] Michael H. Hart, Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Terjemahan Mahbub Djunaidi, (Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1983), hal. 101.
[2] E.J. Brill’s. First Encyclopaedia of Islam 1913-1936, Vol. I, (Leiden : E.J. Brill, 1993), hal. 432.
[3] Jacop E. Safra, The New Encyclopaedia Britannica, Vol. I, Edisi ke 15, (Chicago : Encyclopaedia Britannica Inc, 2005), hal. 556.
[4] J.H. Rapar, Filsafat Politik Aristoteles, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993), hal.1-2.
[5]Jacop E. Safra, The New Encyclopaedia Britannica, Vol. I, Edisi ke 15, (Chicago : Encyclopaedia Britannica Inc, 2005), hal. 556.
[6] Justin D. Kaptain, ed., The Pocket Aristotle, (New York : Pocket Books, 1958), hal. xv. Lihat pula J.H. Rapar, Filsafat Politik Aristoteles, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993), hal. 7-8.
[7] Will Ross Durant, The Story of Philosphy, (New York : Pocket Books, 1953), hal. 35.
[8] Renford Bambrough, Ed. The Philosophy of Aristotle, (New York : New American Library, 1963), hal. 22.
[9] Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005), hal. 36-37.
[10] Sumber: http://www.geocities.com/memorigin/Aristoteles.htm
[11] Mudji Sutrisno dan Budi Hardiman, Ed., Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, (Yogyakarta : Kanisius, 1992), hal. 20-21.
pada resolusi layar 1024 x 768 pixel

