![]() |
![]() |
Eksternal Link
Kalender Akademik
Kontak OnlineLibur Idul Fitri 1431 H
Tgl. 03-Sep-10 s/d 19-Sep-10
Tgl. 03-Sep-10 s/d 19-Sep-10
Beranda » Artikel
Mencermati Makna Istitha'ah Ibadah Haji
H. Syukron Makmun, M.A.
Oleh karenanya faktor istitha’ah dan bekal taqwa kepada Allah merupakan persyaratan mutlak yang ditentukan Allah agar dapat menjalankan dengan sempurna sehingga mendapat predikat haji yang mabrur dapat disandang oleh calon jemaah yang bersangkutan.
Ketaqwaan hanya dapat diraih dengan muraqabatullah (mendekati Allah) dengan cara meningkatkan kwalitas beribadah kepada Allah SWT dan pemahaman terhadap ajaran-Nya. Sehingga syariat Allah tidak hanya terdapat dalam qur’an dan sunnah Rasulullah saja, tetapi nampak dalam kehidupan nyata. Ini semua perlu perjuangan di jalan Allah demi meraih ridha-Nya.
Ibadah haji selain merupakan ibadah panggilan Ilahi untuk ditunaikan pada saatnya, ia juga diletakkan pada rukun Islam yang kelima. Tidaklah berlebihan bila di dalam ibadah haji terdapat akumulasi ibadah-ibadah murni sebelumnya diantaranya:
Pertama, pengakuan terhadap Allah adalah Tuhan yang berhak disembah dan Muhammad SAW sebagai panutannya (hakekat syahadat).
Kedua, kesetiaan selalu ingin bersama Allah SWT sumber segala kebaikan, kedamaian, kasih saying, keselamatan, kebahagiaan dan lain sebagainya (hakekat shalat).
Ketiga, kesadaran akan hakekat harta untuk diinfakkan atau disalurkan kepada hamba Allah yang butuh pertolongan (hakekat zakat).
Keempat, kesadaran akan hakekat memelihara keseimbangan jasmani dan ruhani, materi dan immateri, pribadi dan masyarakat (hakekat puasa).
Kelima, kesediaan dan kesiapan niat, jiwa, harta dan nyawa untuk berjuang dan berkorban untuk menyaksikan berbagai macam tanda-tanda kebesaran Allah pada suatu tempat dan waktu yang telah ditentukan-Nya dan manusia pilihan-Nya.
Hal ini bila disadari oleh setiap jamaah haji akan lahir prilaku muslim yang senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran dan kebaikan untuk membawa rahmat bagi umat manusia umumnya dan diri jamaah khususnya.
Ada beberapa aspek ibadah haji antara lain:
Dalam pengamalan ibadah haji amat diperlukan penegasan niat ibadah benar-benar hanya untuk Allah dan di jalan Allah (lillah dan fillah) mengingat pengorbanan dan perjuangan yang di kerahkan tidaklah sedikit bila oreintasi salah akan berdampak kepada kwalitas keimanan seseorang untuk mendapatkan haji yang mabrur (setia kepada Allah baik dalam perbuatan, perkataan sehingga terpancar kebaikan darinya kepada orang lain) tidak tercapai oleh orang tersebut.
Di samping itu agar niat tidak keluar dari jalan yang diridhai Allah SWT, diperlukan juga larangan atau peraturan yang harus ditinggalkan dan tidak boleh dilanggar. Pelanggaran-pelanggaran terhadap tuntunan akan mendapatkan sangsi, denda atau teguran langsung dari Allah SWT melalui kejadian-kejadian di luar logika manusia.
Memang sulit digambarkan bila seluruh manusia berkumpul pada suatu tempat dan waktu yang sama tanpa memiliki bekal yang cukup baik secara materi (biaya,sarana dan prasarana) maupun immateri (ilmu, keimanan, toleransi, kepeduliaan, kerelaan untuk berkorban serta berbagi kepada sesama) sulit sekali untuk mendapatkan predikat haji mabrur yang sesuai yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena selain harus menyadari bahwa kedatangan mereka sebagai tamu Allah yang dipanggil sesuai dengan kehendak-Nya, ia juga harus menjalankan dengan penuh ketundukkan, kepatuhan semata-mata karena-Nya. Disisi lain ia juga harus menyadari bahwa meskipun panggilan Allah SWT namun peran serta dan keterlibatan manusia dalam memenuhi panggilan tersebut tidak bias diindahkan. Oleh karenanya sebagai tamu Allah di tempat yang dimuliakan oleh Allah dan rasul-Nya hendaknya sikap hormat-menghormati, menghargai, menyayangi, tolong-menolong, saling membantu dan tidak menzalimi harus tetap dipelihara oleh semua manusia terutama kepada tamu-tamu Allah.
Rasulullah pernah mengingatkan akan datang pada suatu masa di dalam ummatku ketika orang-orang kaya berhaji sekedar untuk bertamasya (rekreasi), orang-orang menengah dalam tingkat ekonominya berhaji sekedar untuk berdagang (berniaga), orang-orang yang pintar berhaji sekedar untuk dipandang (riya) dan disebut nama baiknya (sum’ah), dan orang-orang miskin berhaji sekedar untuk meminta-minta ( belas kasihan) orang lain.
Peristiwa/masalah apa pun yang terjadi di sana, hendaknya seorang hamba mengintrofeksi kembali amal ibadah dan muamalah sesama manusia dihadapan Allah, apakah dihadapi dengan penuh keimanan, keikhlasan, kesabaran, kasih sayang saling menghargai dan ketundukkan mutlak kepada syiar-syiar Allah (wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar dan bermalam di Mina serta kembali untuk tawaf dan sa’i di masjid al-Haram) bahkan di dalamnya terdapat rumah suci Ka’bah al-Mukarramah.
Akhir dari ritual ibadah haji akan lahir akhlakul karimah dari pribadi muslim yang shaleh (pribadi yang memelihara hak Allah dan menghormati hak sesama manusia) untuk tetap berjuang mempertahankan keyakinan dan agama Islam yang diridhai-Nya sehingga menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Amin.
H. Syukron Makmun, M.A.
Allah Swt berfirman:
Ibadah haji merupakan panggilan Allah kepada hamba yang dikehendaki oleh-Nya untuk menunaikan suatu ibadah dengan mengerahkan segala kemampuan baik harta (untuk biaya ongkos perjalanan, bekal yang ditinggalkan dan jaminan tanggungannya), kesehatan, adanya alat transportasi, akomodasi, konsumsi dan juga factor keamanan perjalanan. Bagi calon jemaah haji biasa tahun 2002-2003 setidaknya menyiapkan uang 30 juta an untuk ongkos ibadah haji + ikut dalam suatu yayasan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Selain itu, perlu juga disiapkan uang bekal tambahan, walimatussafar, dana untuk keluarga yang ditinggalkan, kesemuanya itu relative sesuai dengan kemampuan. Namun demikian adanya kemampuan tersebut, belum sempurna bila tidak dibekali dengan ketaqwaan kepada Allah SWT. Watazawwadu fainna khaira zadittaqwa.وأتموا الحج والعمرة لله ,ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا
Oleh karenanya faktor istitha’ah dan bekal taqwa kepada Allah merupakan persyaratan mutlak yang ditentukan Allah agar dapat menjalankan dengan sempurna sehingga mendapat predikat haji yang mabrur dapat disandang oleh calon jemaah yang bersangkutan.
Ketaqwaan hanya dapat diraih dengan muraqabatullah (mendekati Allah) dengan cara meningkatkan kwalitas beribadah kepada Allah SWT dan pemahaman terhadap ajaran-Nya. Sehingga syariat Allah tidak hanya terdapat dalam qur’an dan sunnah Rasulullah saja, tetapi nampak dalam kehidupan nyata. Ini semua perlu perjuangan di jalan Allah demi meraih ridha-Nya.
Ibadah haji selain merupakan ibadah panggilan Ilahi untuk ditunaikan pada saatnya, ia juga diletakkan pada rukun Islam yang kelima. Tidaklah berlebihan bila di dalam ibadah haji terdapat akumulasi ibadah-ibadah murni sebelumnya diantaranya:
Pertama, pengakuan terhadap Allah adalah Tuhan yang berhak disembah dan Muhammad SAW sebagai panutannya (hakekat syahadat).
Kedua, kesetiaan selalu ingin bersama Allah SWT sumber segala kebaikan, kedamaian, kasih saying, keselamatan, kebahagiaan dan lain sebagainya (hakekat shalat).
Ketiga, kesadaran akan hakekat harta untuk diinfakkan atau disalurkan kepada hamba Allah yang butuh pertolongan (hakekat zakat).
Keempat, kesadaran akan hakekat memelihara keseimbangan jasmani dan ruhani, materi dan immateri, pribadi dan masyarakat (hakekat puasa).
Kelima, kesediaan dan kesiapan niat, jiwa, harta dan nyawa untuk berjuang dan berkorban untuk menyaksikan berbagai macam tanda-tanda kebesaran Allah pada suatu tempat dan waktu yang telah ditentukan-Nya dan manusia pilihan-Nya.
Hal ini bila disadari oleh setiap jamaah haji akan lahir prilaku muslim yang senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran dan kebaikan untuk membawa rahmat bagi umat manusia umumnya dan diri jamaah khususnya.
Ada beberapa aspek ibadah haji antara lain:
- Aspek Ibadah, yaitu ditentukan oleh adanya persyaratan kemampuan dan terkandung akumulasi ibadah-ibadah murni sebelumnya sebagai ketundukan, kepatuhan dan ketaatan manusia kepada Allah SWT.
- Aspek Jiwa, yaitu suatu kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata karena pada saat itu termasuk tamu Allah yang dipanggil untuk menunaikan ibadah haji sebagai puncak rukun Islam yang kelima.
- Aspek Etika, yaitu terkandung pengakuan terhadap jasa-jasa manusia pilihan Allah; Nabi Adam As, Ibrahim As, Ismail As dan Muhammad SAW juga menjadi mereka sebagai panutan.
- Aspek Politik, yaitu berkumpulnya seluruh umat Islam se-dunia di suatu tempat.
- Aspek Ekonomi, yaitu terjadinya transaksi global dalam suatu negara
- Aspek Historis, yaitu tapak tilas peradaban manusia yang taat kepada Tuhannya dari suatu tempat ke tempat lain dan dari suatu waktu ke waktu selanjutnya melalui gerakan, perpindahan, doa dan dzikir kepada Allah SWT.
Dalam pengamalan ibadah haji amat diperlukan penegasan niat ibadah benar-benar hanya untuk Allah dan di jalan Allah (lillah dan fillah) mengingat pengorbanan dan perjuangan yang di kerahkan tidaklah sedikit bila oreintasi salah akan berdampak kepada kwalitas keimanan seseorang untuk mendapatkan haji yang mabrur (setia kepada Allah baik dalam perbuatan, perkataan sehingga terpancar kebaikan darinya kepada orang lain) tidak tercapai oleh orang tersebut.
Di samping itu agar niat tidak keluar dari jalan yang diridhai Allah SWT, diperlukan juga larangan atau peraturan yang harus ditinggalkan dan tidak boleh dilanggar. Pelanggaran-pelanggaran terhadap tuntunan akan mendapatkan sangsi, denda atau teguran langsung dari Allah SWT melalui kejadian-kejadian di luar logika manusia.
Memang sulit digambarkan bila seluruh manusia berkumpul pada suatu tempat dan waktu yang sama tanpa memiliki bekal yang cukup baik secara materi (biaya,sarana dan prasarana) maupun immateri (ilmu, keimanan, toleransi, kepeduliaan, kerelaan untuk berkorban serta berbagi kepada sesama) sulit sekali untuk mendapatkan predikat haji mabrur yang sesuai yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena selain harus menyadari bahwa kedatangan mereka sebagai tamu Allah yang dipanggil sesuai dengan kehendak-Nya, ia juga harus menjalankan dengan penuh ketundukkan, kepatuhan semata-mata karena-Nya. Disisi lain ia juga harus menyadari bahwa meskipun panggilan Allah SWT namun peran serta dan keterlibatan manusia dalam memenuhi panggilan tersebut tidak bias diindahkan. Oleh karenanya sebagai tamu Allah di tempat yang dimuliakan oleh Allah dan rasul-Nya hendaknya sikap hormat-menghormati, menghargai, menyayangi, tolong-menolong, saling membantu dan tidak menzalimi harus tetap dipelihara oleh semua manusia terutama kepada tamu-tamu Allah.
Rasulullah pernah mengingatkan akan datang pada suatu masa di dalam ummatku ketika orang-orang kaya berhaji sekedar untuk bertamasya (rekreasi), orang-orang menengah dalam tingkat ekonominya berhaji sekedar untuk berdagang (berniaga), orang-orang yang pintar berhaji sekedar untuk dipandang (riya) dan disebut nama baiknya (sum’ah), dan orang-orang miskin berhaji sekedar untuk meminta-minta ( belas kasihan) orang lain.
Peristiwa/masalah apa pun yang terjadi di sana, hendaknya seorang hamba mengintrofeksi kembali amal ibadah dan muamalah sesama manusia dihadapan Allah, apakah dihadapi dengan penuh keimanan, keikhlasan, kesabaran, kasih sayang saling menghargai dan ketundukkan mutlak kepada syiar-syiar Allah (wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar dan bermalam di Mina serta kembali untuk tawaf dan sa’i di masjid al-Haram) bahkan di dalamnya terdapat rumah suci Ka’bah al-Mukarramah.
Akhir dari ritual ibadah haji akan lahir akhlakul karimah dari pribadi muslim yang shaleh (pribadi yang memelihara hak Allah dan menghormati hak sesama manusia) untuk tetap berjuang mempertahankan keyakinan dan agama Islam yang diridhai-Nya sehingga menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Amin.
Gunakan FireFox untuk tampilan maksimal
pada resolusi layar 1024 x 768 pixel
pada resolusi layar 1024 x 768 pixel

