Kehati-hatian Dengan Prasangka

TADABBUR AL QURAN

Ditulis oleh: Much Hasan Darojat

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah Jakarta (STAIDA)

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Yunus: 36)

Ayat diatas menjelaskan posisi orang-orang kafir yang menolak kebenaran dari Allah Swt. Mereka sekedar menduga-menduga kebenaran tersebut. Hal ini sama sekali tidak memberikan apa-apa terhadap kebenaran yang bersumber dari Allah Swt. Segala yang mereka sangkakan terhadap sesembahan mereka hanyalah perkiraan yang tidak berkonsekuensi apapun terhadap kebenaran dari Allah swt.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima informasi berbagai hal. Tidak semuanya kita baca secara detail. Kita memilah dan memilih informasi sesuai yang kita perlukan. Untuk itu, kita perlu cermat dalam melihat banyaknya berita yang bermunculan di sekitar kita.

Dalam mensikapi kondisi di atas, ada beberapa orang yang cenderung cepat mengambil kesimpulan dan kurang memahami secara detail isi suatu berita. Mereka begitu cepat berkesimpulan terhadap masalah yang ada dan hanya menduga-duga saja. Tidak memahami dengan baik seluk beluknya yang akhirnya terjebak gagal paham. Mereka hanya berprasangka bahwa hal itu cukup pada tataran yang terlihat tanpa memperhatikan aspek lain. Seolah-olah itu sudah selesai.

Banyaknya dugaan dan prasangka yang menjadi pijakan dalam memutuskan suatu permasalahan, akan berisiko pada hasil keputusan yang tidak matang. Sesungguhnya usaha itu sia-sia saja, karena tidak akan menuntaskan masalah yang sebenarnya sedang terjadi. Allah Swt. telah memberikan kebenaran yang bisa dipelajari dari Rasul-Nya yang agung, Muhammad Saw. Beliau banyak mengajarkan kepada kita untuk berhati-hati dalam merespon kenyataan hidup. Tidak terburu-buru dan sekedar prasangka dengan perasaan kita. Prasangka kita terkadang dibarengi dengan latar belakang kondisi psikologis kita yang sedang terjadi. Apabila tenang dan nyaman akan menunjukkan prasangka yang baik. Namun sebaliknya, jika sedang kurang stabil dan menghadapi masalah serius, maka muncul perasaan yang buruk. Seperti ungkapan seorang syair (إذا ساء فعل المرء ساءت ظنونه) “apabila perilaku seseorang itu buruk maka buruk pula prasangkanya.”

Untuk itu, marilah kita mendudukkan segala permasalahan yang ada pada porsinya sesuai dengan pemahaman kita yang benar tidak sekedar dugaan dan prasangka.